SIDANG GUGATAN PENGESAHAN JUAL BELI RUKO -Tergugat-Penggugat Bertahan pada Pendirian

 

Para pihak saat menyerahkan kesimpulan kepada majelis hakim. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)
Para pihak saat menyerahkan kesimpulan kepada majelis hakim. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)

SLEMAN (MERAPI) – Seorang pemilik ruko, Dwi Novie Ariyani menyatakan tak benar ada transaksi jual beli antara dirinya sebagai tergugat dan R Soeharto sebagai penggugat atas tanah dan bangunan ruko dengan SHGB No 1089 di Caturtunggal Depok Sleman atas nama dirinya. Tergugat sendiri tidak pernah menerima uang maupun memiliki utang kepada penggugat sebagaimana dalam dalil gugatannya.

Selama ini tergugat tak pernah tahu penjualan tanah dan bangunan ruko miliknya yang dibeli penggugat seharga Rp 925 juta. “Kalaupun ada jual beli tanah menjadi tak sah secara hukum. Karena berdasarkan hukum agraria di Indonesia jual beli tanah tak terlepas memiliki sifat-sifat hukum adat, tunai, terang dan riil sehingga tak sah dan batal demi hukum,” ujar Oncan Poerba SH, kuasa hukum tergugat Dwi Novie Ariyani kepada wartawan usai menyampaikan kesimpulan dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Kamis (8/11).

Selain itu tergugat Dwi tidak pernah menyetujui dan tak tahu menahu jual beli dan pembayaran tanah penggugat kepada tergugat Budi Mulyana atau mantan suaminya. Sehingga gugatan pengesahan jual beli tanah beserta bangunan ruko yang diajukan penggugat terhadap SHGB atas nama tergugat Dwi sebagai harta gono-gini hanya ingin memanfaatkan situasi dengan mantan suaminya atau kakak kandung penggugat.

Sementara penggugat melalui kuasa hukumnya Eko Setianto SH dalam kesimpulan menyatakan tetap pada pendiriannya. Dalam kesimpulannya pada Juli 2008 penggugat telah membeli tanah dari tergugat Budi dan Dwi yang saat itu masih resmi menjadi pasangan suami istri seharga Rp 925 juta. Saat itu SHBG obyek yang dibeli masih menjadi agunan PT Bank UOB Buana Yogyakarta.

Karena ruko masih disewa pihak lain senilai Rp 40 juta maka harga jual dikurangi sehingga harga jual menjadi Rp 885 juta. Dalam jual beli penggugat telah membayar dan setelah hutang lunas maka SHBG dikembangkan pihak bank kepada tergugat Budi.

Penggugat sendiri berulang kali meminta para tergugat menindaklanjuti jual beli dengan penandatanganan AJB tetapi tak dipenuhi sehingga terpaksa digugat ke pengadilan. Setelah para pihak menyampaikan kesimpulan, majelis hakim diketuai Ni Wayan SH menunda persidangan dan akan menjatuhkan putusan pada sidang berikutnya. (C-5)

 

Read previous post:
KARTUN – 8 November 2018

Close