STATUS GUNUNG MERAPI JADI WASPADA-Warga Trauma Erupsi 2010

MERAPI-ANTARA/HENDRA NURDIANSYAH Anggota SAR memantau aktivitas Gunung Merapi di Bukit Klangon, Cangkringan, Sleman, sehari usai dinaikkan statusnya jadi waspada, Selasa (22/5).
MERAPI-ANTARA/HENDRA NURDIANSYAH
Anggota SAR memantau aktivitas Gunung Merapi di Bukit Klangon, Cangkringan, Sleman, sehari usai dinaikkan statusnya jadi waspada, Selasa (22/5).

UMBULHARJO (MERAPI)-  Pasca erupsi freatik beberapa kali dan diikuti tremor, akhirnya status Gunung Merapi dinaikan dari level I Normal menjadi level II Waspada sejak Senin (21/5) malam pukul 23.00. Meski belum ada imbauan untuk mengungsi, namun ribuan warga di lereng Merapi memilih mengungsi mandiri. Mereka masih trauma dengan erupsi 2010 yang memakan banyak korban.
“Pada status waspada, mayarakat belum perlu mengungsi. Masyarakat kami imbau tetap tenang dan waspada. Warga kemarin mengungsi secara mandiri di malam hari dan pada pagi hari setelah sahur, mereka sudah kembali ke rumah,” kata Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana, usai rapat koordinasi kesiapsiagaan menghadapi bencana erupsi Gunung Merapi, Selasa (22/5).
Dia menambahkan, pada letusan freatik pada Senin (21/5) petang dan Selasa (22/5) dini hari, warga di lereng Merapi secara mandiri mengungsi. BPBD DIY mencatat total ada 1.572 orang yang mengungsi di 9 titik pengungsian yakni di Balai Desa Glagahharjo, Huntap Singlar, Dukuh Kalitengah Lor, Dukuh Kalitengah Kidul, Balai Desa Argomulyo, Balai Desa Umbulharjo, Turgo, Barak Koripan Sindumartani dan Kecamatan Cangkringan.

Menurutnya, warga mengungsi karena kondisi psikologi yang terbawa seperti erupsi 2010. Meski demikian jika nantinya ada letusan freatik dan ada pergerakan warga mengungsi akan tetap difasilitasi. Termasuk logistik bagi pengungsi. Barak pengungsian yang disediakan dinilai sudah mencukupi karena dalam pembangunannya sudah mempertimbangkan kontijensi bencana.
“Faktor psikologi masyarakat (trauma) yang menyebabkan mereka melakukan evakuasi secara mandiri ke posko-posko yang ada. Itulah yang akan kita sosialisasikan ke masyarakat terkait status Gunung Merapi dan apa saja yang tidak bisa atau bisa dilakukan,” tuturnya.
Dia mengatakan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY memastikan akan mengikuti rekomendasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta terkait status Waspada Gunung Merapi. Terutama memastikan radius 3 km dari puncak Gunung Merapi steril dari aktivitas warga.
“Kami akan mengikuti berdasarkan rekomendasi yang dibuat dari BPPTKG. Radius 3 km dari puncak tidak ada aktivitas warga. Misalnya aktivitas warga mencari kayu bakar maupun rumput di radius 3 km, ya itu diminta tidak dilakukan,” kata Biwara Yuswantana.

Untuk pengosongan aktivitas wara pada radius 3 km dari puncak Merapi itu, pihaknya akan bekerja sama dengan Taman Nasional Gunung Merapi dan Pemkab Sleman. Dia menyebut tempat tinggal penduduk di lereng Merapi paling jauh berjarak sekitar 5 km dari puncak Gunung Merapi.
“Wisata lava tour boleh asal lokasinya tidak pada radius 3 km dari puncak Gunung Merapi,” imbuhnya.
Sementara itu Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida menjelaskan, BPPTKG Yogyakarta mencatat belum ada indikasi pergerakan magma di dalam Gunung Merapi.
“Ada letusan freatik berulang dengan jeda sekitar 8 jam, ada gampa vulkanik dan gempa tremor. Itulah yang menjadi patokan menaikkan status Merapi menjadi Waspada,” kata Hanik Humaida, Selasa (22/5).
Dengan status Waspada itu BPPTKG Yogyakarta merekomendasikan tidak ada ada aktivitas penduduk pada radius 3 km dari puncak Gunung Merapi. Kegiatan pendakian juga tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian terkait upaya mitigasi bencana. Sedangkan masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Merapi.

“Letusan freatik tidak berbahaya, sehingga warga belum perlu diungsikan. Tapi yang penting kewaspadaan masyarakat ditingkatkan,” tambahnya.
BPPTKG Yogyakarta mencatat aktivitas pada Senin (21/5) yakni gempa guguran 2 kaligempa multiphase 6 gempa vulkanik dalam 1 kali, tremor 1 kali dan tektonik 10 kali. Sedangkan letusan freatik terjadi tiga kali pukul 01.25 wib, dengan tinggi kolom 700 meter dan durasi 19 menit, kedua pukul 09.38 WIB dengan tinggi kolom 1.200 meter dan durasi 6 menit serta ketiga pukul 17.50 wib durasi 3 menit. Pada Selasa (22/5) erupsi freatik pukul 01.47 WIB dengan tinggi kolom asap 3.500 meter dan durasi 3 menit.
“Tremor ada, bisa karena gas dengan tekanan tinggi bercampur material dan abu. Tapi gas dari dalam belum dipastikan apakah dari magmatik karena belum ada indikasi pergerakan magma,” terang Hanik. (Tri/Shn)

 

 

Read previous post:
KARTUN – 23 Mei 2018

Close