KISAH ISTRI WONGSOPATI – Putri Teman Kijang

MERAPI-ALBES SARTONO Prasasti di Makam Kyai Wongsopati.
MERAPI-ALBES SARTONO
Prasasti di Makam Kyai Wongsopati.

ORANG yang dhedhukuh di Klero ini penarasan. Ia ingin dapat bertegur sapa dengan anak bajang tersebut. Akan tetapi naluri anak itu sama persis dengan naluri kijang yang peka didekati, yakni lari kencang saat ada yang mendekat.

Orang yang dhedhukuh itu tidak tahu bagaimana cara menjinakkan anak bajang itu. Akhirnya melalui orang pintar ia diminta ngepeli (mengepal) nasi hangat lalu dilemparkan pada anak tersebut. Nasihat itu pun diterima.

Pada suatu pagi ia mengepali nasi hangat. Setelah terkumpul beberapa kepal nasi tersebut kemudian dilemparkan ke arah anak bajang yang asyik bermain bersama kijang. Anehnya, begitu terkena lemparan kepalan nasi, anak tersebut umpuh. Ia tidak bisa pergi kemana-mana. Sementara itu para kijang yang biasa bermain bersamanya telah lari melesat pergi meninggalkannya.

Anak bajang tersebut kemudian diasuh menjadi anak angkat dari orang yang dhedhukuh di Klero. Ia dididik untuk menjadi orang yang wajar seperti orang lain pada umumnya. Setelah dewasa ia pun menjadi putri yang cantik. Putri inilah yang kemudian dipersunting oleh Kyai Wongsopati dan menjadi Nyai Wongsopati.

Demikian menurut tuturan Yitno Wiharjo yang mendapatkan cerita demikian itu dari para leluhurnya. Sayangnya pula orang yang dhedhukuh di Klero serta putri tersebut tidak pernah diketahui nama aslinya.

Perihal nama Dusun Klero menurut versi Yitno Wiharjo berasal dari kata diklerokake ’dikelirukan’. Pasalnya, pada masa lalu setiap kali ada orang yang akan bertindak jahat ke Dusun Klero, orang tersebut akan disesatkan atau dikelirukan jalannya. (Albes Sartono/Jbo)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Pemkab Sukoharjo Minta ASN Tidak Terlibat Terorisme

SUKOHARJO (MERAPI) - Aparatur Sipil Negara (ASN) diminta tidak terlibat dalam tindakan terorisme dan kegiatan berkaitan dengan radikalisme. Sebab ajaran

Close