TERMASUK MACAN, KIJANG DAN BABI HUTAN-Satwa Merapi Belum Turun Gunung

TERMASUK MACAN, KIJANG DAN BABI HUTAN Satwa Merapi Belum Turun Gunung
MERAPI-ANTARA/ANDREAS FITRI ATMOKO
Petugas Balai Nasional Taman Nasional Gunung Merapi melakukan pengamatan dan pendataan satwa serta tumbuhan di lereng Gunung Merapi, Selasa (22/5).

SLEMAN (MERAPI) –  Terkait aktivitas Gunung Merapi yang mulai meningkat, dimungkinkan satwa di lereng Merapi akan turun gunung. Untuk itu, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) mengimbau kepada masyarakat agar bisa bersikap bijak jika mengetahui ada pergerakan satwa. Namun sejauh ini, belum terpantau adanya migrasi satwa, meski Gunung Merapi sudah berulangkali meletus freatik.
Hal itu diungkapkan Petugas Pusat Data dan Informasi Balai TNGM Susilo Ari Wibowo kepada wartawan, terkait adanya surat edaran tentang penyikapan terhadap aktivitas pergerakan satwa dari kawasan TNGM.
Susilo mengatakan, TNGM adalah tempat konservasi bagi tumbuhan. Baik yang dilindungi oleh Undang-undang maupun tidak. Imbauan tersebut menurutnya tidak terbatas pada kenaikan status Gunung Merapi yang saat ini sudah menjadi waspada. Hanya saja jika status Gunung Merapi terus naik, tidak menutup kemungkinan akan terjadi migrasi satwa.

“Satwa yang hidup di TNGM itu ada yang mamalia maupun burung. Untuk burung mungkin yang paling terlihat karena hidupnya di udara. Namun sampai sekarang kami pastikan belum ada pergerakan satwa,” ujarnya.
Saat disinggung jenis satwa apa saja yang ada di sekitar Balai TNGM, Susilo menuturkan, untuk jenis mamalia kemungkinan adalah Macan, Kijang, Babi Hutan atau yang pergerakannya secara rombongan. Seperti Kera ekor panjang dan Lutung. Untuk burung, yang dilindungi adalah Elang yang berada di sisi selatan, timur, tenggara dan barat.
“Bukan Harimau, ya. Tapi Macan. Hanya saja dari pantauan kami dalam beberapa tahun terakhir, ada atau tidaknya Macan belum terpantau. Kalau dari laporan masyarakat dan cerita warga sekitar memang ada. Tapi kami belum pernah memiliki bukti, baik berupa foto dan sebagainya. Meski demikian kami juga tetap waspada,” urainya.
Dalam surat edaran tersebut, Balai TNGM berharap masyarakat dapat menyikapinya dengan bijaksana jika menjumpai pergerakan satwa Merapi. Bijaksana di sini dijelaskan Susilo, karena pada dasarnya satwa itu sama dengan manusia. Mereka juga butuh tempat tinggal yang aman dan nyaman. Jika tempat tinggal mereka selama ini sudah membahayakan, tentu mereka juga akan mengungsi untuk sementara.

“Silakan berbagi ruang dengan mereka. Karena mereka juga membutuhkan hidup seperti kita. Ketika nanti kondisi atas sudah normal, pasti akan kembali ke posisi semula. Sama seperti manusia. Butuh hidup yang aman dan nyaman. Jika dirasa mengganggu cukup dihalau saja. Kalau tidak mengganggu, biarkan lewat saja,” ujarnya.
Masyarakat juga tidak perlu menangkap satwa tersebut lalu menyerahkan ke Balai TNGM. Karena untuk menangkap satwa apalagi kalau dilindungi itu juga harus ada aturannya.
Sementara itu, Balai TNGM juga mengeluarkan surat edaran tentang penutupan objek wisata di kawasan TNGM, Tlogo Putri dan Tlogo Nirmolo di Kaliurang Pakem, Panguk dan Pluyon Kalikuning Cangkringan, Deles Kelamang Klaten, Jurang Jero dan Srumbung Magelang serta Pendakian Gunung Merapi baik dari Sapuangin maupun Selo.
“Objek wisata tersebut untuk sementara ditutup sampai dengan batas waktu yang akan ditentukan. Setelah ada peninjauan kembali perubahan aktivitas Gunung Merapi,” jelas Kepala Balai TNGM Ammy Nurwati. (Awh/Shn)

 

Read previous post:
Penguatan Ekonomi DIY Berlanjut di 2018

YOGYA (MERAPI) - Penguatan ekonomi DIY terus berlanjut di tahun 2018. Pada triwulan I 2018, ekonomi DIY tumbuh sebesar 5,36

Close