GUNUNG MERAPI MENUJU LETUSAN LELEHAN-Mirip Erupsi 2006, Tak Sebesar 2010

MERAPI-TRI DARMIYATI Hanik Humaida memberikan penjelasan terkait kondisi Gunung Merapi dari hasil pemantauan dan analisis material abu yang dikeluarkan.
MERAPI-TRI DARMIYATI
Hanik Humaida memberikan penjelasan terkait kondisi Gunung Merapi dari hasil pemantauan dan analisis material abu yang dikeluarkan.

UMBULHARJO (MERAPI)-  Aktivitas Gunung Merapi pada Jumat (25/5) sampai siang tidak mengalami erupsi dan masih dinyatakan dalam kondisi Waspada (Level II). Dari hasil pengamatan dan analisis material yang dikeluarkan, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta memperkirakan Gunung Merapi akan menuju erupsi efusif atau bersifat lelehan.
“Kecenderungannya akan terjadi erupsi efusif. Sifatnya meleleh, tidak ada pressure (tekanan) sangat tinggi ke atas,” kata Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida kepada para media, Jumat (25/5).
Menurutnya, letusan cenderung bersifat efusif salah satunya melihat dari aktivitas perubahan bentuk dan ukuran atau deformasi yang kecil pada Gunung Merapi. Kondisi itu dipengaruhi oleh magma yang dikeluarkan pelan-pelan lantaran bersifat encer, sehingga tekanannya tidak cukup kuat mendorong tubuh gunung api. Letusan bersifat efusif itu juga termasuk letusan magmatis.

“Dengan erupsi bersifat efusif, dampaknya seperti erupsi 2006. Erupsinya relatif tidak sebesar 2010. Jangan dibayangkan sama seperti erupsi magmatis pada 2010,” tambahnya.
Dia menyatakan dengan erupsi atau letusan bersifat efusif ada kemungkinan membentuk kubah lava baru. Ketika kubah lava baru terbentuk dan jika ada tekanan sangat kuat dari dalam, maka akan terjadi letusan.
Menurut Hanik, tanda-tanda Gunung Merapi menuju proses magmatis juga dikuatkan dari hasil analisis material abu yang dilontarkan saat erupsi freatik pada 11 Mei 2018 dan 21 Mei 2018. Material abu yang dianalisa adalah abu di sekitar pos pantau Merapi di Telogo Putri Kaliurang. Hasilnya material abu yang dikeluarkan berbeda. Pada letusan 21 Mei 2018 materialnya memiliki kadar asam yang lebih tinggi dari hasil material letusan 11 Mei 2018. Dia juga menyebut kandungan kristal pada material abu naik dari 32 persen menjadi 94,7 persen.
“Hasil analisa menunjukkan material erupsi adalah material-material baru yang berasal dari dalam Gunung Merapi. Bukan material-material lama yang ada di permukaan. Produk material yang dilontarkan pada 21 Mei sama dengan erupsi 2006 bersifat asam,” terang Hanik.

Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Sleman melakukan perbaikan jalur evakuasi di Jalan Merapi Golf, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (25/5). Perbaikan jalan tersebut sebagai jalur evakuasi bila terjadi erupsi Merapi.
Sebagai jalur evakuasi, jalan sepanjang empat kilometer ini mengalami perbaikan lantaran kondisinya sudah mulai rusak. Selain memudahkan evakuasi, perbaikan jalan alternatif ini rutin dilakukan oleh Kabupaten Sleman pada jalan rusak.
“Jalan ini merupakan jalur evakuasi, sehingga diharapkan kalau ada bencana, evakuasi bisa dilakukan secara cepat,” ujar Agus Triyanto, petugas pemelihara jalan DPU Kabupaten Sleman.
Menurut Agus, tidak hanya jalur evakuasi yang mengalami perbaikan, tapi seluruh jalan rusak yang ada di Kabupaten Sleman juga mengalami perbaikan setiap hari. Ia menargetkan perbaikan jalan ini akan selesai pada Sabtu, (26/5) besok.
Perbaikan sendiri menurut Agus hanya dilakukan dengan cara menambal menggunakan aspal pada bagian yang berlubang. “Perbaikan hanya dilakukan dengan cara menambal pada bagian aspal yang berlubang, sehingga jalan kembali halus,” tandasnya. (Tri/Shn)

 

 

Read previous post:
MERAPI-SAMENTO SIHONO Barang bukti pistol mainan yang digunakan dua perampok salon.
DIRAMPOK DI SIANG BOLONG-Pengusaha Salon Ditodong Pistol

GAMPING (MERAPI)-  Dua orang perampok, yakni HP alias Helem (37) warga Gowongan, Jetis, Yogya dan MIW alias Irvan (31) warga

Close