Gunung Merapi Waspada, Sultan Minta Masyarakat Tetap Tenang

Petugas BPPTKG Yogyakarta mencatat adanya letusan freatik pada Selasa (22/5). Level Gunung Merapi sudah dinaikkan dari normal menjadi waspada. (MERAPI-TRI DARMIYATI)
Petugas BPPTKG Yogyakarta mencatat adanya letusan freatik pada Selasa (22/5). (MERAPI-TRI DARMIYATI)

DANUREJAN (MERAPI) – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta masyarakat di daerah setempat tetap tenang meski status Gunung Merapi telah dinaikkan dari normal menjadi waspada.

“Tapi kan (aktivitas) lavanya tetap normal, masyarakat tenang sajalah,” kata Sultan di Kompleks Kantor Kepatihan Yogyakarta, Selasa (22/5).

Menurut Sultan, penaikan status normal (level I) ke waspada (level II) oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta untuk mengantisipasi abu vulkanik yang muncul karena letusan freatik yang berkali-kali terjadi. Adapun dari aspek aktivitas lava, menurut Sultan, Gunung Merapi hingga kini masih normal.

Meski demikian, Sultan mengatakan bagi masyarakat di lereng Gunung Merapi yang tetap ingin mengungsi, Pemda DIY serta pemerintah Kabupaten Sleman telah menyiapkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan. “Lha perkara tidak yakin lalu mengungsi tidak apa-apa wong juga kita fasilitasi,” kata Sultan.

Raja Kraton Yogyakarta ini juga berharap para pelajar di kawasan lereng Gunung Merapi tetap masuk sekolah. Masyarakat juga tetap beraktivitas seperti biasa meski tetap menggunakan masker. Pemda DIY, menurut Sultan, siap mengucurkan dana kebencanaan apabila dana kebencanaan yang ada di Kabupaten Sleman belum memadai.

“Kabupaten punya dana, tetapi kalau kekurangan ya nanti kita bantu,” paparnya.

Secara terpisah, Staf Ahli Geologi BPPTKG Yogyakarta Dewi Sri mengutarakan, salah satu indikator munculnya pergerakan magma di Gunung Merapi adalah munculnya api diam atau bara. Menurutnya, selama erupsi freatik akhir-akhir ini, bara itu belum terlihat.

Dalam sejarah Merapi, lanjutnya, pernah terjadi letusan freatomagmatik pada 1931 yang didahului dengan runtuhnya kubah lava lalu terjadi letusan magmatis. “Apakah sekarang seperti itu atau tidak, kami pun tidak dapat memastikannya,” ujar Dewi.

Menurutnya, pascaletusan besar pada tahun 1872 gejala-gejalanya adalah letusan freatik. Setelah berjarak 11 tahun baru kembali terjadi erupsi magmatik.

BPPTKG Yogyakarta mengasumsikan erupsi 2010 sama dengan tahun 1872, sehingga membuat skenario fase-fase seperti saat 1872. Fase pertama penghancuran kubah lava, sedikit-sedikit dihembuskan. Fase kedua akan kembali lagi Merapi secara umum seperti erupsi 2006 dengan pertumbuhan kubah lava. Lalu fase ketiga tebing kawah longsor dan fase keempat kubah lava runtuh kena tekanan dan menjadi awan panas. (Tri)

Read previous post:
Haryadi Janjikan Yogya Lebih Baik

UMBULHARJO (MERAPI) - Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti berjanji akan membawa Yogyakarta menjadi lebih baik lagi pascasetahun kepemimpinannya bersama Heroe Poerwadi.

Close