JEJAK PEWARIS TANGGUH ENTHO-ENTHO (1) – Tiga Empu Tangguh Keturunan Majapahit

Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel atau peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Kehebatan sebuah keris, tak bisa dilepaskan dari pembuatnya yang disebut empu. Salah satu empu terkenal di masa awal kerajaan Kasultanan Yogyakarta.

SEJARAH perkerisan di Yogyakarta memiliki catatan tersendiri. Hal itu seiring dengan pergerakan politik dalam negeri kerajaan Mataram Islam di Surakarta. Pasca perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 – yang membagi kerajaan Mataram Islam menjadi dua kerajaan, yaitu Kasunanan yang berkedudukan di Surakarta alias Solo dan Kasultanan di Yogyakarta – turut mempengaruhi banyak hal di kedua kerajaan sagatra terkait dengan identitas masing- masing.

Ketika Pangeran Mangkubumi mulai membangun kasultanan, tidak serta merta langsung mendirikan singgahsananya di Ibukota kerajaan di Yogyakarta yang sekarang ini. Tapi terlebih dahulu menempati dan membangun pesanggrahan di Ambarketawang sebagai lokasi transit dalam masa transisi “palihan negari”.

MERAPI-ISTIMEWA Naskah Perjanjian Giyanti.
MERAPI-ISTIMEWA
Naskah Perjanjian Giyanti.

Setelah Pangeran Mangkubumi mendeklarasikan diri bergelar Hamengku Buwono I, maka Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri. Berdirinya kerajaan baru membawa konsekuensi, membutuhkan berbagai kelengkapan yang berkaitan dengan kerajaan. Termasuk juga salah satunya soal berbagai jenis pusaka yang menjadi simbol kebesaran kerajaan.

Meski sejumlah pusaka kraton merupakan warisan dari kejayan Mataram Islam sebagai kekayaan kerajaan turun temurun. Namun secara politis Sultan Hamengku Buwono I pun memandang pentingnya keberadaan para empu keris guna menopang kejayaan serta moncernya kerajaan. Sehingga pada masa pemerintahan Sultan HB I, kasultanan Yogyakarta memiliki tiga orang empu keris yang masih memiliki garis keturunan para empu dari kerajaan Majapahit. Ketiga empu pinunjul itu adalah Empu Entho Wayang yang tinggal di dusun Entho-entho, Seyegan, Empu Rajekwesi di dusun Balangan dan Empu Lobang yang tinggal di Cebongan. (Teguh)

 

Read previous post:
Hidup Sebatang Kara

COBAAN yang dihadapi Tinuk masih terus berlanjut. Barang-barang yang dibelikan Warno untuk mengisi rumah, ternyata dibeli secara kredit. Tagihan pun

Close