UPAYAKAN KESELAMATAN ANAK ‘SUKERTO’ – Lestarikan Tradisi Ruwatan

MERAPI-TRI DARMIYATI Anak-anak yang masuk golongan anak ‘Sukerto’ disiram air kembang oleh dalang dalam prosesi Ruwatan Massal yang diadakan Paguyuban Roso Tunggal.
MERAPI-TRI DARMIYATI
Anak-anak yang masuk golongan anak ‘Sukerto’ disiram air kembang oleh dalang dalam prosesi Ruwatan Massal yang diadakan Paguyuban Roso Tunggal.

USAI pementasan wayang dengan cerita Batara Kala mencari mangsa anak ‘Sukerto’, belasan anak antre menunggu panggilan di belakang latar panggung. Sang dalang lalu memanggil dan memotong sebagian rambut anak-anak itu satu persatu. Setelah itu anak-anak mengenakan kain mori putih lalu dalang membaca doa dan menyiram air bunga di atas kepala mereka.

Sebagian dari mereka terlihat senang dan sebagian yang masih berusia balita menangis.

Demikian suasana prosesi ruwatan massal anak Sukerto yang diadakan oleh Paguyuban Roso Tunggal di Jalan Soga, Celeban, Kelurahan Tahunan Kecamatan Umbulharjo Yogya, pada Sabtu (7/7). Kegiatan tradisi Ruwatan yang pertama kali diadakan di wilayah itu juga menjadi tontongan masyarakat sekitar. Terutama saat prosesi potong rambut dan mandi kembang.

“Kegiatan ini wujud dari Sanggar Pedhalangan Roso Tunggal untuk meletarikan tradisi Ruwatan. Ini juga sekaligus membantu masyarakat yang memiliki anak ‘Sukerto’ dari keluarga yang kurang mampu,” kata Ketua Sanggar Paguyuban Pedalangan Roso Tunggal, Marjuni kepada Merapi di sela Ruwatan, kemarin.

Dia menuturkan anak ‘Sukerto’ adalah istilah anak-anak yang perlu diruwat untuk menghilangkan hal-hal negatif dari anak Sukerto seperti tidak tenteram dan mendapat halangan dalam hidup. Anak yang masuk dalam ‘Sukerto’ di antaranya anak tunggal laki-laki dan perempuan, dua anak perempuan dan laki dalam satu keluarga, anak kembar sepasang, lima anak laki-laki di satu keluarga dan anak tiga perempuan di tengah diapit 2 laki-laki.

“Menurut cerita pewayangan anak ‘Sukerto’ kalau tidak diruwat akan ada halangan dan ada rasa tidak tenteram. Misalnya ada satu peserta ruwatan usianya sudah 70 tahun sering ditabrak di jalan raya. Masih ada sebagian warga yang mempercayai tradisi ruwatan ini untuk menghilangkan hal negatif dari anak ‘Sukerto,” terangnya.

Prosesi tidak berhenti usai pemandian. Potongan rambut, baju yang dipakai anak saat Ruwatan dan kain mori yang dipakai harus dilabuh ke sungai besar. Dia menyatakan hal itu bertujuan untuk menghilangkan hal-hal negatif dari Sukerta. Selain itu harus ada perubahan nama anak dalam periode tertentu misalnya menjadi nama Rahayu dengan periode 1 tahun. Tapi tidak sampai mengubah nama di kependudukan.

Sementaraitu Penasehat Paguyuban Roso Tunggal KMT GD Dwijo Wijoyo mengutarakan anak ‘Sukerto’ adalah cerita pewayangan yang turun temurun. Dulu yang tradisi ruwatan dipercaya untuk menghilangkan gangguan yang tidak terlihat pada anak Sukerto. Diharapkan dengan Ruwatan anak ‘Sukerto’ mendapat keselamatan. Kini tradisi Ruwatan jarang digelar karena sebagian masyarakat ada yang tidak mempercayai dan biayanya mahal lantaran perlu pentas pewayangan. Makanya difasilitasi lewat Ruwatana Bersama.

“Kini kegiatan Ruwatan ditekankan pada tradisi karena hal yang baik dan berbudaya perlu dilestarika Ruwatan ini salah satu tradisi budaya Jawa. Apalagi kini terutama kaum muda jauh dari kegiatan budaya dan tradisi,” papar Dwijo.

Sedangkan salah satu orangtua anak peserta Ruwatan Massal, Jumono menyatakan mengikutkan putri semata wayangnya dalam kegiatan itu sebagai salah satu upaya untuk keselamatan anak. Meski demikian diakuinya selama ini tidak ada gangguan yang dialami anaknya. “Untuk keselamatan saja dan melestarikan tradisin Ruwatan,” imbuh warga Tamanan, Banguntapan Bantul itu. (Tri)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Dandim Sleman Cek Kesiapan TMMD

SLEMAN (MERAPI) - Komandan Kodim (Dandim) 0732/Sleman Letkol Inf Diantoro, Sabtu (7/7) melakukan pengecekkan kesiapan lokasi yang akan dijadikan sebagai

Close