5 Kali Cabuli Bocah, Pak Kadus Divonis 8 Tahun

MERAPI-YUSRON MUSTAQIM Terdakwa didampingi penasihat hukum berjalan menuju sel tahanan usai menjalani sidang
MERAPI-YUSRON MUSTAQIM
Terdakwa didampingi penasihat hukum berjalan menuju sel tahanan usai menjalani sidang

BANTUL (MERAPI)- Terbukti mencabuli bocah perempuan berulangkali, oknum Kepala Dusun (Kadus) di Srandakan, Bantul, Dwi Hantoro (48) divonis 8 tahun penjara potong masa tahanan dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Bantul, Rabu (17/10). Selain itu terdakwa juga dibebani membayar denda Rp Rp 20 juta subsider 1 bulan kurungan sesuai.
Vonis yang dijatuhkan lebih ringan dari tuntutan jaksa Afif Panjiwilogo SH yang awalnya menuntut 8 tahun penjara serta denda Rp 40 juta subsider 2 bulan kurungan. Atas vonis yang dijatuhkan majelis hakim diketuai Subagyo SH MHum, terdakwa melalui penasihat hukumnya A Ismoko Tri Handoyo SH, L Aditya Tri P SH dan Wahyu Widayati SH masih menyatakan pikir-pikir.
Usai pembacaan vonis tersebut, anak perempuan terdakwa yang masih bersekolah SMA langsung nangis histeris dan memeluk terdakwa. “Hakim hanya memberikan keringanan denda. Apakah terdakwa mau menerima atau banding, kami masih menunggu keputusan dari pihak keluarga,” ujar Ismoko kepada wartawan usai persidangan.
Hal-hal yang memberatkan hukuman, kata hakim, perbuatan terdakwa merusak masa depan saksi korban, terdakwa berbelit-belit dan tak berterus terang.

Selain itu sebagai seorang kadus atau pamong desa, seharusnya dia melindungi warga. Namun terdakwa justru merusak warganya sendiri yang masih kategori anak di bawah umur.
Dalam amar putusan majelis hakim terungkap, pencabulan yang dilakukan terdakwa terhadap saksi korban Kencur (9-nama samaran) terjadi pada April 2017. Ketika itu terdakwa datang ke rumah saksi korban. Ayah korban dan terdakwa saling kenal karena mereka bertetangga.
Orangtua korban pun tak curiga dengan kedatangan terdakwa. Termasuk saat dia meminta izin mengajak kedua anaknya, yakni korban Kencur dan WK jalan-jalan ke kebun buah naga di wilayah pantai selatan. Orangtua korban mengizinkan.
Sesampainya di kebun buah naga, saksi WK diminta terdakwa pergi meninggalkan tempat untuk membeli permen, roti dan es krim. Saat saksi pergi, kemudian dimanfaatkan terdakwa melakukan pencabulan terhadap korban. Ketiganya kemudian pulang pada sore harinya.
Usai melakukan perbuatan pertama, terdakwa ketagihan dan kembali datang ke rumah saksi korban. Lagi-lagi dia pamit mengajak kedua anak itu untuk jalan-jalan di tambak udang. Saat itu orangtua korban masih belum curiga. Sampai di lokasi, saksi WK kembali diminta pergi meninggalkan tempat tersebut untuk membeli makanan. Kondisi yang sepi kemudian dimanfaatkan terdakwa untuk melakukan pencabulan.

Perbuatan ketiga kalinya dilakukan terdakwa pada November 2017. Dia datang ke rumah saksi korban dan pamit mengajak korban dan saudaranya untuk jalan jalan di rumah pelaku di Dusun Ngentak Desa Poncosari Srandakan. Setiba di rumah terdakwa, saksi korban diajak masuk di kamar tersangka. Di dalam kamar tersebut terdakwa kembali melakukan pencabulan dan korban diantar pulang sore harinya.
Tetapi sampai di rumah, saksi korban menangis dan menceritakan kalau terdakwa telah melakukan perbuatan tidak senonoh. Saat itu juga orangtua korban lapor polisi dan tak lama berselang, terdakwa dibekuk.
Dalam dakwaan maupun tuntutan, terdakwa didakwa telah melakukan pencabulan sebanyak 5 kali di tempat berbeda hingga menyebabkan saksi korban trauma. (C-5)

Read previous post:
SERANGAN BINATANG BUAS TERJADI LAGI – Kambing Warga Panggang Jadi Korban

WONOSARI (MERAPI) – Serangan binatang buas yang menerkam puluhan hewan ternak khususnya jenis kambing milik warga, kembali terjadi di wilayah

Close