KAGET GELOMBANG TINGGI-Warga: Biasanya Gelombang Tak Sebesar Ini

MERAPI-BAMBANG PURWANTO Air masih menggenangi pantai di Gunungkidul usai dihantam gelomgbang tinggi.
MERAPI-BAMBANG PURWANTO
Air masih menggenangi pantai di Gunungkidul usai dihantam gelomgbang tinggi.

BANTUL (MERAPI)- Warga yang tinggal di Pantai Selatan sebenarnya sudah terbiasa menghadapi gelombang tinggi yang menerjang tiap tahun. Namun khusus pada Rabu (25/7) kemarin, mereka kompak menyebut hal yang langka karena tingginya ombak yang mencapai 8 meter.
Warga di sekitar Pantai Kuwaru, Bantul, Ngadiman mengatakan terpaksa merobohkan sisa bangunan non permanen warungnya setelah dihantam gelombang. Kayu dan bambu sisa bangunan diselamatkan untuk dibangun kembali setelah kondisi kembali pulih. Di sela pembersihan bersama istri dan kedua anaknya, Ngadiman menceritakan gelombang pada Rabu (25/7) pagi merupakan yang terbesar yang pernah dia alami. Tidak kurang dari 10 warung yang berada di pantai itu rusak. Bahkan material pasir yang terbawa ombak masuk ke warung. Menurutnya, ombak yang terjadi sejak Kamis (19/7) itu sudah diprediksi sebelumnya. Namun dia tidak menyangka gelombang akan sampai merusak warungnya.

“Kalau kami kan hafal kapan ombak naik (pasang), tapi ya kok sampai sebesar ini,” ungkapnya.
Warga lain, Eka Kastiani mengaku terpaksa mengangkut barang-barang termasuk rak dan almari untuk mengantisipasi terjangan gelombang. Dia mengatakan, meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah memprediksi puncaknya terjadi Rabu kemarin, namun Eka tak mengira bakal sedahsyat ini. Dia dan warga lain pun tidak berani ambil risiko dan langsung menjauh. “Ya warung tutup dulu, barang diangkat semua sampai normal lagi,” ujarnya.
Sementara pemilik warung di Pantai Parangtritis, Dardi Nugroho juga menyebut gelombang kali ini yang terbesar. Dardi menjelaskan, bangunan di Pantai ini sebenarnya sudah dibuat lebih tinggi. Saat gelombang pasang seperti biasanya, meski diterjang, namun tidak sampai masuk ke dalam warung. Manurutnya, dalam setahun terakhir, gelompang pasang kali ini merupakan yang paling besar. Dia berharap situasi akan kembali normal dan warga setpat bisa kembali berakrivitas di warung atau melaut. “Kapal jelas tidak ada yang berani cari ikan,” imbuhnya.
Koordinator SAR Satlinmas Pantai Trisik-Bugel, Kulonprogo, Joko Samudro juga mengatakan hal yang sama. “Sudah sejak minggu lalu (gelombang tinggi). Tapi ini yang paling besar,” katanya.

Data dari SAR wilayah operasi V, Pantai Glagah, Congot, Trisik dan Bugel menyebutkan, di Pantai Bugel dua warung, 10 perahu dan lahan pertanian rusak ditambah empat pohon cemara hanyut. Kemudian di Pantai Glagah, 30 warung, enam kolam renang, lima toilet dan 10 perahu rusak serta ada genangan air setinggi satu meter di jalan masuk pantai.
Di Pantai Congot 12 warung, tiga kolam renang serta akses jalan masuk rusak. Sementara itu, di Pantai Mangrove gelombang tinggi merusak tiga warung, 10 gazebo dan 10 tambak udang.
Seperti diketahui, terjangan gelombang tinggi di Pantai Selatan Jawa mencapai puncaknya pada Rabu (25/7) dan merupakan yang terparah selama sepekan terakhir. Gelombang yang menghantam setinggi 7 hingga 8 meter itu memporak-porandakan kawasan Pantai Selatan DIY. Ratusan bangunan hancur dan ratusan warga mengungsi. (C1/Unt)

Read previous post:
Pilkada Rampung, Stop Perselisihan

KARANGANYAR (MERAPI) - Sekat perselisihan antarkelompok masyarakat diharapkan pupus pascapilkada serentak. Masyarakat diminta bersinergi membangun Kabupaten Karanganyar dalam lima tahun

Close