Tolak Rumah Dirobohkan, Sumiyo Panjat Genteng

MERAPI-AMIN KUNTARI Petugas berusaha mengevakuasi Sumiyo, warga penolak pembangunan Bandara NYIA yang nekat memanjat genteng rumah saat hendak dirobohkan.
MERAPI-AMIN KUNTARI
Petugas berusaha mengevakuasi Sumiyo, warga penolak pembangunan Bandara NYIA yang nekat memanjat genteng rumah saat hendak dirobohkan.

TEMON (MERAPI) – Hari kedua proses pemindahan warga penolak pembangunan Bandara NYIA berikut perobohan rumah-rumah yang sebelumnya ditinggali, Jumat (20/7), tetap mendapat perlawanan dari warga dan aktivis. Petugas perempuan dari Satpol PP bahkan terluka di bagian tangan setelah digigit kuat-kuat oleh warga.
Selain menggigit, warga juga kembali menyiram petugas dengan garam. Aksi saling dorong antara petugas dengan warga tak bisa dihindarkan. Salah satu warga penolak, Sumiyo, bahkan nekat memanjat genteng rumahnya sejak pagi sebelum petugas datang ke lokasi.
Melihat kedatangan petugas, Sumiyo justru berpegangan pada besi listrik di atap rumahnya. Petugas terus memintanya turun, namun ia semakin kuat berpegangan sambil merapal doa-doa. Tindakan tegas akhirnya diambil. Empat petugas naik ke atap dengan bantuan alat berat dan berupaya mengajak Sumiyo turun. Usaha tersebut mendapat perlawanan hingga jumlah petugas ditambah menjadi enam orang untuk memaksa Sumiyo turun dan menjauh dari rumahnya yang hendak dirobohkan.

Tindakan petugas merobohkan rumah, menuai caci maki dan sumpah serapah warga. Ironisnya, dua anak seusia SD dan masih berseragam sekolah turut memaki petugas dengan kata-kata kotor. Seorang warga perempuan bahkan nekat menggigit tangan petugas saat dibawa menjauh dari rumah, hingga menimbulkan luka.
Kapolres Kulonprogo, AKBP Anggara Nasution menjelaskan, upaya persuasif tetap dikedepankan pihaknya dalam pengamanan yang menerjunkan 700 personel gabungan tersebut. Baginya, permasalahan kecil yang muncul saat pengamanan merupakan hal yang lumrah.
“Riak kecil pasti ada, namun pengamanan berjalan lancar. Hal lain seperti dorong-dorongan, itu lumrah, karena suasana sedikit panas, meski personel kami tidak terpancing tapi itu lumrah,” katanya.
Dalam pengamanan, dua aktivis sempat dihalau petugas karena dianggap mengganggu proses pengosongan lahan. Meski demikian, dua aktivis tersebut tidak ditahan, melainkan hanya dibawa menjauh dari lokasi.

Berbeda dengan hari sebelumnya, perobohan rumah sempat diwarnai negosiasi oleh warga dan petugas. Tiga warga meminta agar kayu-kayu kusen serta genteng di rumah tersebut diselamatkan sebelum perobohan.
“Ini dibutuhkan. Jangan dibawa pergi, ditumpuk saja di sana, nanti saya bereskan,” kata salah satu warga penolak, Ngadiman.
Ngadiman mengaku sangat sedih, rumah yang ditinggalinya selama berpuluh-puluh tahun bersama istri dan tiga anak, harus dirobohkan demi kepentingan pembangunan Bandara NYIA.
“Mboten pengen (ambil uang konsinyasi), karena tidak sesuai harapan saya. Sekarang saya tidak ada tujuan, nggak tahu mau ke mana,” keluhnya.
Meski sudah disediakan rumah kontrakan dan rusunawa, Ngadiman tetap menolak pindah karena sudah nyaman hidup di desa. Selain sempit, rusunawa juga membuatnya tidak bisa memelihara hewan ternak seperti sampi dan kambing, juga tidak ada lahan untuk bertani.

Menanggapi hal ini, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo berjanji akan mengurus warga dan membantu mereka, baik yang bersedia direlokasi maupun yang sempat menolak. Berbagai pihak akan dilibatkan dalam penanganan warga pascarelokasi, seperti Forkompinda dan PT Angkasa Pura I.
“Saya bersyukur, warga diberikan hidayah sehingga reaksinya tidak berlebihan dan bisa bekerjasama. Sekarang bagaimana kita urus warga, membantu mereka terutama yang gagal, karena kesuksesan kami adalah melayani yang kecewa tetapi tetap harus pindah,” urainya. (Unt)

 

Read previous post:
PSS Tak Gentar Rekor Tandang Ciamik Blitar United

SLEMAN (MERAPI) -  PSS Sleman akan menjamu Blitar United yang punya rekor bagus saat bertandang ke kandang lawan Sabtu (21/7)

Close