TAK PUAS VONIS HAKIM-Pengunjung Sidang Ngamuk, PN Bantul Dirusak

MERAPI-YUSRON MUSTAQIM Meja piket di lobi PN Bantul dirobohkan massa sidang.
MERAPI-YUSRON MUSTAQIM
Meja piket di lobi PN Bantul dirobohkan massa sidang.

BANTUL (MERAPI)- Sejumlah fasilitas Pengadilan Negeri (PN) Bantul dirusak oleh pengunjung sidang sesaat setelah hakim membacakan vonis 5 bulan penjara dengan masa percobaan 9 bulan terhadap terdakwa Doni Bimo Saptoto (40) warga Cepit Pendowoharjo Sewon Bantul yang juga Ketua Majelis Pimpinan Cabang (MPC) ormas Pemuda Pancasila Bantul, Kamis (28/6). Massa kecewa dengan vonis itu dan meluapkannya dengan merusak gedung PN.
Sejumlah fasilitas yang rusak di antaranya LED Smart 55 inc, monitor CCTV, mesin faksimile, meja pelayanan informasi dan pengumuman, kaca jendela kantor, kursi tunggu pelayanan, pintu kantor, banner informasi dan pelayanan serta pot bunga dan tanaman.
Sejumlah saksi di lokasi kejadian mengatakan, tindakan anarkis itu terjadi sesaat setelah vonis terhadap terdakwa selesai dibacakan. “Setelah vonis dibacakan, massa sebuah ormas berteriak-teriak dengan yel yel. Kemudian selang beberapa saat, massa spontan memecah kaca di sisi timur ruang sidang,” ujar saksi.

Setelah aksi anarkis di sisi timur, puluhan anggota ormas itu makin tidak terkendali. Sejumlah kursi dan pot bunga dekat ruang tahanan digulingkan. Tidak sampai di situ, massa yang sudah terbakar emosinya juga merusak meja pelayanan dan informasi. Setelah meja dirusak tindakan meluas hingga di halaman kantor PN. Kaca dan pot bunga dipecah. Sementara polisi terus berusaha meredam emosi pengujung sidang itu agar tidak merusak fasilitas lainnya.
Kapolres Bantul AKBP Sahat Marisi Hasibuan SIK SH mengatakan, pengrusakan terjadi setelah putusan sidang. “Setelah selesai pembacaan putusan, begitu keluar dari sidang kemudan terjadilah peristiwa itu. Mungkin teman-teman terdakwa tidak puas, sehingga memecah kaca atau pot,” kata Sahat. Menurutnya, yang rusak kaca dan pot, kemudian pihak kepolisian mendorong massa keluar pengadilan agar tidak meluas. Setelah kejadian itu, pihak kepolisian sudah mengumpulkan barang bukti dan saksi. Dalam kasus itu Polres Bantul juga dibackup dari Resmob Polda DIY.

“Soal pengamanan sudah cukup, dari Polsek Bantul 20, dari polres Bantul 42 personel,” ujarnya. Pihaknya juga bakal mengumpulkan barang bukti dalam kasus itu.
Dalam perkara ini, terdakwa selaku Ketua MPC Pemuda Pancasila Bantul pada 8 Mei 2017 sekitar pukul 14.00 mendatangi Kantor Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (Pusham UII) di Jeruklegi Banguntapan Bantul untuk menanyakan izin diskusi dan pameran lukisan yang mengangkat Wiji Tukul. Saat itu terdakwa mengatakan sebagai ormas, Pemuda Pancasila memiliki AD/ART yang intinya menjaga ideologi Pancasila dan menentang paham komunis.
Tetapi kedatangan terdakwa ditanggapi dengan tantangan sehingga menimbulkan gesekan. Dari gesekan tersebut pihak panitia pameran Pusham UII melaporkan ke Polda DIY hingga terdakwa ditangkap. (Roy/C-5)

 

Read previous post:
Membunuh Ibu Kandung

  KASUS pembunuhan seorang guru SD, Debora Sriani Setyawati (50) di rumah orangtuanya di Senjoyo II Bugangan Semarang, Kamis malam

Close