Penderita DBD Turun, DKK Sukoharjo Waspadai Penambahan Saat Musim Hujan

SUKOHARJO (MERAPI) – Sebanyak 25 orang menderita demam berdarah dengue (DBD) sampai awal September ini. Mereka semua selamat dan sudah dalam kondisi sehat setelah mendapat perawatan medis. Meski begitu Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo tetap waspada agar jangan sampai ada penambahan penderita DBD khususnya menghadapi musim hujan mendatang.

Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) DKK Sukoharjo Bejo Raharjo, Minggu (9/9) mengatakan, penderita DBD kondisinya sekarang sehat dan sudah berada di rumah masing masing. Tidak ada satupun warga penderita DBD yang masih menjalani rawat inap ataupun rawat jalan di rumah sakit atau puskesmas. Sebanyak 25 orang tersebut sudah cukup lama saat menderita DBD dan dinyatakan sembuh.

Mereka umumnya menderita DBD pada saat masih musim hujan diperkirakan awal sampai menjelang pertengahan Tahun 2018 kemarin. Sedangkan saat musim kemarau seperti sekarang sangat jarang bahkan tidak ada laporan masuk ke DKK Sukoharjo warga yang menderita DBD.

Sebanyak 25 orang warga yang menderita DBD berasal dari Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo Kota, Nguter, Bendosari, Polokarto, Mojolaban, Grogol, Baki dan Kartasura. Penderita DBD paling banyak berasal dari Kecamatan Sukoharjo Kota sebanyak 6 orang, disusul kemudian Kecamatan Mojolaban 5 orang dab Kecamatan Kartasura 4 orang. Sedang kecamatan lainnya jumlah penderita DBD rata rata 1 sampai 2 orang.

“Kami berharap sudah berhenti sampai diangka itu saja 25 orang dan setelah ini sudah tidak ada lagi penderita DBD. DKK Sukoharjo tetap berusaha agar penderita DBD tidak tambah,” ujar Bejo Raharjo.

Usaha yang sering dilakukan DKK Sukoharjo yakni melakukan sosialisasi sampai tingkat RT/RW. Petugas disebar untuk turun ke lapangan mendatangi masyarakat sebagai bagian dari sosialisasi. Bentuknya yakni berupa materi teori dengan memberikan penyebab dan cara mencegah terjadinya DBD.

Masyarakat juga diajarkan oleh petugas DKK Sukoharjo untuk praktek memerangi terjadinya DBD. Bentuknya yakni melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan menjaga perilaku hidup sehat dan bersih. Benda atau barang tidak terpakai yang bisa menampung air dan jadi tempat berkembangbiak nyamuk harus disingkirkan. Termasuk pula memberantas jentik nyamuk di bak penampungan air.

Materi sosialisasi dari petugas diharapkan bisa dipraktekan semua lapisan masyarakat. Terlebih lagi pada saat musim penghujan karena rawan terjadinya percepatan perkembangbiakan nyamuk yang menimbulkan DBD.

Pada saat musim kemarau seperti sekarang dikatakan Bejo memang belum terlalu berpengaruh pada peningkatan penderita DBD. Namun menjelang musim hujan nanti sangat terlihat pengaruhnya.

“Diawali dari tingkat keluarga harus peduli dengan melakukan pemberantasan jentik nyamuk. Selain itu juga mematikan nyamuk dewasan untuk meminimalisir terjangkitnya DBD,” lanjutnya.

Di Sukoharjo sendiri sesuai data dari DKK Sukoharjo diketahui ada 41 desa masuk kategori wilayah endemis DBD. Desa tersebut berada di wilayah Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, Bendosari, Polokarto, Mojolaban, Grogol, Baki, Gatak dan Kartasura.

Data dari DKK Sukoharjo dalam dua tahun terakhir diketahui ada penurunan jumlah penderita DBD. Pada tahun 2016 jumlah penderita DBD sebanyak 526 orang dan 13 orang diantaranya meninggal dunia. Sedangkan pada 2017 jumlahnya menurun menjadi 115 orang dan 2 orang diantaranya meninggal dunia. Pada 2018 sampai awal September ada 25 orang penderita DBD.

“Kewaspadaan kami terus lakukan khususnya menjelang musim hujan nanti. Masyarakat kami minta tetap melaksanakan apa yang sudah kami sosialisasikan sebagai bentuk pencegahan,” lanjutnya. (Mam)

Read previous post:
REJOMULIA PERINGATI AMANAT 5 SEPTEMBER – Mancing Gratis Diserbu Warga

DEPOK (MERAPI) - Relawan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin menggelar mancing bareng di sepanjang Selokan Mataram, Minggu (9/9. Tak tanggung-tanggung, 10

Close