PENGAKUAN CAH KLITIH-Lempar Kaca Mobil Usai Cekcok dengan Ayah

BANTUL (MERAPI)- Dua cah klitih pelaku pelemparan batu, Ln dan Ap sepakat mengaku jika aksi teror yang mereka lakukan untuk melampiaskan amarah karena banyak masalah di rumah. Korban aksi mereka juga dicari secara acak.
Kapolsek kasihan AKP Y Tarwoco Nugroho SH kepada wartawan, Minggu (19/8) mengatakan, sejauh ini, tak ada motif lain terkait aksi teror pelemparan batu itu. Keduanya sepakat memang beraksi untuk melampiaskan amarah. Korban juga dicari secara acak. Modus keduanya adalah mencari korban di malam hari dan lokasi yang gelap. Mereka memacu motor dari arah yang berlawanan dengan korban. Saat berpapasan, pelaku bakal melempar kaca depan mobil korban.

Dikatakan Tarwoco, tersangka Ap kepada polisi mengatakan, pelemparan batu hanya dilakukan di Kecamatan Kasihan Bantul. Dia mengatakan sudah beraksi 10 kali. Serangkaian peristiwa pelemparan kaca mobil itu dilakukan setelah sering ribut dengan keluarga. “Pernah pelemparan itu dilakukan setelah pelaku cekcok dengan bapaknya. Dia kemudian emosi dan melemparkan batu ke arah mobil yang melintas,” jelasnya.

Seperti diberitakan, petugas Polsek Kasihan, Bantul berhasil mengungkap kasus teror pelemparan batu yang dilakukan cah klitih, Sabtu (18/8). Dua orang cah klitih berhasil diringkus. Kepada polisi, mereka mengaku sudah 27 kali melakukan aksi pelemparan batu di Yogya. Motifnya, mereka ingin melampiaskan kemarahan karena sering punya masalah di rumah.
Dua orang yang ditangkap polsi adalah Ap (18) dan Ln (16) keduanya warga Kasihan, Bantul.
Aksi klitih dengan modus ini memang tengah meresahkan sebagian warga Yogya dalam beberapa waktu terakhir. Lokasi kejadian pun merata, namun paling sering di Sleman dan Bantul. Di Sleman, aksi lempar batu terakhir terjadi di Tempel dan melukai seorang balita. Sedang di Godean, aksi pelemparan batu pernah menewaskan seorang warga. Setelah pelaku dibekuk, dia mengaku melakukan hal itu karena emosi terkena sorotan lampu mobil korban. (Roy)

Read previous post:
Bangkit dengan Daun Teh Hijau Aneka Rasa

PENGELOLAAN kebun teh yang terus merugi, membuat Surati (42) bersedih hati. Namun kesedihan itu tak berlangsung lama, lantaran ia berinovasi

Close