Brontokusuman Jadi Percontohan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat 

Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi saat menyampaikan materai terkait perlindungan anak. (MERAPI-TRI DARMIYATI)
Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi saat menyampaikan materai terkait perlindungan anak. (MERAPI-TRI DARMIYATI)

UMBULHARJO (MERAPI) – Program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang telah berjalan di Kelurahan Brontokusuman Kecamatan Mergangsan Yogyakarta bakal diperluas di 20 kelurahan lainnya. PATBM mendorong masyarakat agar peduli dan bergerak bersama semua pihak untuk memastikan perlindungan terhadap anak-anak sekitar.

“PATBM ini akan ditambah 20 kelurahan lain. Terutama yang memilii potensi kasus kekerasan anak. Lewat PATBM diharapkan semua pihak yang ada di masyarakat bisa mencegah kekerasan anak di lingkungannya,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Yogyakarta, Octo Noor Arafat usai pelatihan calon aktivis PATBM di Balaikota, Senin (5/11).

Program PATBM diawali dari Kelurahan Brontokusuman karena ada berbagai permasalahan anak di wilayah itu. Tapi masyarakat sekitar memiliki potensi untuk melakukan pencegahan dengan menggerakan berbagai elemen seperti kader PKK, Babinsa, Babimkamtibmas, LPMK, Karangtaruna, Satgas Sigrak dan aparat kelurahan.

Berdasarkan data yang dimiliki DPMP Kota Yogyakarta angka kekerasan kepada anak usia 0-17 tahun cenderung turun. Tahun 2014 ada 142 kasus, tahun 2015 menjadi 86 kasus, tahun 2016 menjadi 88 kasus dan terkahir tahun 2017 terdata 58 kasus kekerasan anak. Kekerasan fisik dan psikis kepada anak yang mendominasi kasus kekerasan di Kota Yogyakarta.

Meski demikian upaya pencegahan kekerasan terhadap anak terus digencarkan. Termasuk melalui PATBM. Pasalnya kasus-kasus kekerasan terhadap anak cenderung dilakukan orang terdekat. Misalnya kasus kekerasan kepad anak hingga meninggal dunia yang terjadi di Kricak Kelurahan Tegalrejo beberapa waktu lalu.

“Selain PATBM kami juga optimalkan Satgas Sigrak. Tak hanya pencegahan tapi juga ada <I>trauma healing<P> kepada korban kekerasan,” ujarnya.

Diakuinya dari pelaksanaan PATBM sejak 2017 ada beberapa tantangan yang harus dihadapi seperti, minimnya sumber daya manusia yang potensial untuk mengembangkan PATBM. Termasuk minimnya dukungan anggaran untuk pelaksanaan program, sehingga elemen dan tokoh masyarakat yang terlibat lebih bersifat sosial.

Penggerak PATBM Kelurahan Brontokusuman, Suharjo juga mengakui dukungan dana untuk melaksanakan PATBM masih minim. Tapi pelaksana berusaha dengan membangun jejaring berbagai pihak seperti Karang Taruna, PKK, LPMK, posyandu agar program perlindungan anak bisa berjalan sinergis.

“Kuncinya keberhasilan PATBM adalah keyakinan bersama mengamankan dan melindungi anak. Jika ada persoalan anak, sumber informasi dari kepedulian masyarakat,” ucap Suharjo.

Sementara itu Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan kondisi anak-anak di era informasi yang bebas menjadi tantangan orangtua dan masyarakat. Untuk itu melalui pelatihan aktivis PATBM bisa mensinergikan semua pihak dengan nilai keluarga dan masyarakat. (Tri)

Read previous post:
AFF FUTSAL CHAMPIONSHIP 2018 – Indonesia Taklukkan Myanmar 5-1

  SLEMAN (MERAPI) - Tim Nasional Futsal Indonesia menaklukkan Tim Nasional Myanmar 5-1 pada babak penyisihan Grup A AFF MNC

Close