REVITALISASI PASAR TRADISIONAL – Tak Sekadar Pembangunan Fisik

MERAPI-ATIEK WIDYASTUTI H Pembicara dalam FGD FORPI di Rumah Dinas Wakil Bupati.
MERAPI-ATIEK WIDYASTUTI H
Pembicara dalam FGD FORPI di Rumah Dinas Wakil Bupati.

SLEMAN (MERAPI) – Keberadaan pasar tradisional di Kabupaten Sleman semakin terpinggirkan dengan adanya toko modern. Samanya jenis barang yang dijual, membuat sebagian masyarakat memilih untuk berbelanja di pasar modern. Di sisi lain, kurangnya perhatian dari pemerintah setempat juga membuat pasar modern semakin ‘dilupakan’. Berdasarkan hasil studi Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM dan Lembaga Ombudsman Swasta (LOS) DIY pada 2010-2011, menunjukkan pasar modern mengakibatkan penurunan omset penjualan pedagang pasar tradisional.

Rata-rata sebesar -5,9 persen. Namun penurunan lebih besar dialami oleh kelompok pedagang dengan aset antara Rp 5-15 juga, Rp 15-25 juta dan di atas Rp 25 juta. Penurunan mereka masing-masing sebesar -14,6 persen, -11 persen dan -20,5 persen.

Sejumlah inovasi juga terus dikembangkan pemerintah setempat. Salah satunya dengan melakukan revitalisasi pasar modern. Sayangnya, revitalisasi tersebut sering kali tidak berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan pedagang. “Dalam banyak hal justru cenderung berdampak negatif. Karena adanya kenaikan biaya sewa los, penurunan omset dan pusarnya kebersamaan dan modal sosial di kalangan pedagang,” ungkap anggota Forum Pemantau Independen (FORPI) Sleman Hempri Suyatna, dalam FGD FORPI dengan tema ‘Revitalisasi Pasar Tradisional’ di Rumah Dinas Wakil Bupati Sleman, Selasa (18/9).

Menurut Hempri, pengelolaan sumber daya manusia pasar, kelembagaan pasar, material pasar, pengembangan kapasitas dan pola perilaku pedagang menjadi penting untuk diubah. Tujuannya agar mampu menjadi pelayan yang baik bagi konsumen.

Kenapa demikian, karena sejauh ini pedagang di pasar tradisional juga cenderung menjual barang pabrikan. Dan itu sama dengan di toko modern. Produk lokal masyarakat setempat hingga hasil pertanian sangat kurang. Dari Pemkab Sleman sendiri sudah melakukan upaya dalam hal penting kapasitas sumber daya pasar tradisional. Seperi sekolah pasar, pembinaan pedagang, peningkatan permodalan, pengawasan peredaran pangan hingga promosi pasar.

“Saat ini terjadi pergeseran dalam transaksi di pasar modern. Untuk pedagang sayur, mulai berjualan pukul 03.00 WIB. Dimana pembelinya adalah penjual pasar keliling atau di warung-warung sayur. Untuk itu omsetnya juga bergeser,” kata Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Haris Murtapa.
Sementara itu Wakil Ketua DPRD Sleman Inoki Azmi Purnomo berharap, keberadaan pasar tradisional juga menjadi tempat wisata. Untuk pembangunan fisiknya juga bernuansa khas tradisional. “Jika hanya ikut-ikutan dengan toko modern, akan menjadi kurang asyik. Tentunya di pasar tradisional juga harus memiliki ruang sendiri untuk produk UMKM,” imbuhnya. (Awh)

Read previous post:
Berencana Kurangi Karyawan, Perusahaan Mulai Merasakan Dampak Melemahnya Rupiah

SUKOHARJO (MERAPI) - Sejumlah perusahaan mulai merasakan dampak krisis ekonomi dengan melakukan pengurangan karyawan dan keterlambatan pembayaran upah. Terkait kondisi

Close