TUNTASKAN PELECEHAN SEKS DI UGM-Polisi Didesak Turun Tangan

YOGYA (MERAPI)-Ombudsman Republik Indonesia meminta kepolisian segera turun tangan menindak kasus dugaan pemerkosaan yang menimpa mahasiswi Universitas Gadjah Mada saat menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di Maluku pada 2017.
“Aparat penegak hukum mestinya tidak tinggal diam karena dalam undang-undang (UU) jelas ini (pemerkosaan) bukan delik aduan,” kata anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Ninik Rahayu di Kantor ORI Perwakilan DIY dan Jateng, Sabtu (10/11).
Menurut Ninik, karena bukan delik aduan, pihak kepolisian tidak perlu menunggu laporan untuk bertindak, apalagi kasus dugaan pemerkosaan itu sudah banyak diberitakan oleh berbagai media massa.
“Mestinya setelah mendengar banyak pemberitaan, kepolisan harus berlari cepat,” katanya seperti dikutip Antara.
Kasus pelecehan seksual, kata dia, harus mendapatkan penanganan secara hukum. Sebab tanpa ada penanganan serius melalui jalur hukum, akan berpotensi memicu kasus serupa kembali berulang.
“Kasus kekerasan seksual seperti fenomena gunung es, yang lapor hanya satu karena dia yang berani. Masih banyak yang takut melapor,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Yulianto mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu laporan untuk menangani kasus dugaan perkosaan itu.
“Pelecehan seksual itu memang bukan delik aduan, tetapi yang bersangkutan (korban) harus melapor karena kalau tidak melapor bisa saja dia tidak merasa dirugikan,” kata Yulianto.
Lebih lanjut Ninik mengatakan, Ombudsman Republik Indonesia menduga pihak pimpinan Universitas Gadjah Mada melakukan tindakan malaadministrasi dalam penanganan kasus dugaan pemerkosaan yang menimpa salah satu mahasiswi di kampus itu.
“Saya menduga ada potensi malaadministrasi karena berlarutnya penundaan kasus ini,” kata Ninik Rahayu.
Menurut Ninik, seharusnya penanganan kasus dugaan pemerkosaan yang menimpa salah satu mahasiswi UGM bisa diselesaikan sejak lama karena kasusnya sudah terjadi saat kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) di pertengahan 2017.
Ninik juga menilai sejumlah rekomendasi yang telah diberikan oleh tim independen yang dibentuk UGM sendiri belum sepenuhnya dijalankan oleh pihak rektorat yang mengakibatkan penanganan kasus itu berlarut hingga saat ini.

“Rekomendasi (tim independen) belum dijalankan secara serius sehingga kasus itu viral setelah ada pemberitaan dari Balairung Press (Badan Pers Kampus UGM),” katanya.
Karena peristiwa itu sudah terjadi setahun yang lalu, menurut dia, melalui ORI Perwakilan Jateng dan DIY, pihaknya akan segera melakukan investigasi terhadap penanganan kasus tersebut. Dengan investigasi secara cepat yang dilakukan ORI Perwakilan DIY dan Jateng, dia berharap kasus ini bisa cepat tertangani. (*)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
LIGA PSSI SLEMAN U-9 – Diikuti 17 Tim

  SLEMAN (MERAPI) - Askab PSSI Sleman mulai menggelar Liga PSSI Sleman U-9, Minggu (11/11). Sebanyak 17 tim mengikuti Liga

Close