Hanya Berganti Nama, Toko Modern Sudah Ditutup Kembali Buka Terancam Penutupan Lagi

Ilustrasi toko modern

SUKOHARJO (MERAPI) – Sejumlah toko modern yang sudah ditutup diduga melakukan pelanggaran dengan kembali membuka usaha. Mereka hanya berganti nama saja dan belum mematuhi semua aturan yang disyaratkan apabila kembali buka usaha beralih ke toko atau warung tradisional. Toko modern tersebut terancam akan kembali ditutup paksa oleh petugas.

Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya, Minggu (20/5) mengatakan, meminta pada semua petugas terkait kembali melakukan pengecekan dengan mendatangi langsung toko modern yang sebelumnya sudah ditutup. Hal itu dilakukan untuk memastikan toko modern yang sudah ditutup petugas tersebut benar benar tutup.

Apabila toko modern tersebut kembali membuka usaha maka harus menaati aturan dan tidak boleh seenaknya. Pemkab Sukoharjo sejak 2016 hingga 2018 sudah melakukan penutupan terhadap puluhan toko modern.

Penutupan dilakukan karena keberadaan toko modern dalam membuka usahanya melanggar aturan. Salah satunya berkaitan dengan belum memiliki izin usaha.

Diduga setelah ditutup oleh petugas pemilik toko modern nekad membuka usaha kembali dengan hanya berganti nama saja. Mereka belum melengkapi diri dengan izin usaha resmi sesuai dengan ketentuan.

“Kalau hanya ganti nama saja dan tetap buka usaha toko modern maka itu pelanggaran dan harus ditutup lagi. Petugas terkait saya minta cek lapangan datangi toko modern tersebut,” ujar Wardoyo Wijaya.

Wardoyo menegaskan, sebelumnya pernah ada toko modern yang sudah ditutup namun nekad membuka usaha kembali dengan hanya ganti nama saja. Maka petugas memberikan tindakan tegas dengan kembali melakukan penutupan. Modus pelanggaran semacam ini diduga juga terjadi dibeberapa toko modern lain dan harus dilakukan penindakan serupa.

“Modus pelanggaran semacam ini jangan dibiarkan. Kalau toko modern itu mau buka usaha lagi harus taati aturan beralih ke toko tradisional atau warung kelontong,” lanjutnya.

Sebagai bentuk pengawasan bupati juga meminta kepada para camat aktif memantau di lapangan. Selain pendataan camat juga berperan besar karena sekarang sudah mendapatkan kewenangan penuh dalam memberikan izin usaha toko tradisional atau warung kelontong.

Camat juga diminta cermat dalam mengeluarkan izin kepada toko modern yang sudah ditutup. Apabila ingin membuka kembali usahanya maka wajib menaati aturan dengan beralih ke toko tradisional.

“Ada beberapa syarat toko tradisional seperti luasan lahan tidak lebih dari 100 meter persegi, modal tidak lebih dari Rp 100 juta dan sistem pelayanan pembeli harus dilayani penjual dan tidak ambil sendiri. Termasuk juga saat pembayaran tidak boleh ada mesin kasir tapi manual karena perdagangan ini merupakan toko tradisional atau warung kelontong,” lanjutnya.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sukoharjo Heru Indarjo mengatakan, sudah melakukan pengawasan dengan meminta anggota dimasing masing kecamatan aktif memantau ke lapangan. Sejauh ini belum ditemukan kasus pelanggaran yang dilakukan toko modern. Meski begitu Satpol PP Sukoharjo berencana akan melakukan pengecekan dalam skala besar melibatkan sejumlah pihak terkait untuk memastikan toko modern yang sudah ditutup benar benar tutup.

“Masyarakat juga dipersilahkan memberikan informasi ke petugas apabila menemukan pelanggaran. Toko modern yang ditutup harus tutup kalaupun buka maka harus beralih menjadi toko tradisional,” ujar Heru Indarjo.

Heru akan membentuk tim pengecekan setelah ada informasi dari masyatakat dengan temuan toko modern yang sebelumnya sudah ditutup namun kembali membuka usah hanya dengan berganti nama saja tanpa melengkapi sesuai aturan yang berlaku. Apabila benar sesuai informasi masyarakat maka toko modern tersebut akan kembali ditutup oleh petugas. (Mam)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Memilih Hukuman Denda

  LAIN Gunungkidul, lain pula Bantul. Seperti yang terjadi baru-baru ini, aparat Polres Gunungkidul merazia pasangan selingkuh yang terjaring razia

Close