PEMBUNUH MAHASISWA UGM TERANCAM 15 TAHUN PENJARA-Cah Klitih Tak Menyangka Korban Tewas

MERAPI-NOOR RIZKA Polisi menunjukkan pelaku dan barang bukti sajam yang digunakan tersangka untuk membacok korban Dwi Ramdhani.
MERAPI-NOOR RIZKA
Polisi menunjukkan pelaku dan barang bukti sajam yang digunakan tersangka untuk membacok korban Dwi Ramdhani.

YOGYA (MERAPI)- Polisi masih terus mendalami keterangan dua orang cah klitih yang dibekuk setelah membacok hingga tewas mahasiswa UGM Dwi Ramadhani Herlangga (26). Dari keterangan kedua pelaku, yakni Mw (15) dan Ad (19) yang berstatus pelajar ini, mereka tak menyangka aksi pembacokan di Jalan C Simanjuntak Yogya itu menyebabkan korban tewas.
“Dalam waktu 2 x 24 jam, tim opsnal berhasil mengidentifikasi pelaku. Berdasarkan alat bukti, tim langsung menangkap dua pelaku,” papar Kapolresta Yogya AKBP Armaini SIK saat jumpa pers ungkap kasus klitih di halaman tengah Polresta Yogya, Senin (11/6). Dalam kesempatan itu, kedua tersangka beserta barang bukti senjata tajam dihadirkan. Tersangka mengenakan sebo penutup kepala.
Menurut Armaini, pascakejadian itu, kedua pelaku tak menyangka jika korban tewas. Mereka masih tenang dan pulang ke rumah seperti biasa. Namun sehari kemudian, setelah membaca berita di media sosial, keduanya langsung terperangah kaget. Tak disangka, orang yang dibacok meninggal dunia. Mw dan Ad ketakutan dan memilih bungkam. Mereka tidak menceritakan kejadian tersebut pada siapa pun, termasuk pada keluarganya.

“Mereka sangat ketakutan begitu mengetahui korban meninggal dunia. Tapi tidak cerita dengan siapa pun. Keluarga juga baru tahu, setelah tersangka diringkus polisi,” ujar Kasat Reskrim Polresta Yogya Kompol Sutikno.
Usia tersangka dibekuk, ujar Sutikno, pihak keluarga menangis tak percaya melihat Mw dan Ad digelandang ke kantor polisi. Namun apa daya, hukum tetap harus ditegakkan. Meski masih berstatus pelajar, keduanya tetap menjalani proses hukum sebagaimana mestinya.
Menurut Sutikno, peran Mw dalam kejadian itu adalah sebagai joki atau orang yang mengendarai motor. Sedangkan Ad adalah eksekutor yang membacok korban.

Motif pembacokan, jelas Sutikno, karena tersangka dendam dengan kelompok tertentu karena dua minggu sebelum kejadian, Ad pernah disabet gir oleh gerombolan klitih. Ad terluka di bagian kaki, tapi memilih tidak lapor polisi.
Selanjutnya pada Kamis (7/6), tersangka merencanakan aksi balas dendam dengan mencari sasaran di Jalan C Simanjuntak. Setelah melihat korban melintas membonceng temannya, pelaku pun langsung beraksi membacoknya.
“Jadi mereka ini salah sasaran. Mereka hanya mengingat motor yang diakuinya pernah menyerang mereka. Kebetulan motor yang dikendarai korban mirip. Padahal tidak kenal siapa orangnya,” imbuhnya.
Menurut Sutikno, alasan pelaku menyerang korban hanya gara-gara mencurigai salah satu motor pernah melukai pelaku.
“Korban mengalami luka bacok serius di bagian pinggang sebelah kiri, panjang 6 cm dengan kedalaman 8 cm, tembus ke paru-paru. Sempat dirawat 4 jam. Tapi kehabisan darah dan meninggal dunia,” jelasnya.
Akibat perbuatannya, Ad dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan berat yang menyebabkan korban meninggal dunia. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara. Sedangkan Mw dijerat Pasal 56 junto Pasal 351 KUHP. (Riz)

 

Read previous post:
DILEPAS WAGUB DIY – Ribuan Pedagang Warmindo Mudik Gratis

SUDAH menjadi tradisi PT Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Mie Semarang memberikan fasilitas mudik gratis kepada pedagang Indomie yang lebih

Close