RUANG TERBUKA HIJAU DUSUN BANARAN DIRESMIKAN – Bupati: Wujudkan Kawasan Bebas Kumuh

MERAPI-AWAN TURSENO Sri Purnomo didampingi Sri Muslimatun dan Damanhuri memotong pita menandai peresmian pembangunan Ruang Terbuka Hijau.
MERAPI-AWAN TURSENO
Sri Purnomo didampingi Sri Muslimatun dan Damanhuri memotong pita menandai peresmian pembangunan Ruang Terbuka Hijau.

MLATI (MERAPI) – Warga Dusun Banaran, Sendangadi, Mlati kini telah memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH). Lokasi yang berada di bantaran Kali Doso tersebut merupakan tahap kedua setelah sebelumnya membangun Ruang Terbuka Publik (RTP) melalui anggaran program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Peresmian dilakukan oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo, Minggu (25/11).

Ketua Panitia, Heru Sehono menjelaskan, program Rencana Penataan Permukiman Kumuh (RPPK) di Dusun Banaran telah dimulai dengan pembangunan Ruang Terbuka Publik. Untuk tahun 2018 selain membangun RTH juga dilakukan pembangunan infrastruktur pemasangan paving cor blok dan pembuatan gudang alat di RT 02, pembuatan bank sampah di RT 03 serta perbaikan jembatan di RT 01.

Dijelaskan, proses pengerjaan memakan pembangunan tersebut memakan waktu 180 hari dimulai pada 28 Mei-24 September 2018. Meskipun belum sempurna, tetapi program RPPK di dusun tersebut telah mencapai sekitar 70 persen.

RTH sebelum ditata kondisinya terlihat kotor karena untuk membuang sampah masyarakat. Tanah wedi kengser di tepi Kali Doso ini kini telah berubah menjadi lokasi tempat bermain dan berwisata yang bersih.

“Kedepan, lokasi ini akan terus dikembangkan dengan konsep taman air, baik untuk sarana olah raga air, pemancingan maupun obyek lain,” imbuhnya.

Kepala Desa Sendangadi, Damanhuri menyampaikan, pembangunan RPPK tersebut berasal dari Kemeterian PUPR program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) sebesar Rp 1,25 miliar. Tetapi anggaran tersebut tidak langsung ke desa namun dilewatkan Pemerintah Kabupaten Sleman.

Direncanakan, tahun berikutnya desa akan mengalokasikan anggaran untuk pengembangan lokasi lain yang masih tergolong kumuh. Sehingga tercapai kawasan yang bersih, sejuk dan nyaman.

Pada kesempatan tersebut Sri Purnomo menjelaskan, pemerintah pusat telah mencanangkan di akhir tahun 2019 program 100-0-100. Artinya, 100 persen masyarakat mendapatkan pelayanan air bersih, 0 (kosong) artinya terbebas dari daerah kumuh dan 100 persen masyarakat memiliki tempat tinggal yang layak.

Untuk itu Sri Purnomo berharap, setelah diresmikan beberapa pembangunan terkait program Kotaku, masyarakat agar terus menjaga serta menciptakan lingkungan bersih. Pasalnya, kondisi tersebut membutuhkan komitmen bersama masyarakat terutama kesepakatan dan kesepemahaman.

“Dengan mengedepankan rasa memiliki maka harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Sedangkan yang masih dianggap kumuh agar dikelola bersama-sama agar terwujud kawasan bebas kumuh,” tuturnya.

Sri Purnomo berpesan, setelah melaksanakan progran tersebut, masyarakat agar tidak membuang lagi sampah secara sembarangan. Sampah yang tidak dapat terurai dilingkungan menyebabkan pencemaran lingkungan baik tanah maupun sungai. Sehingga berdampak pada lingkungan kotor serta dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. (Awn)

 

Read previous post:
WARGA GILING LAKUKAN GUGUR GUNUNG – 12 Desa Belum Cairkan Dana Desa 2018

PATI (MERAPI) - Ratusan warga desa Giling kecamatan Gunungwungkal gugur gunung untuk membuat jalan baru, Minggu (25/11). Melalui program Padat

Close