PROF. DWIYATI: Kunir Putih Tanaman Obat yang Murah

MERAPI-TEGUH Prof Dr Hj Dwiyati Pujimulyani MP
MERAPI-TEGUH
Prof Dr Hj Dwiyati Pujimulyani MP

KUNIR Putih atau dalam bahasa ilmiahnya Curcuma Mangga Val, belakangan banyak diminati orang lantaran punya daya sembuh terhadap berbagai penyakit. Tumbuhan tergolong keluarga rimpang ini, tumbuh dengan subur di lahan dengan lindungan pepohonan peneduh. Sehingga dalam budidayanya bisa dilakukahn dengan sistem tumpang sari dengan tanaman tahunan atau jenis kayuan keras.

Budidaya Kunir Putih tidak membutuhkan tata kelola pertaniann yang intensif, artinya menanam Kunir Putih bisa disambi bahkan bisa dilakukan sebagai pengisi waktu luang. Sebab tanaman ini tidak ribet dan tidak menuntut perlakukan khusus, seperti jenis rimpang lainnya seperti Jahe misalnya yang harus diperhatikan perkembangan tumbuhnya guna mendapatkan rimpang yang bagus.

“Kunir Putih sangat mudah menanamnya, tidak membutuhkan perawatan dan perlakuan khusus. Bisa ditanam di lahan kosong, memanfaatkan lahan tidur yang tidak produktif,” papar Prof.Dr. Hj. Dwiyati Pujimulyani,M.P.,ketika ditemui Merapi belum lama ini di Plawonan, Argomulyo, Sedayu.

Menurut Profesor Kunir Putih ini, tumbuhan berrimpang khas beraroma Mangga ini sebenarnya tanaman asli Nusantara. Kalau kemudian diklaim sebagai tanaman asal Belanda itu wajar saja, sebab ratusan tahun bangsa kulit putih itu menguras habis kekayaan tanah air ini. Logikanya jadi apa yang tidak bisa dibawa ke negeri kincir itu. Kunir Putih adalah tanaman khas daerah tropis, karena sifat adaptasinya yang bagus sehingga dapat tumbuh di daerah mana pun.

“Dulu banyak yang bilang kalau Kunir Putih hanya bisa tumbuh di daerah dingin, tapi nyatanya saya buktikan kalau kunir putih tumbuh dengan bagus di lahan dataran rendah. Bahkan bisa dibudidayakan di kawasan pesisir dengan media pasir yang dipadukan dengan kompos,” ungkap Guru Besar di Fakultas Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta yang memiliki banyak plasma untuk mengembangkan Kunir Putih sebagai obat yang murah bagi masyarakat yang membutuhkan.

Dalam pandangan pemilik usaha Jamu Windra Mekar yang mengolah Kunir Putih menjadi ekstrak dalam kapsul ini, kebutuhan Kunir Putih setiap tahunnya terus meningkat. Bahkan perusahaan miliknya banyak membutuhkan pasokan Kunir Putih dengan berbagai kualitas. Sayangnya minat petani masih rendah, padahal menanam Kunir Putih bisa disandingkan dengan tanaman lainnya. Sebagai tanaman penyela diantara tanaman pokok, atau tanaman di pekarangan Kunir Putih memiliki prospek lumayan bagus. Bahkan harganya di pasaran pun kini mulai naik daun.

“Selain budidaya secara mandiri setelah pulang mengajar di kampus, saya juga punya petani plasma di beberapa daerah. Pengembangan tanaman ini memang sangat bagus karena prospeknya juga cerah. Sebagai tanaman obat, Kunir Putih punya banyak manfaat bagi kesehatan masyarakat. Dan saya mencoba untuk menjual dengan harga sangat murah,” urai Prof. Dwiyanti yang mengaku ingin menebar manfaat bagi masyarakat banyak dengan membumikan hasil penelitian Kunir Putih selama 15 tahun. (Teguh)

 

Read previous post:
4,5 HEKTARE HUTAN MERAPI TERBAKAR – TNGM Yogyakarta Intensif Patroli

SLEMAN (MERAPI) - Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Yogyakarta terus mengintensifkan patroli, agar kebakaran di lereng Merapi tidak terulang.

Close