BI Apresiasi Pelapor Kasus Upal, Tabita ‘Diganjar’ Cetakan Khusus

Uang cetakan khusus dihibahkan BI ke pelapor kasus upal di Karanganyar. (MERAPI-Abdul Alim)
Uang cetakan khusus dihibahkan BI ke pelapor kasus upal di Karanganyar. (MERAPI-Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Kantor Perwakilan BI Solo menghibahkan dua lembar uang kertas nominal Rp 20 ribu cetakan khusus Perum Peruri kepada pelapor kasus uang palsu (upal), Tabita Ciptaningrum Putri(19). Gadis asal Mojosongo, Solo ini dianggap berjasa mengungkap peredaran upal yang kian meresahkan.

“Dua lembar ini bersambung, tidak terpotong. Kalau dipisah, nilainya akan seperti yang tertera di nominal, yakni Rp 20 ribu. Namun ini cetakan khusus yang hanya dikeluarkan Perum Peruri secara terbatas. Biasanya untuk koleksi dengan harga yang tinggi,” kata Deputi Perwakilan Bidang Sistem Pembayaran BI Solo, Bakti Artanta di Mapolres Karanganyar, Selasa (16/10).

Uang kertas cetakan khusus itu tertempel di bingkai pigura dengan sertifikat bertandatangan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Bandoe Widiarto. Di bagian bawah tertempel pula sampel uang kertas pecahan Rp 20 ribu berukuran lebih kecil. Dikatakannya, peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan pemerintah dalam menumpas tindak kriminal peredaran upal. Berkat para pelapor, terkuak 13 kasus upal dalam empat tahun terakhir di wilayah kerjanya.

“Kami membutuhkan peran aktif masyarakat. Sebab, tentu tidak mungkin kami mengawasi langsung di lapangan,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat segera melaporkan ke polisi atau BI apabila menerima upal. Penggunaan upal sangat tidak dianjurkan, bahkan bisa terkena sanksi hukum. Ia menegaskan, hanya uang hasil cetakan Perum Peruri yang sah digunakan transaksi. Metode cetaknya tidak dimiliki percetakan manapun.

Sementara itu Tabita mengatakan laporannya bermula saat ia menerima uang penjualan ponsel pintar milik tokonya di Matahari Singosaren, Solo. Seorang pelaku berinisial ST menyerahkan 17 lembar uang kertas pecahan Rp 100 ribu. Saat itulah Tabita mulai curiga.

“Dari bentuk fisiknya saja sudah meragukan. Buat jaga-jaga, saya poto wajah orangnya yang beli dan catat alamat rumahnya. Setelah itu, saya serahkan ponsel dan ambil uangnya. Kemudian uangnya saya setor ke bos. Di kios, saya lebih diyakinkan kalau uangnya palsu semua. Lalu saya sempat ke rumahnya. Namun orangnya tidak ada. Akhirnya saya melapor ke polisi,” kata Tabita.

Kini, Satreskrim Polres Karanganyar mengamankan delapan tersangka kasus peredaran upal. Di antaranya ST dan seorang oknum ASN di Karanganyar, AP (39). (Lim)

Read previous post:
KARTUN – 17 Oktober 2018

Close