Menggali Pendidikan Khas Yogyakarta

MERAPI-TEGUH Suasana Sarasehan Budaya di Pakualaman.
MERAPI-TEGUH
Suasana Sarasehan Budaya di Pakualaman.

YOGYAKARTA sebagai kota pendidikan bila dikaji secara historiknya, telah memiliki dasar-dasar yang kuat bagi terwujudnya sebuah konsep Pendidikan Khas Yogyakarta. Bila dilakukan kajian dengan pendekatan sejarah, Yogyakarta sesungguhnya telah memiliki sejumlah konsep pemikiran khas dalam perkembangan Pendidikan di tanah air. Demikian papar Dr. Hajar Pemadhi dalam Sarasehan Budaya yang diselenggarakan Kawedanan Hageng Kasentanan Kadipaten Pakualaman di Ndalem Kepatihan Pakualaman, belum lama ini.

Dalam pandangan Hajar Pamadhi, konsep pendidikan yang pernah ada sebagai mana diajarkan Ki Hajar Dewantara dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa, KH. Ahmad Dahlan dengan mendirikan Muhammadiyah dan sekolah-sekolahnya, KH. Hasyim Ashari yang berbasis Pondok Pesanteren, Ki Ageng Suryometaram dengan konsep kromodongso yang lebih bersifat andragogik dan dr. Wahidin Soediro Hooesodo dengan pendidikan kebangsaannya, semua itu merupakan sumber-sumber konsep yang sekiranya memberi warna tersendiri bagi konsep pendidikan yang khas bagi Yogyakarta.

“Konsep pendidikan berbasis budaya, agamis, kebangsaan serta nilai-nilai andragogik sepertinya sudah cukup lengkap untuk pendidikan khas Yogyakarta yang bida ditawarkan sebagai solusi pendidikan saat ini,” tutur Hajar.

Bila menelaah konsep Ki Hajar yang mampu menjadikan budaya Jawa sebagai salah satu bentuk pendidikan klasik atau tradisional yang kemudian dikembangkan secara kontekstual sebagai pendidikan kebangsaan yang mampu membangun karakter bangsa, sehingga model pendidikan Taman Siswa selain berbasis budaya juga terbinanya nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan yang kuat. Demikian pula dengan konsep pedagogi Islam sebagaimana yang dilakukan pondok pesanteren, pun pendidikan spiritual bagian dari cara menata hidup masyarakat agar terbangun tatanan masyarakat madani dan menjunjung kebangsaan sebagaimana diajarkan KH. Ahmad Dahlan.

“Dalam pendidikan informal konsep Ki Ageng Suryametaram mengajarkan filsafat manusia yang dimulai dengan kepercayaan terkait dengan bagaimana membaca Ha Na Ca Ra Ka akan membawa seseorang mengerti posisi dirinya terhadap orang lain,” tandasnya.

Maka jika manusia telah mampu membaca dirinya, dia akan merasa tenang dan enak dalam bergaul dan bersosialisasi. Manusia yang sudah menemukan dirinya dalam pengalaman “raos”, dia akan mudah bergerak kemana pun tanpa mencacat menjelekan orang lain. Sedemikian hebat sebenarnya konsep-konsep itu bila dapat terus digali dan dilakukan penelaahan lebih dalam bagi terwujudnya Pendidikan Khas Yogyakarta.

Selain Hajar Paamadhi tampil sebagai pembicara dalam sarasehan itu Prof. Gunawan yang juga anggota Dewan Pendidikan DIY dengan makalah yang tidak kalah serunya, yaitu Gerakan Mempancasilakan Pendidikan Indonesia Dari Yogyakarta. (Teguh)

 

Read previous post:
KARTUN 3-6 November 2018

Close