SIDANG KASUS PERUSAKAN PN BANTUL, ANGGOTA ORMAS PP BANDING-Aksi Solidaritas Berujung Vonis 1 Tahun

MERAPI-YUSRON MUSTAQIM Terdakwa ketika mendengarkan putusan majelis dalam sidang di PN Bantul
MERAPI-YUSRON MUSTAQIM
Terdakwa ketika mendengarkan putusan majelis dalam sidang di PN Bantul

BANTUL (MERAPI)- Terbukti melakukan perusakan fasilitas Pengadilan Negeri Bantul, anggota ormas Pemuda Pancasila (PP) Bantul, Novi Kurniawan alias Tompel (21) warga Benyo Sendangadi Pajangan Bantul divonis 1 tahun penjara potong masa tahanan dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN)) Bantul, Senin (19/11). Padahal, terdakwa melakukan perusakan sebagai aksi solidaritas karena rekannya, Doni Bimo Saptoto dijatuhi hukuman 5 bulan penjara dengan masa percobaan 9 bulan.
Vonis yang dijatuhkan majelis hakim diketuai Agung Sulistiyono SH SSos MHum terhadap Tompel ini lebih berat dari tuntutan jaksa Arif Panjiwilogo SH yang sebelumnya menuntut 8 bulan penjara. Atas putusan yang dijatuhkan, terdakwa langsung menyatakan banding.
Majelis hakim menyatakan perbuatan terdakwa terbukti bersalah dan meyakinkan melanggar pasal 406 ayat 1 KUHP. Hal-hal yang memberatkan hukuman, kata hakim, yakni perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat dan merugikan fasilitas negara.

Dalam amar putusan majelis hakim terungkap, awalnya pada Kamis 28 Juni 2018 pukul 09.00 terdakwa yang merupakan salah satu anggota Pemuda Pancasila Bantul berangkat dari rumah bersama saksi Samsudin mengendarai sepeda motor menuju PN Bantul.
Kedatangan terdakwa bersama sekitar 200 anggota PP dari seluruh wilayah DIY dan Jawa Tengah untuk menghadiri sidang pidana Ketua Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Bantul, Doni Bimo Saptoto dengan agenda pembacaan putusan. Terdakwa saat itu menggunakan atribut Pemuda Pancasila dengan mengenakan baju warna doreng oren hitam dan bertopi warna merah hitam.
Ketua majelis hakim Subagyo SH MHum kemudian menyatakan perbuatan Doni Bimo Saptoto bersalah dan dijatuhi hukuman 5 bulan penjara dengan masa percobaan 9 bulan. Dengan vonis ini, Doni sebenarnya tak harus menajalani hukuman badan. Namun karena tak paham soal vonis hakim, sejumlah massa Pemuda Pancasila kecewa karena menganggap perbuatan Doni sudah benar.

Doni sendiri diseret ke meja hijau setelah mendatangi Kantor Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (Pusham UII) di Jeruklegi Banguntapan Bantul untuk menanyakan izin diskusi dan pameran lukisan yang mengangkat Wiji Tukul. Namun kedatangan terdakwa justru ditanggapi dengan tantangan sehingga menimbulkan gesekan dan berujung pada pelaporan dari panitia pameran Pusham UII melaporkan ke Polda DIY.
Setelah mendengar vonis terhadap Doni, anggota PP termasuk terdakwa berteriak-teriak yang isinya menghina lembaga peradilan sebagai alat kekuasaan negara yang sah lalu melakukan tindakan anarkis. Saat itu terdakwa merusak TV LED yang berada di dinding depan pintu masuk dengan melempar menggunakan pecahan pot.
Karena belum puas, terdakwa juga memecah kaca depan pintu masuk sebelah timur PN Bantul dengan melempar pecahan pot. Sementara pelaku anak Alfathan meluapkan emosi serta kemarahan dengan memukul kaca jendela ruang sidang menggunakan tangan kanan hingga pecah dan hancur dan tangan berdarah. Beberapa jam setelah aksi itu, terdakwa ditangkap- polisi hingga diajukan ke meja hijau. (C-5)

Read previous post:
KEMAH CERIA KB/TKA NYAI AHMAD DAHLAN-Bergembira Bersama Latih Kerja Sama

Yo yo ayo..yo ayo yo.. kemah ceria Menang kalah ora masalah, yen menang Alhamdulilah Wo o.. o..Kelompok Al-Fatihah..  ITULAH penggalan lirik

Close