LETUSAN MERAPI BIKIN KACA RUMAH WARGA BERGETAR-Lontaran Material Bakar Hutan Merapi

MERAPI-SAMENT0 SIHONO Warga mengungsi di Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan setelah terjadi letusan kemarin.
MERAPI-SAMENT0 SIHONO
Warga mengungsi di Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan setelah terjadi letusan kemarin.

UMBULHARJO (MERAPI)- Gunung Merapi kembali meletus pada Jumat (1/6) pukul 08.20 WIB dengan ketinggian kolom letusan 6.000 meter dan durasi 2 meter. Usai letusan tampak asap putih di area hutan di sektor barat laut yang mengindikasikan adanya vegetasi terbakar. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menduga kebakaran itu karena lontaran material dari letusan Merapi kemarin.
BPPTKG Yogyakarta menerima laporan penampakan asap putih di area hutan sektoar barat laut dari Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Jrakah dan Babadan. Area hutan di barat laut yang terlihat asap putih itu berjarak 1,5 km dari puncak Gunung Merapi.
“Asap putih itu kemungkinkan mengindikasikan adanya vegetasi yang terbakar. Dilihat dari rentetan waktunya, sepertinya iya (karena lontaran material). Tapi perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan penyebabnya,” kata Kepala Seksi Gunung Merapi, BPPTKG Yogyakarta, Agus Budi Santosa, dalam jumpa pers, Jumat (1/6).

Menurutnya indikasi vegetasi terbakar itu wajar karena berkaca pada letusan Gunung Merapi tahun 2013 lontarannya sampai Pasar Bubrah. Sedangkan kejadian kemarin indikasi vegetasi terbakar berjakar sekitar 1,5 km dari puncak, sehingga sesuai rekomendasi BPPTKG radius 3 km dari puncak harus steril aktivitas penduduk.
Letusan Gunung Merapi kemarin juga berbeda dengan letusan sebelumnya. Dia menjelaskan sebelum letusan tercatat ada kegempaan Vulkanotektonik(VT) dalam sebanyak 5 kali pada Kamis (31/5). Gempa VT itu menunjukkan adanya aktivitas magma. Pada letusan-letusan Merapi sebelumnya seperti pada 11 Mei 2018 ada aktivitasi kegempaan itu tapi tidak diikuti letusan.
“Terjadinya gempa vulkanotektonik ini menunjukkan kontribusi proses magmatis lebih dominan pada letusan Jumat (1/6) pagi,” ujarnya.

Meski demikian, pergerakan magma ke permukaan diperkirakan masih membutuhkan waktu. Dia menyatakan kecepatan pergerakan magma dan gas berbeda. Kecepatan letusan berupa gas lebih tinggi. Sedangkan magma lebih kental sehingga kecepatan magma lebih lambat untuk bergerak ke atas. Dia menyebut berdasarkan referensi secara umum kecepatan magma berkisar 17-40 meter/hari. Namun referensi itu tidak bisa dipegang sepenuhnya untuk menghitung perkiraan kapan magma akan keluar.
“Pergerakan magma ke permukaan masih membutuhkan waktu, karena diperkirakan posisi magma kini masih berada di bawah 3 km. Itu berdasarkan kedalaman gempa vulkanotektnik yang terjadi,” terang Agus Budi.
Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida menambahkan, letusan Gunung Merapi menyebabkan hujan abu pukul 08.58 WIB di seputar Pos PGM Jrakah dan pukul 09.02 WIB hujan abu di seputar Pos PGM Selo. Hujan abu bahkan sampai wilayah Boyolali, Semarang dan Salatiga.

Letusan kemarin mengagetkan warga di lereng Merapi. Sebagian dari mereka kemudian berinisiatif mengungsi. Sabardi salah seorang warga Sleman mengaku sempat merasakan getaran kuat saat erupsi terjadi. Kuatnya getaran sempat dirasakan hingga 1 menit tersebut membuat kaca dalam rumah juga ikut bergetar.
“Getarannya kuat, kaca kantor sampai ikut bergetar. Seperti gempa,” tandasnya. Sementara itu, Amik (48) salah seorang penjual di sekitar tempat wisata Kali Kuning, Cangkringan mengatakan sempat berlari ke selatan untuk menyelamatkan diri. Ia khawatir letusan Merapi besar seperti tahun 2010 lalu.

“Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan semua pembeli berlari ke luar dari warung. Kami masih trauma dengan erupsi Merapi 2010 yang letusannya sampai di daerah sini,” jelasnya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman Makwan menjelaskan ratusan warga sempat mengungsi, namun mereka sudah kembali ke rumah. Meski begitu di Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan masih ada 60 lansia menungsi.
“Warga yang sempat mengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing. Masyarakat yang berada di radius bahaya 3 km, harus lebih hati-hati,” imbaunya. (Tri/Shn/Awn/Awh)

 

 

Read previous post:
PAGUYUBAN VESPA YOGYAKARTA (PAPAYA) – Kopi Darat Pererat Persaudaraan ‘Scooter’

SAAT melintas di jalan raya kita biasa menemukan kendaraan Scooter Vespa, baik keluaran lawas maupun baru. Ini menandakan masih banyak

Close