PENGOSONGAN TAHAP AKHIR LAHAN BANDARA NYIA RICUH-Warga Dibopong Paksa Keluar Rumah

MERAPI-AMIN KUNTARI Petugas membopong paksa warga yang menolak keluar dari rumahnya sebelum dirobohkan saat proses pengosongan lahan bandara NYIA.
MERAPI-AMIN KUNTARI
Petugas membopong paksa warga yang menolak keluar dari rumahnya sebelum dirobohkan saat proses pengosongan lahan bandara NYIA.

TEMON (MERAPI) – Sebanyak 23 rumah yang sebelumnya masih ditinggali warga penolak di area pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kulonprogo akhirnya dirobohkan paksa, Kamis (19/7). Proses pengosongan lahan pembangunan Bandara NYIA itu diwarnai kericuhan. Warga yang masih ngotot tinggal di rumah dibopong paksa, kemudian rumah mereka dihancurkan.
Meski sebagian warga bersedia pindah, namun sebagian lainnya tidak terima atas perobohan rumah tersebut dan ngotot tetap tinggal di area pembangunan bandara.
Salah satunya Ponirah. Saat proses pengosongan dimulai, pintu dan jendela rumahnya tertutup rapat. Pembacaan maklumat ketetapan hukum atas pengosongan lahan yang memerintahkan warga untuk keluar tidak diindahkan, hingga relawan yang berada di ring I mencongkel dan membuka paksa pintu rumah. Ponirah yang sedang duduk bersila sembari berdzikir mengenakan mukena pun dibopong paksa petugas keluar dari rumah. Begitu pula dengan suaminya yang sedang berada di kamar berbeda.
Caci-maki dan sumpah serapah diteriakkan Ponirah kepada petugas. Ia bahkan tidak mau membawa barang-barang yang dikeluarkan relawan dari rumahnya.

“Pek-en (ambil saja), aku ra arep nggowo (aku tidak akan bawa barang-barang ini),” teriaknya.
Para relawan terus mengeluarkan barang-barang Ponirah, menaikkan ke atas truk, serta menurunkan bendera merah putih yang dipasang di atas genteng. Setelah dipastikan dalam keadaan kosong, rumah itupun dirobohkan. Ponirah menyaksikan perobohan rumahnya sambil berteriak-teriak.
“Aku ora arep nangis. Kabeh ono balesane. (Saya tidak akan menangis. Semua ada balasannya),” katanya.
Tim kemudian bergerak ke rumah-rumah lainnya yang juga masih ditinggali warga penolak. Teknis yang diterapkan petugas juga masih sama, tanpa ada perlawanan berarti dari warga hingga rumah ketiga dirobohkan. Sebagian warga bersikeras tidak mau keluar dan berdzikir di dalam kamar, namun tetap dibopong aparat. Seluruh barang yang ada di dalam rumah pun dikeluarkan relawan.

Di sisi timur area pembangunan Bandara NYIA ini, kericuhan mulai terjadi manakala warga melihat hewan ternaknya diangkut relawan. Mereka mempertanyakan nasib hewan ternak tersebut, termasuk bagaimana petugas akan mengurusnya di tempat yang baru.
“Kui ono nyawane, sopo sik arep makani. (Hewan itu ada nyawanya, siapa yang mau kasih makan nanti),” teriak warga.
Warga kemudian melarang petugas membawa barang-barang mereka dan bersikeras agar tetap ditinggalkan di samping reruntuhan bangunan. Perdebatan terjadi karena petugas tetap meminta agar barang-barang tersebut dikeluarkan dari area pembangunan bandara. Seorang warga kemudian mengancam akan membakar barang-barang dengan menyulut bensin dalam jirigen. Beruntung, tindakan tersebut berhasil dicegah petugas. Sempat terjadi keributan di area ini, manakala pihak lain datang dari luar pagar dan memancing emosi aparat. Petugas Dinas Sosial yang mengajak warga naik kendaraan untuk pindah juga ditolak mentah-mentah dan dimaki-maki.
Tim kemudian memilih bergerak ke rumah yang lain. Sasaran berikutnya yakni rumah Wagirah. Para penghuni rumah menutup pintu dan jendela rapat-rapat, sembari melafalkan doa-doa dari dalam. Petugas yang mencongkel pintu rumah tersebut kemudian disambut dengan teriakan saat Wagirah keluar sembari melempari petugas dengan garam.

Aksi Wagirah semakin menjadi-jadi manakala petugas berusaha memegang tubuhnya. Ia berlari keluar, mengambil tanah kemudian disebarkan ke arah petugas secara terus menerus. Ia juga menggigit tangan petugas yang berusaha mengendalikannya.
“Aku ora trimo omahku dimbrukke. (Saya tidak terima rumah saya dirobohkan),” teriaknya.
Sejumlah warga lain termasuk Ponirah kemudian berdatangan untuk membantu, namun langsung dihadang barisan petugas. Mereka memaki-maki aparat, namun tidak melakukan tindakan berarti. Salah satu di antaranya bahkan membuka baju untuk menghalau petugas. Rumah Wagirah menjadi rumah terakhir yang dirobohkan sebelum istirahat siang.
Kapolres Kulonprogo, AKBP Anggara Nasution mengatakan, petugas gabungan yang dilibatkan dalam pengamanan sebanyak 700 personel dengan mengutamakan negosiasi dan tindakan persuasif. Kapolres menilai, tidak ada hal-hal yang mengganggu pelaksanaan kegiatan.
“Kegiatan ini dijadwalkan tiga hari, sampai tanggal 31 Juli, namun kita lihat perkembangan situasi di lapangan,” ujarnya.

Dalam giat ini, menurut AKBP Anggara, tidak ada warga yang ditahan, benda yang dirobek dan hewan yang dilukai. Prosedur yang dilakukan sudah sesuai standar. Terkait kemungkinan adanya aktivis yang masuk, Kapolres tidak mempersoalkan, sepanjang tidak menimbulkan permasalahan yang bisa mengganggu pekerjaan pembangunan bandara.
“Warga dipindahkan ke rumah yang baru. Tadi pas saya di sebelah timur, ada yang minta tolong untuk dipindahkan ke Panjatan, lalu kita bantu,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu warga yang sukarela pindah, Pardi mengatakan, dirinya akan menempati rumah baru di Glagah. Selama ini, ia bertahan di area pembangunan Bandara NYIA karena mengikuti saudara dan tetangganya.
“Yang nolak itu yang punya rumah (yang ditempatinya). Sekarang saya pindah ke Glagah,” katanya. <B>(Unt)<P>

 

Read previous post:
CERITA MISTERI – Bunga Mawar Berwarna Pink

KESEDIHAN Marini (bukan nama sebenarnya) amat mendalam ketika sahabatnya mendadak sakit dan meninggal. Dari rumah sakit hingga menjelang dimakamkan, ia

Close