KEDOK TERBONGKAR SETELAH 4 TAHUN-Ngaku Bujangan Padahal Punya Anak-Istri

PENGASIH (MERAPI)- Ibu dua anak warga Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, KS (26) nekat melaporkan suaminya sendiri, Sumarjono (45) alias Ridwan Sunarta Putra ke Polsek Pengasih. KS berang lantaran ditipu mentah-mentah oleh Sumarjono selama empat tahun terakhir. Saat menikahi dirinya, yang mengaku masih bujangan, ternyata sudah menikah dan memiliki dua orang anak.
Rumah tangga KS dan Sumarjono akhirnya hancur berantakan. Kejari Kulonprogo bahkan membatalkan pernikahan keduanya serta dinyatakan tidak sah secara hukum. Keputusan ini dijatuhkan setelah kejahatan Sumarjono dalam memalsukan identitas dan dokumen nikah terungkap.
“Majelis Hakim PN Wates juga menjatuhkan hukuman penjara selama 1 tahun 6 bulan bagi Sumarjono,” kata Kasi Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun), Kejari Kulonprogo, Eriksa Ricardo kepada wartawan, Rabu (26/9).
Diungkapkannya, Sumarjono yang merupakan warga Kokap telah berstatus sebagai suami sah dari R (40) wanita asal Kokap dan dikaruniai dua orang anak. Pada awal 2014, Sumarjono kemudian berkenalan dengan KS. Kepada KS, ia mengaku sebagai jejaka asal Jambi dengan nama Ridwan Sunarta Putra. Keduaya sempat berpacaran dan memutuskan menikah pada Mei 2014.

Didorong cinta yang menggebu-gebu, Sumarjono melakukan berbagai upaya agar bisa menikahi KS. Pria lulusan SD yag berprofesi sebagai petani ini bahkan nekat memalsukan seluruh dokumen pernikahan.
“Seluruh dokumen yang ia palsukan berkop surat dan cap palsu Pemerintah Desa Batang Kibul, Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Meringin, Provinsi Jambi,” ungkap Eriksa.
Seluruh dokumen tersebut sempat dianggap sah oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pengasih. KS dan Sumarjono pun menjalani biduk rumah tangga dengan bahagia dan dikaruniai dua orang anak.
Empat tahun berjalan, kebohongan Sumarjono terungkap. Kerabat KS bertemu dengan warga Kokap. Status Sumarjono sebagai suami sah R pun terkuak. Mendengar kabar ini, KS berang. Ia melaporkan Sumarjono ke polisi. Pria hidung belang ini pun dinyatakan melanggar hukum pidana dan perdata.
“Ia melanggar Pasal 277 Ayat 1 KUHP tentang penggelapan asal-usul pernikahan sehingga dijatuhi hukuman penjara 1 tahun enam bulan,” jelas Eriska.

Tak berhenti sampai di sana, Kejari Kulonprogo kemudian mengajukan permohonan pembatalan pernikahan KS dan Sunarjono ke Pengadilan Agama Wates. Sebab selain memalsukan dokumen, Sumarjono juga tidak meminta izin kepada R, istri sahnya saat akan menikahi KS.
Sidang kasus ini berlangsung sejak Agustus lalu hingga berakhir pada keputusan hakim bahwa pernikahan KS dan Sumarjono batal. Akta nikah dan salinan akta nikah keduanya berikut turunan surat yang diterbitkan KUA Kecamatan Pengasih dinyatakan tidak berkekuatan hukum.
Adapun sejumlah pasal yang diajukan jaksa dalam permohonan pembatalan pernikahan tersebut yakni Pasal 4 Ayat 1, Pasal 5 Ayat I dan Pasal 9 UU RI Nomor I Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 27 UU Perkawinan, Pasal 40 Peraturan Pemerintah RI Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan juncto Pasal 56 Ayat I dan Ayat 3 juncto Pasal 71 Huruf (a) Kompilasi Hukum Islam serta Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam. Eriska menyebut, pembatalan perkawinan ini baru pertama kali terjadi di wilayah DIY.
Saat dikonfirmasi, Kepala KUA Kecamatan Pengasih, Abdurrahman membenarkan adanya perkara tersebut. Menurutnya, KUA tidak memiliki kewenangan untuk melakukan kroscek data dari warga yang mengajukan permohonan pernikahan.

Sesuai prosedur, KUA Kecamatan Pengasih selalu memasang pengumuman pernikahan berisi daftar nama warga yang mengajukan permohonan pernikahan. Apabila dalam waktu 10 hari tidak ada permasalahan, maka KUA akan segera menerbitkan rekomendasi pernikahan.
“Kalau harus dikroscek satu-satu, selesainya akan lama. Sementara jika harus kroscek ke instansi lain, kesannya dianggap tidak percaya dengan mereka,” katanya.
Abdurrahman kemudian mengimbau agar masyarakat melalui pemerintah desa benar-benar meneliti asal-usul orang yang ingin menikah agar kejadian serupa tidak terulang. Pihaknya juga terus melakukan sosialisasi terkait hal ini.
“Sebelum mengajukan permohonan pernikahan, biasanya orangtua calon wanita kan sudah lihat dokumen asal-usulnya. Itu penting untuk dikroscek dahulu,” katanya. (Unt)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Mesum Berlanjut Nikah

  MASYARAKAT kita, terutama di pedesaan masih sangat menghormati nilai-nilai kesusilaan. Mereka tak mau kampungnya dikotori hal-hal yang melanggar norma

Close