PERMUSUHAN GENG PICU AKSI KLITIH-Balas Dendam, Pelajar Bacok Pelajar

 

MERAPI-NOOR RIZKA Kapolresta Yogya menunjukkan cluit yang digunakan tersangka menyerang korban.
MERAPI-NOOR RIZKA
Kapolresta Yogya menunjukkan cluit yang digunakan tersangka menyerang korban.

YOGYA (MERAPI) – Pelaku pembacokan di simpang empat Pingit, Yogya ditangkap polisi. Dua orang ditetapkan sebagai tersangka, yakni Dm (16) dan Ma (14), keduanya merupakan pelajar di Yogya. Tersangka menyerang korban karena dendam dengan geng sekolah korban yang pernah melakukan hal serupa.
“Jadi, tersangka ini dendam dengan salah satu geng pelajar. Korban dianggap sebagai anggota geng itu, lalu diserang. Alasannya balas dendam karena geng tersangka pernah diserang geng korban,” kata Kapolresta Yogya AKBP Armaini kepada wartawan, Kamis (28/6).
Dijelaskan, penganiayaan dilakukan tersangka pada Sabtu (2/6) dini hari. Saat itu, korban Fildzah Syahri Ramadhan (14) bersama tiga temannya, bermaksud mencari makan sahur. Sesampainya di simpang empat Pingit, korban didekati rombongan tersangka yang mengendarai 4 motor. Tanpa sebab yang jelas, tersangka Ma langsung mengeluarkan clurit dan menyerang korban.

“Clurit tersangka Ma mengenai tangan korban. Karena ketakutan, saksi dan korban kabur ke Jalan Magelang. Namun motor ditinggal di TKP,” jelas AKBP Armaini.
Pada saat korban menyelamatkan diri, pelaku tidak langsung pergi. Kesempatan itu digunakan pelaku untuk merusak motor korban dan mengambil kunci motor korban. Beberapa saat kemudian, setelah merasa kondisi aman, korban dan saksi kembali ke TKP untuk mengecek motornya. Ternyata motor sudah dalam kondisi rusak dan kunci kontak hilang. Kejadian itu dilaporkan ke Polsek Jetis Yogya.

Polisi segera melakukan penyelidikan. Seminggu setelah kejadian, tersangka berhasil diamankan. Tersangka Ma diamankan di rumah neneknya wilayah Patran Gamping Sleman. Barang bukti yang diamankan adalah kunci motor korban, motor Honda Vario AB 2959 BE dan clurit.  (Riz)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
HIDAYAH – Dizalimi Saudara Sendiri

NARTO (nama samaran) termangu memikirkan masibnya. Ia merasa selama ini hidupnya kurang beruntung. Sampai usia kepala empat, dengan dua anak

Close