Pembunuh Gadis Difabel di Sedayu Dihukum 19 Tahun

MERAPI-YUSRON MUSTAQIM Terdakwa (kiri membelakangi lensa) dikeluarkan dari sel tahanan PN Bantul untuk menjalani persidangan.
MERAPI-YUSRON MUSTAQIM
Terdakwa (kiri membelakangi lensa) dikeluarkan dari sel tahanan PN Bantul untuk menjalani persidangan.

BANTUL (MERAPI)- Terdakwa Andreas Frasiskus K alias Andreas (42) warga luar Yogya divonis 19 tahun penjara potong masa tahanan dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Bantul, Kamis (5/7). Terdakwa terbukti membunuh dan memperkosa gadis difabel Utami Dwi Cahyo (27) warga Jalan Yogya–Wates Dusun Plawonan, Argomulyo, Sedayu Bantul.
Vonis yang dijatuhkan hakim diketuai Laily Fitria Titin Anugerahwati SH itu lebih ringan dari tuntutan jaksa M Ali Fikri Pandela SH MH yang sebelumnya menuntut 20 tahun penjara. Sidang vonis tertunda sepekan karena terdakwa tak didampingi penasihat hukum.
Dalam persidangan terungkap jika Majelis hakim sependapat dengan jaksa bahwa terdakwa terbukti bersalah dan meyakinkan telah membunuh dan memperkosa gadis difabel, Utami Dwi Cahyo. Atas putusan majelis hakim, terdakwa didampingi penasihat hukum Hermawati SH menyatakan menerima dan tak akan banding.
“Vonis hakim terbilang masih cukup tinggi. Tetapi terdakwa memilih untuk menerima sehingga kami sebagai penasihat hukum mengikuti kemauan terdakwa,” ujar Hermawati kepada wartawan usai sidang.

Dalam amar putusan hakim terungkap, perkara ini bermula pada Sabtu 18 November 2017 pukul 05.00 saat terdakwa dari Pasar Gamping Sleman naik bus jurusan Purwokerto. Namun dalam perjalanannya, terdakwa diturunkan di Dusun Plawonan, Argomulyo, Sedayu, Bantul.
Selanjutnya, terdakwa berjalan ke arah barat dan berhenti di warung soto Supini dan diberi teh dengan dibungkus plastik dan nasi bungkus.
Setelah itu terdakwa jalan ke arah barat sekitar 50 meter dan sampai di depan rumah korban Utami Dwi Cahyo. Usai makan nasi, bungkusnya pun dilempar ke pintu rumah korban dan diketahui ternyata tak dikunci.
Selanjutnya terdakwa masuk ke rumah dan menuju kamar korban. Melihat kehadiran terdakwa, saksi korban yang saat itu berada di rumah sendirian kaget. Dia berusaha teriak minta tolong.

Melihat korban teriak, terdakwa lalu membekap mulut korban dengan tangan kiri. Selain itu terdakwa menyumpal mulut dengan baju daster.
Karena korban terus melawan, terdakwa menekan leher korban hingga tak berdaya. Setelah itu terdakwa mengambil kalung liontin emas. Terdakwa juga mengambil HP serta televisi LED 13 inchi dan meninggalkan lokasi.
Polisi yang menyelidiki kasus ini berhasil meringkus pelaku pada 20 November 2017 hingga akhirnya diseret ke pengadilan. (C-5)

 

Read previous post:
DIJAMU PERSIBA BALIKPAPAN – PSS Tak Mau Jemawa

  SLEMAN (MERAPI) - PSS Sleman bakal menghadapi Persiba Balikpapan dalam lanjutan Grup Timur Liga 2 di Stadion Batakan Kamis

Close