PEMKOT TELITI SAMPEL MAKANAN-Korban Keracuan Makanan Saat Posyandu Bertambah

UMBULHARJO (MERAPI)- Warga RW 16 Kampung Mulyorejo Kelurahan Sorosutan, Umbulharjo yang mengalami keracunan makanan saat posyandu bertambah. Pada Rabu (19/9) petang hanya sekitar 32 orang yang dirawat di Rumah Sakit Jogja. Sedangkan pada Kamis (20/9) total warga yang terdampak keracunan sekitar 48 orang. Sampel makanan dari Posyandu yang diduga menjadi penyebab keracunan itu masih diuji di laboratorium.
Ketua RW 16 Mulyorejo Sorosutan Iwan Agustian menyebut, keluhan mual dan muntah dirasakan 48 warga dan dibawa ke rumah sakit. Sampai kini masih ada 5 warga yang dirawat di rumah sakit. “Kebanyakan anak-anak yang masih dirawat di rumah sakit karena kondisinya masih lemah,” kata Iwan, Kamis (20/9).
Dia menyatakan semua warga yang mengalami mual-mual dan muntah mengonsumsi makanan berupa soto dan bubur kacang hijau dari kegiatan Posyandu di wilayahnya. Ia sendiri juga merasakan gejala tersebut setelah mengonsumsi soto dari Posyandu. “Posyandunya sore hari. Saya makan soto-nya habis Isya. Rasanya agak asem,” ujarnya.

Pihaknya menyampaikan tim inafis dari kepolisian dan petugas dari Puskesmas setempat telah mengambil sampel sisa makanan dari Posyandu yang masih disimpan warga. Atas kejadian itu dia berharap warga lebih berhati-hati dalam mengonsumsi maupun mengolah makanan.
Makanan di Posyandu itu, lanjutnya, dimasak oleh kelompok warga setempat. Keracunan massal itu kali pertama dialami warga. “Ya ini musibah. Biasanya juga aman-aman saja. Kebetulan Posyandu kemarin itu banyak pesertanya dibandingkan biasanya,” ucap Iwan.
Secara terpisah Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta Fita Yulia mengatakan sampai Kamis (20/9), masih ada sekitar 11 warga keracunan yang dirawat di RS Jogja. Pihaknya membenarkan petugas Dinkes Yogyakarta telah mengambil sampel makanan yang diduga meracuni warga. Tapi belum dipastikan makanan itu menjadi penyebabnya atau bukan.
“Kami sudah ambil sampel soto yang masih tersisa. Masih diuji di laboratorium. Hasilnya baru bisa diketahui seminggu lagi,” tambah Fita.

Menurutnya banyak hal yang bisa memicu makanan bisa menyebabkan karacunan seperti dari bahan-bahan makanan, cara mengolah sampai menyajikannya. Disinggung mengenai isu penggunaan bumbu instan yang diduga kedaluarsa untuk mengolah soto, pihaknya belum dapat memastikan. Tapi dia menegaskan yang terpenting saat ini masyarakat yang menjadi korban keracunan sudah ditangani.
“Dengan kejadian ini kami akan terus mensosialisasikan cara memilih bahan makanan, memasak dan menyajikannya. Jangan karena murah tapi harus melihat kualitas dan kebersihannya. Kami tetap mengedepankan kemandirian warga dalam Posyandu sehingga jangn sampai menimbulkan keresahan di masyarkat,” terangnya.
Dia menuturkan keracunan massal di masyarakat Yogya bukan kali pertama. Selama ini juga terjadi kasus keracunan makanan seperti sekolah maupun saat ada hajatan.
Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan warga Mulyorejo RT 62 RW 16 Sorosutan Kecamatan Umbulharjo Yogya mengalami keracunan makanan yang diduga berasal dari soto. Warga mengeluhkan mual dan muntah sehingga dirawat di Rumah Sakit Jogja, Rabu (19/9). Makanan itu berasal dari kegiatan Posyandu di kampung mereka. (Tri)

Read previous post:
MERAPI-AMIN KUNTARI Audiensi SMA N 2 Wates dengan Bupati Hasto.
Delapan Siswa SMA N 2 Wates Pamerkan Seni Budaya ke Filipina

DELAPAN siswa SMA N 2 Wates, Kulonprogo, akan berangkat ke Filipina, Jumat (21/9). Di sana, mereka berkesempatan memamerkan kekayaan seni

Close