Pembelajaran Etnomatematika Dibutuhkan Generasi Milenial

Pembicara seminar saat memaparkan seputar etnomatematika bagi generasi milenial. (MERAPI-SULISTYANTO)

GENERASI milenial adalah generasi yang mengalami transformasi kehidupan dari modern menuju era kontemporer dengan berbagai permasalahan yang dihadapi. Pembelajaran berbasis etnomatematika yang dikemas dengan berbagai teknologi digital dianggap mampu dan sesuai dengan kebutuhan generasi milenial.

Demikian diungkap, Direktur Program Pascasarja UNY, Prof  Dr Marsigit MA saat menjadi pembicara Seminar Pendidikan Matematika dan Pameran Alat Peraga ‘Etnomatematika Bagi Generasi Milenial’ di Kampus 1 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Jalan Wates Bantul, Minggu (25/11) lalu. Lebih lanjut Dr Marsigit menjelaskan, etnomatematika dalam pembelajaran matematika mempunyai beragam fungsi, misalnya menyediakan berbagai sumber belajar barbasis budaya.

“Fungsi lainnya seperti menyediakan sumber pembangun konsep matematika, objek-objek penyelidikan matematika sekolah, konteks yang menghubungkan konsep-konsep matematika,  sumber referensi untuk pemecahan masalah matematika, konteks komunikasi matematika, dan menyediakan referensi pembuktian matematika sekolah,” papar Marsigit yang juga sebagai Presiden Ethnomath Association.

Ditambahkan, para guru dan calon guru yang menempuh kuliah di S1 atau S2 Pendidikan Matematika dapat diberi kesempatan untuk menguasai dan mampu menggali, mengidentifikasi, ide-ide baik pemikiran maupun praktik yang dikembangkan oleh semua kalangan budaya sekitar, baik bersifat statis maupun dinamis yang berkembang dan merupakan warisan dari nenek moyang hingga saat kini, misalnya  yang berupa artefak, karya sastra maupun tradisi.

Pembicara lainnya, Dr Dafid Slamet Setiana MPd (dosen Pendidikan Matematika UST) menjelaskan, etnomatematika dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang digunakan untuk memahami bagaimana matematika diadaptasi dari sebuah budaya dan berfungsi untuk mengekspresikan hubungan antara budaya dan matematika . Tujuannya antara lain agar keterkaitan antara matematika dan budaya bisa lebih dipahami. Selain itu persepsi siswa/mahasiswa dan masyarakat tentang matematika menjadi lebih tepat.

“Pembelajaran matematika juga bisa lebih disesuaikan dengan konteks budaya siswa/mahasiswa dan masyarakat, matematika bisa lebih mudah dipahami karena tidak lagi dipersepsikan sebagai sesuatu yang asing. Selain itu aplikasi dan manfaat matematika bagi kehidupan siswa/mahasiswa serta masyarakat luas lebih dapat dioptimalkan,” urainya.

Sementara itu menurut ketua panitia seminar, Ni Nyoman Triani, kegiatan yang diprakarsai Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) UMBY tersebut digelar untuk memperingati Hari Guru 2018. Hadir dalam kesempatan ini antara lain Wakil Dekan FKIP UMBY Agustinus Hary Setyawan SPd MA, Kaprodi Pendidikan Matematika Heru Sukoco SSi MPd serta 160 peserta seminar terutama mahasiswa dan dosen dari berbagai universitas. Sebagai moderator mahasiswa Pendidikan Matematika UMBY yang sudah mempunyai banyak prestasi, Zona Asha Tigara.

“Selain seminar kami juga mengadakan pameran alat peraga matematika karya dari mahasiswa Pendidikan Matematika UMBY,” jelasnya. (Yan)

Read previous post:
Terpaksa Menikah karena Hamil Duluan

WATES (MERAPI) - Pernikahan dini masih terus terjadi di Kulonprogo. Ironisnya, para remaja di bawah umur menikah bukan didasari rasa

Close