Diprediksi Sampai Oktober, BPBD Sukoharjo Waspadai Dampak Kemarau

SUKOHARJO (MERAPI) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo memprediksi kemarau berlangsung sampai Oktober mendatang. Selama dua bulan kedepan masyarakat diminta untuk tetap waspada baik terhadap kerawanan kekeringan dan kebakaran.

Kepala BPBD Sukoharjo Sri Maryanto, Selasa (7/8) mengatakan, sudah mendapatkan informasi berkaitan dengan musim kemarau diprediksi sampai Oktober mendatang dari BMKG. Artinya kerawanan kekeringan masih akan terjadi sampai dua bulan kedepan. Selama itu masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan dampak dari kemarau panjang. Salah satunya berkaitan dengan kekurangan air bersih akibat sumur mengering.

BPBD Sukoharjo sudah melakukan pemetaan berkaitan dengan wilayah rawan kekeringan. Paling banyak berada di selatan Sukoharjo meliputi Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu.

Petugas juga memantau secara langsung dengan mendatangi wilayah tersebut. Pengecekan dilakukan secara menyuluruh baik kondisi lingkungan maupun warga terdampak.

Sampai Agustus ini BPBD Sukoharjo sudah menemukan sejumlah dampak kekeringan yang dirasakan warga. Salah satunya berkaitan dengan kekurangan air bersih dari warga. Kebutuhan tersebut sudah dipenuhi petugas dengan mengirimkan bantuan ke warga.

Dampak lain yang dipantau akibat kemarau panjang yakni kerawanan kebakaran dan serangan kera liar. Hal itu rutin terjadi setiap kali kekeringan melanda disejumlah wilayah.

Seperti di wilayah Kecamatan Bulu dimana kekeringan menyebabkan perbukitan menjadi kering dan rawan menyebabkan kebakaran. Selain itu juga membuat kawanan kera liar turun gunung mencari makanan dengan menyerang perkebunan dan rumah warga. Kera liar tersebut kekurangan bahan pangan karena sejumlah tanaman buah tidak menghasilkan.

“Selama dua bulan kedepan sesuai prediksi kemarau sampai Oktober kami tetap siap melakukan pemantauan penuh disemua wilayah rawan kekeringan,” ujarnya.

Kepala Desa Grogol, Kecamatan Weru Heri Putut mengatakan, kemarau panjang sudah dirasakan dampaknya oleh warga. Salah satunya setelah banyak sawah kekurangan air. Akibatnya lahan dibiarkan mangkrak dan tidak ditanami petani. Untuk mendapatkan air petani mengandalkan dari hujan.

“Dampak kekeringan yang dirasakan sekarang akibat kemarau pada lahan pertanian karena kering kekurangan air. Sedangkan untuk warga juga sudah ada beberapa kekurangan air bersih tapi jumlahnya masih kecil,” ujarnya.

Warga Desa Karangmojo, Kecamatan Weru Wahyono mengatakan, di wilayahnya memang sudah sulit air bersih akibat kemarau panjang. Wilayah terdampak tersebut seperti Dukuh Ngutuk, Dukuh Badran, Dukuh Ngepek, Dukuh Rejosari, Dukuh Ngadisojo. Warga sebenarnya masih bisa mendapatkan air bersih dari Pamsimas namun debitnya sudah menurun drastis.

“Warga juga menggantungkan air bersih dari kiriman Pemkab Sukoharjo sebab kondisi semakin kering sekarang,” ujarnya. (Mam)

Read previous post:
Tradisi “Wiwitan” Digelar Petani Tembakau

TEMANGGUNG (MERAPI) - Tradisi 'Wiwitan' digelar petani tembakau di lereng Gunung Sindoro di Desa Tuksari, Kledung, Kabupaten Temanggung, untuk mengawali

Close