KISAH UNIK ORANG KALANG – Berkeliling Naik Andong Bagi-bagi Uang

 

Rumah orang kalang.
Rumah orang kalang.

KOTAGEDE merupakan kawasan yang memiliki sejarah panjang, terkait dengan peninggalan nilai-nilai peradaban kejayaan Mataram Islam. Selain itu Kotagede juga tidak bisa dilepaskan dari keberadaan situs Orang Kalang, sebagai kelompok masyarakat yang memiliki tatanan serta pola kehidupan unik. Bahkan keberadaan Orang Kalang tidak bisa dipisahkan dengan kejayaan Kotagede sebagai pusat kerajinan Kemasan dan Perak terbesar di Indonesia.

Orang Kalang dikenal sebagai masyarakat tersendiri dalam kehidupan masyarakat Jawa secara umum. Kegigihan mereka dalam berniaga, banyak menjadi buah tutur dan cerita di masyarakat secara umum. Banyak bangunan di kawasan situs Kotagede memiliki ciri khas serta arsitektur eksotik, sebagian besar merupakan warisan budaya arkeologi yang dibangun oleh Orang kalang.

“Karena kebanyakkan mereka adalah para sodagar kaya dengan usaha kemasan, maka rumah dan tempat tinggalnya juga memiliki gaya arsitektur yang khas dan unik. Selain itu mereka juga memiliki ruangan khusus semacam bunker, untuk berlindung dari orang-orang jahat. Kalau masa itu adalah perampok dan gangguan dari penjajah,” tutur Heniy Astiyanto SH, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kota Yogyakarta kepada Merapi di kantornya bilangan Tamansiswa, Rabu (1/8).

Menurut Heniy yang juga advokad ini, bangunan rumah Orang Kalang memiliki arsitektur dan tata ruang yang unik. Bahkan untuk menyelamatkan diri dari berbagai gangguan keamanan Orang Kalang membuat persembunyian ruang bawah tanah. Hal ini sangat logis selain untuk berlindung dari kekacauan di masa itu, kemungkinan besar bunker itu menjadi tempat untuk mengamankan harta kekayaan dari para penjarah ketika terjadi kekacauan.

MERAPI-TEGUH Heniy di pintu masuk lorong bunker.
MERAPI-TEGUH
Heniy di pintu masuk lorong bunker.

Salah satu rumah Orang Kalang yang masih bisa dimanfaatkan untuk publik adalah rumah warisan Bendara Hajah Noeriyah. Bangunan yang didirikan pada tahun 1862 itu kini masih bisa disaksikan sebagai salah satu cagar budaya milik Pemda DIY. Menurut Heniy, rumah itu pernah mengalami pemugaran pada tahun 1931. Selain sebagai sodagar kaya, kebanyakan orang kalang juga memiliki sifat dermawan. Hal ini terkait banyak kisah tutur dalam masyarakat yang sampai saat ini masih sering menjadi obrolan. Yaitu kisah Juragan Tembong, yang sering membagikan uang kepada rakyat jelata ketika berkeliling naik andong.

“Kisah kedermawanan Orang Kalang itu banyak memikat perhatian. Salah satunya kisah dari satu keluarga Orang Kalang, yang menyumbangkan satu gerobak peti berisi uang guna menyokong pemerintahan Republik ketika hijrah ke Yogyakarta tahun 1946,” tutur Heniy.

Ditegaskan Heniy, selama ini memang kisah itu masih beredar dalam lingkungan internal keluarga Orang Kalang. Namun menurut dia, dalam era Sultan HB IX ada kedekatan antara tokoh-tokoh penting Orang Kalang dengan pihak Kraton. Sehingga ketika Sultan Hamengku Buwono IX menyokong roda pemerintahan dengan membagikan uang sebagai gaji kepada para pejabat saat itu. Bisa jadi begitu dalam analisa Heniy, ada uang Orang Kalang yang ikut disumbangkan dalam menyokong pemerintah Republik saat beribukota di Yogyakarta.

“Ini memang masih membutuhkan penelitian yang lebih mendalam, tapi peran Orang Kalang dalam Kemerdekaan dengan menyokong satu pedati atau gerobak peti berisi uang itu memang ada. Itu kita sedang mendalami,” pungkasnya. (Teguh)

 

 

Read previous post:
Digondol Lelembut Sampai Sragen

KEJADIAN ini dialami Sudin (bukan nama sebenarnya) yang tinggal di Bantul bersama ibu dan neneknya. Sementara sang ayah bekerja di

Close