MERAPI KEMBALI MELETUS FREATIK-Suhu Naik 200 Derajat Celcius dalam 4 Menit

MERAPI- TRI DARMIYATI Kondisi Gunung Merapi saat terekam mengalami erupsi freatik pada pukul 09.38 WIB, Senin (21/5).
MERAPI- TRI DARMIYATI
Kondisi Gunung Merapi saat terekam mengalami erupsi freatik pada pukul 09.38 WIB, Senin (21/5).

UMBULHARJO (MERAPI)- Gunung Merapi kembali mengalami erupsi freatik. Kali ini tiga kali dalam sehari dengan menghembuskan gas seperti asap pada Senin (21/5). Rentetan erupsi freatik yang terjadi sebanyak 9 kali pasca erupsi 2010 dimungkinkan menuju ke erupsi magmatik. Namun sampai kemarin belum ada tanda-tanda aktivitas seismik kegempaan dan status Gunung Merapi dinyatakan Normal.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Hanik Humaida menyebut erupsi freatik pertama terjadi pukul 01.25 WIB dengan tinggi kolom hembusan 700 meter dan durasi 19 menit. Sedangkan erupsi freatik kedua pada pukul 09.38 WIB dengan tinggi kolom 1.200 meter dan durasi 6 menit. Dan erupsi ketiga terjadi pada pukul 17.30 dalam durasi 3 menit.

“Erupsi freatik yang terjadi ini termasuk letusan yang lemah. Skalanya lebih kecil dibandingkan erupsi freatik pada 11 Mei 2018 yang tinggi kolom mencapai 5,5 km,” kata Hanik di ruang monitoing Kantor BPPTKG Yogyakarta, Senin (21/5).
Dia menyampaikan pada erupsi freatik 11 Mei lalu ada tanda-tanda awal kenaikan suhu. Pada dua erupsi freatik Senin (21/5) langsung terjadi hembusan. Pada pukul 01.21 wib suhu udara masih 39 derajat celsius dan baru pukul 01.25 wib, terjadi puncak freatik suhu mengalami kenaikan. Pada letusan freatik yang terjadi dini hari itu, kamera thermal merekam terjadi kenaikan suhu hingga 200 derajat celcius secara mendadak.
“Empat menit sebelum erupsi freatik alat kami masih memantau suhu dalam kondisi normal. Jadi tidak ada tanda-tanda awal sama sekali. Sama dengan erupsi freatik yang kedua juga tidak ada tanda-tanda awal,” paparnya.
Dia menjelaskan erupsi freatik yang selama ini terjadi karena faktor akumulasi gas dan uap air di Gunung Merapi. Total Gunung Merapi sudah mengalami 9 kali erupsi freatik setelah erupsi 2010 dan yang paling besar erupsi freatik pada November 2013.

Dikatakan, salah satu bahaya yang harus diantisipasi dari letusan freatik adalah abu vulkanik yang bisa mengganggu pernafasan. Oleh sebab itu masyarakat perlu menggunakan masker maupun kacamata saat beraktivitas di luar ruangan. “Pada letusan freatik pukul 01.25 WIB sebaran abu mengarah ke barat dan barat daya. Sedangkan pada letusan pukul 09.38 WIB, sebaran abu lebih banyak mengarah ke tenggara dan barat daya,” ucap Hanik.
Menurutnya letusan freatik adalah karakter Merapi setelah letusan besar. Dia mencontohkan setelah erupsi besar tahun 1872 dan tahun 1930 terjadi erupsi freatik-freatik. Setelah freatik itu akan terjadi erupsi magmatik. Jika mengarah ke erupsi magmatik, lanjutnya, pemantauan gejala dapat dilihat jelas seperti seismik kegempaan, deformasi dan kimia.
“Tidak memicu magmatik. Tapi memungkinkan menuju ke magmatik. Artinya rentetan erupsi mulai dari erupsi besar, erupsi freatik-freatik akan kembali ke karakter Merapi sebelumnya yakni ada kubah lava lalu erupsi magmatik. Sampai sekarang aktivitas seismik tidak mendeteksi adanya kegempaan,” terang Hanik.

Dengan adanya rentetan erupsi freatik masyarakat diimbau tidak perlu panik. Setelah erupsi freatik, aktivitas Gunung Merapi kembali seperti semula aktif Normal. BPPTKG Yogyakarta tetap melarang adanya aktivitas pada jarak 2 km dari puncak Merapi. Begitu pula dengan akvitias pendakian hanya direkomendasikan sampai Pasar Bubar.
Ketua Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang, Sunarto menambahkan, meski ketinggian asap mencapai 1.200 meter tetapi hujan abu tidak turun di Kaliurang. Sementara jangkauan mencapi 10 km meter.
“Hujan abu sama, arah masih ke barat daya. Tetapi tidak turun di Yogya, yang turun di Magelang. Karena anginnya lebih kencang ke arah barat,” jelasnya.

Sunarto pun menjelaskan bahwa letusan freatik ini memang sulit untuk ditebak, untuk itu warga diimbau untuk tetap waspada. Kepala Desa Wonokerto, Turi, Tomon Haryo Wirosobo menjelaskan sesaat setelah erupsi, hujan abu turun di wilayah Turi, tapi ia tidak bisa mengukur berapa ketebalan abu. Ia mengimbau kepada masyarakat untuk tenang.
“Sekarang sudah berkurang, untuk wilayah atas masih tebal. Kepada seluruh warga masyarakat untuk tetap tenang berkaitan dengan hujan abu sebagai dampak erupsi,” imbaunya.(Tri/Shn)

 

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Antisipasi Lakalantas Jalur Wisata, Sarana Pengaman Jalan Siap Sebelum Lebaran

KARANGANYAR (MERAPI) - Sebagian jalur rawan kecelakaan lalu lintas di kawasan wisata di Karanganyar dipastikan telah terpasang sarana penerangan, guardrail

Close