Penyandang Disabilitas Sering Hadapi Stigma Negatif

MERAPI-ATIEK WIDYATUTI H Peserta seminar implementasi SDG's Berperspektif Disabilitas di Sleman.
MERAPI-ATIEK WIDYATUTI H
Peserta seminar implementasi SDG’s Berperspektif Disabilitas di Sleman.

SLEMAN (MERAPI) – Sejauh ini ada tiga hambatan yang harus dihadapi penyandang disabilitas. Komunikasi, informasi dan mobilitas. Ketiga permasalahan tersebut menjadi PR semua pihak. Baik pemerintah, swasta maupun masyarakat itu sendiri.

Untuk difabel tuli contohnya. Di sebagian besar akses publik, jika ada pengumuman melalui suara. Tanpa bantuan, tentu ini akan sulit diakses oleh teman-teman tuli karena mereka memang ada keterbatasan di pendengaran.
Mereka juga minim akan informasi. Karena sejauh ini program dari pemerintah ataupun swasta juga belum sepenuhnya berpihak pada mereka. Mobilitas. Untuk teman-teman yang tuna grahita, mereka membutuhkan kursi roda atau kruk. Jika tidak memiliki, otomatis mereka tidak bisa jalan. Kalaupun sudah menggunakan alat bantu, ternyata lokasi yang dituju tidak aksesibel. Jadi sama saja.

Hal lain yang harus dipahami masyarakat luas, penyandang disabilitas itu mengalami kondisi yang tidak berpihak. Sejak lahir, mereka sudah harus menerima stigma yang tidak berpihak. Dianggap tidak berguna, tidak bisa melakukan apa-apa hingga hasil kutukan. Beruntung, hal tersebut tidak terjadi di Papua. Sebagian masyarakat disana percaya. Anak difabel itu adalah anugerah. Jadi baik di keluarga maupun masyarakat mereka tidak mendapatkan diskriminasi.

Setidaknya itu yang muncul dalam Seminar Implementasi SDG’s Berperspektif Disabilitas di Sleman yang berlangsung di Aula Bappeda, Kamis (8/11). Sejumlah perwakilan organisasi ikut ambil bagian dalam kesempatan tersebut. Sunarto dari Forum Penguatan Hak Penyandang Disabilitas mengatakan, menjadi difabel itu juga harus siap saat kurang diterima secara sosial.

“Misalnya diundang dalam pertemuan warga. Kehadiran mereka sering dipandang sebelah mata, karena dinilai tidak cukup berkontribusi. Bahkan tidak sedikit yang mengisolasi mereka. Tidak diizinkan keluar rumah karena malu. Dampaknya, mereka tidak bisa mengakses pendidikan. Dan itu justru berasal dari keluarga mereka sendiri,” ujarnya.

Rika Harini selaku akademisi menjelaskan, 25 persen penyandang disabilitas di Indonesia baru difasilitasi di lima sektor. Antara lain pertanian dan jasa. Pemerintah sendiri dari tahun ke tahun sudah mulai aware dengan teman-teman difabel.

“Harapannya teman-teman difabel ini mendapatkan akses di lima hal.
Pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi, berkurangnya kesenjangan sosial dan terwujudnya pemukiman yang berkelanjutan. Khususnya yang berkaitan dengan fasilitas,” imbuhnya. (Awh)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
TINGKATKAN KUNJUNGAN WISATAWAN – Pemkab Garap Kawasan Utara

WONOSARI (MERAPI) – Pemkab Gunungkidul berupaya mengembangkan sektor wisata di kawasan utara meliputi Kecamatan Gedangsari, Nglipar dan Kecamatan Ngawen. Hal

Close