Kampung Satwa Wahana Edukasi Satwa Eksotik

MERAPI-TEGUH Aan dengan jenis reptil ular dan kura-kura darat.
MERAPI-TEGUH
Aan dengan jenis reptil ular dan kura-kura darat.

MOYUDAN (MERAPI) – Edukasi kepada masyaraat luas tentang keragaman satwa sangat penting, agar faham terhadap berbagai jenis satwa. Termasuk berbagai jenis satwa eksotik dan juga yang tergolong paling ditakuti, seperti ular dan jenis reptil lain. Sering kali lantaran ketidaktahuan, kemudian orang memperlakukannya kurang bijaksana. Orang akan mudah membunuh setiap jenis ular yang ditemui, meski tidak paham betul bagaimana karakter satwa itu sebenarnya.

“Untuk itulah penting sekali melakukan edukasi dini kepada anak-anak, guna mengenal dan mengerti berbagai jenis satwa. Agar mereka bisa secara bijaksana memperlakukan satwa sebagai mana mestinya,” tutur Hanif Kurniawan Sekjen Forum Edukasi Satwa dan Tumbuhan (Forest), pendiri Kampung Satwa, Kedungbanteng Rt.06 Sumberagung, Moyudan, Sleman, belum lama ini.

Berbagai jenis satwa endemik yang ada di kawasan kampungnya, menurut Aan – demikian pria lajang yang berprofesi sebagai lawyer ini biasa disapa – menggugah pemikirannya untuk dapat memberi andil akan kelestariaanya. Hadirnya Kampung Satwa ternyata mendapat dukungan dari berbagai kalangan, selain para hobiis satwa, masyarakat di sekitar kampungnya pun ikut menyokongnya. Selain itu jejaring untuk menjalin kerjasama dengan instansi terkait mulai dirintis guna memanfaatkan keberadaan Kampung Satwa sebagai laboratorium untuk para mahasiswa dan peneliti. “Kita sudah mulai membuat daring dengan fakultas biologi UGM juga nantinya dengan fakultas yang terkait dengan satwa dan tumbuhan,” ungkap Aan.

Berabagai jenis reptil seperti ular, kura-kura darat, iguana, taegu, menjadi koleksi yang nyaris memakan semua ruang di rumahnya yang di desain layaknya sebuah kebun binatang. Selain itu bermacam piaran lainnya seperti musang bulan, rase, bahkan jenis burung langka seperti deruk hijau atau delimukan yang menjadi endemik Yogyakarta ada di dalam kandangnya.

Menurut dia, potensi di kampungnya sangat memungkinkan dijadikan Kampung Satwa, karena berbagai jenis burung langka seperti Elang, burung Bubut, tenglek, cucuk Urang, Tito Alba atau burung hantu pemangsa tikus, Guwek mini dan kunthul masih mudah ditemui di sana. Sehingga harapannya kampung Satwa nantinya menjadi kampung Konservasi alam terkait dengan satwa-satwanya yang unik dan eksotik. “Arah kita nantinya dengan dukungan masyarakat mengarah pada kampung konservasi alam, Kampung Satwa ini sebagai awal bagaimana masyarakat di sini memiliki kepedulian dengan satwa yang dimilikinya,” ucap Aan.

Dijelaskan juga, sebagai living laboratory diharap akan bisa menjadi pusat pengembangan berbagai jenis satwa terkait dengan hobiis atau pet. Bahkan di sejumlah kandangnya mulai dilakukan pengembangbiakan di antaranya iguana dan kura-kura darat. (Teguh)

 

Read previous post:
1000 Meja dari Merapi untuk Lombok

SLEMAN (MERAPI) - Puluhan relawan di lereng Gunung Merapi berkumpul di Huntap Dongkelsari Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan Sleman, Selasa (11/9).

Close