SAMPAILAH saat-saat yang ditakutkan Inem tiba. Malam pengantin. Setelah semua kegiatan perhelatan pernikahan selesai dan rumah menjadi sepi, maka deburan ombak yang keras seakan menghantam dada Inem. Berlawanan dengan deburan dada Pono, yang sudah tak sabar menunggu saat-saat bersejarah dalam hidupnya.

Akhirnya tak ada jalan lain bagi Inem, kecuali harus berbohong pada suaminya. Berbohong demi kebaikan, katanyua boleh. Demikian kata hati Inem, sekalipun kebaikan yang dimaksudnya masih dalam arti yang tidak jelas.

“Mas, maaf ya, mohon bersabar. Inem masih kedatangan tamu,” kata Inem dengan agak ragu-ragu.

“Tamu siapa?” tanya Pono dengan polosnya.

“Bukan orang. Maksudnya Inem sedang datang bulan.”

“Ooo, gitu….” hanya itu yang dikatakan Pono, sekalipun dalam hatinya ada kekecewaan yang mendalam. Saat semangat tengah tinggi memuncak, tiba-tiba harus diputus begitu saja. Siapa yang tidak kecewa.

Ada sedikit keinginan dalam hati Pono untuk memaksakan kehendak. Tapi ia melihat Inem sudah menutup tubuhnya rapat-rapat, tidur sambil melingkarkan tubuh dan berselimut dengan jarit.

Dengan hati masgul, Pono pun ikut merebahkan tubuhnya di sisi Inem. Tak diketahui Pono, bahwa dari mata istrinya telah menetes air mata.

Malam ini mungkin dirinya bisa selamat dan belum terbongkar rahasianya. Namun tetunya tidak mungkin akan terus seperti ini. Dan bisa-bisa hal ini akan menimbulkan kecurigaan, sehingga malah berbuntut yang tidak baik. Berat memang untuk bicara jujur, tapi itu harus dilakukan.

Pono sendiri tak bisa selamanya dibohongi. Bahkan di pagi harinya, ia sudah mulai merasa curiga ada sesuatu pada diri istrinya. Tapi untuk sementara Pono membiarkannya saja, sambil menunggu perkembangan.

Sebagai orang desa, Pono tidak lugu-lugu amat. Apalagi ia pernah bekerja dan tinggal di kota besar, sehingga pengetahuannya pun cukup luas.

Malam berikutnya, Pono tidak ingin kekakuan yang ada di antara dirinya dengan Inem terjadi lagi. Sekarang ia sudah sah menjadi suami, sehingga berhak tahu segalanya tentang istrinya. Termasuk berhak menanyakan kebenaran, apakah benar Inem sedang datang bulan atau hanya berbohong.

“Memang benar Mas, Inem tidak sedang datang bulan,” kata Inem setelah dipaksa.

“Mengapa kamu berbohong Inem? Kita ini baru saja mengawali hidup berumah tangga,” kata Pono.

“Apakah mas Pono siap menerima kenyataan, kalau Inem bicara jujur?” kata Inem lirih sambil menundukkan kepala. (Bersambung)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MURAI KUALITAS LOMBA – Idealnya Dimaster Sejak Anakan

BURUNG berkicau atau ocehan jenis murai memiliki tampilan fisik dan suara khas. Bahkan dikenal piawai menirukan suara-suara jenis ocehan lain.

Close