Dampak Kemarau Panjang, Petani Manfaatkan Air Sungai Bengawan Solo

Ilustrasi BPBD Intensifkan Pantau Sungai Bengawan Solo
Ilustrasi  Sungai Bengawan Solo

SUKOHARJO (MERAPI) – Air Sungai Bengawan Solo dimanfaatkan sejumlah petani di Sukoharjo untuk mengairi sawah. Hal tersebut dilakukan karena kondisi sekarang mengalami kemarau panjang. Petani membutuhkan pasokan air agar tanaman padi tetap bisa tumbuh. Air sekarang sangat sulit didapat karena belum turun hujan dan ada penutupan pintu saluran Dam Colo, Nguter.

Petani asal Desa Pondok, Kecamatan Nguter Wanto Senin (8/10) mengatakan, kondisi yang terjadi sekarang sangat kering dan membuat petani harus mencari cara agar tanaman padi tetap tumbuh. Air yang diharapkan sulit didapat karena belum turun hujan sejak lama. Kalaupun ada air itu hanya bisa didapat petani yang sawahnya berada di aliran saluran irigasi teknis.

Namun bagi sebagian petani sawah tadah hujan maka mereka harus mencari cara sendiri. Salah satu solusi yang dilakukan petani yakni dengan mengambil air Sungai Bengawan Solo untuk mengairi sawah. Hal itu sudah dilakukan beberapa petani agar tetap bisa tanam padi disaat musim kemarau panjang.

“Posisi sawah yang dekat dengan aliran Sungai Bengawan Solo maka petani memilih mengambil air disana dengan cara disedot dan dialirkan ke sawah,” ujar Wanto.

Petani Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari Karjono mengatakan, petani yang tergabung dalam wadah Kelompok Tani (Kelomtan) Ngudi Rejeki dan Kelomtan Ngudi Mulyo dengan jumlah luasan sawah sekitar 150 hektar lebih sudah mendapatkan kecukupan air untuk tanam.

Petani mengandalkan empat sumber air sebagai jaminan agar tanaman padi tetap bisa tumbuh subur. Keempatnya yakni, air dari Dam Colo Nguter, sumur pantek, Sungai Bengawan Solo dan hujan. Khusus untuk air dari Sungai Bengawan Solo baru digunakan sejak beberapa bulan lalu.

Petani memanfaatkan air dari Sungai Bengawan Solo karena lokasi sawah berdekatan. Air cukup melimpah termasuk saat musim kemarau datang. Pemanfaatan air Sungai Bengawan Solo dilakukan mengingat kondisi sekarang mengalami kemarau panjang.

Pengambilan air dari Sungai Bengawan Solo dilakukan secara modern yakni mengalirkan melalui pipa paralon. Air disedot menggunakan mesin penyedot dan dialirkan ke pipa paralon dan mengalir ke sawah petani. Penggunaan air dari empat sumber berbeda dilakukan petani secara bergantian. Sistem penjadwalan dilakukan secara bersama sesuai dengan kesepatan petani.

“Pada situasi normal seperti musim hujan maka air mengandalkan dari hujan dan aliran Dam Colo Nguter. Tapi kalau situasi kemarau maka air diambil dari Sungai Bengawan Solo dan sumur pantek. Tapi itu sifatnya situasional dan melihat kondisi tanaman,” ujar Karjono.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti mengatakan, petani diberi kebebasan mendapatkan air untuk mengairi sawah. Namun secara pokok air diambil dari Dam Colo Nguter. Air dialirkan melalui saluran irigasi sampai ke sawah petani. Sumber air untuk petani lainnya bisa diambilkan dari Waduk Mulur, Bendosari. Termasuk juga memanfaatkan air dari aliran Sungai Bengawan Solo.

“Sumber utama air untuk pertanian sebenarnya hujan. Tapi karena ada musim kemarau maka perlu dicarikan sumber lain dengan mengandalkan dari Dam Colo, sumur pantek termasuk Sungai Bengawan Solo,” ujarnya.

Dalam pemanfaatan air tersebut Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo melakukan pemantauan penuh. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi masalah dan pemerataan air untuk petani. (Mam)

Read previous post:
Gus Ali: Introspeksi Diri dari Peristiwa Bencana Alam

KARANGANYAR (MERAPI) - Bencana alam yang melanda negeri ini perlu dimaknai sarana mengintrospeksi pribadi. Dibalik musibah itu terkandung hukuman dan

Close