SENSASI KOPI BUMBUNG – Bambu Ampel Dijadikan Termos

MERAPI-SULISTYANTO Bumbung terbuat dari bambu ampel (kiri) untuk menempatkan kopi sebelum dituang di cangkir.
MERAPI-SULISTYANTO
Bumbung terbuat dari bambu ampel (kiri) untuk menempatkan kopi sebelum dituang di cangkir.

LOKASI kuliner penyedia kopi kian mudah ditemukan di berbagai tempat. Sebagian dari pengelola berusaha agar di tempatnya ada yang khas, sehingga menjadi kenangan bagi setiap konsumen yang datang.

Tak jarang meski lokasi ngopi tak di pinggir jalan besar, tetap saja banyak dicari konsumen. Selain ingin merasakan sensasi kopi yang disediakan, suasana pendukungnya pun ikut menentukan eksisnya lokasi kuliner setempat. Satu di antaranya dapat datang di Warung Kopi Bumbung kawasan Mranggen Seyegan Sleman. Ketika memilih minuman kopi bumbung, pelayan warung akan segera menyajikan satu paket kopi, yakni menggunakan bumbung sebagai termos, cangkir kecil dan gula batu sudah ditumbuk kasar.

Menurut pengelola Kopi Bumbung, Tri Winarno, bumbung yang terbuat dari bambu ampel, dijadikan sebagai termos. Dengan teknik tertentu, termos alami ini ada penutupnya yang juga dibuat dari jenis bambu yang sama. Bahkan untuk mengaduk kopi tak menggunakan sendok umumnya, namun sendok terbuat dari bambu. Gula batu ditempatkan dalam toples bening ukuran kecil, sehingga konsumen dapat mengambil gula sesuai selera. Bahkan ada yang senang minum kopi tanpa gula.

“Dengan ditumbuk dahulu, akan memudahkan konsumen saat menyampurkan gula pada kopi. Sedangkan kopi murni bubuk yang kami gunakan jenis kopi robusta asal Jawa Timur,” jelas Tri.

Ditambahkan Tri, ia pernah mencoba membuat bumbung kopi tersebut dari jenis bambu lain seperti wulung dan apus. Ketika diberi kopi yang sudah direbus, sensasi rasanya kurang mantap. Lain halnya jika menggunakan bambu ampel, terasa lebih mantap. Beberapa konsumen ada yang ingin membeli bumbung sebagai termos tersebut, namun sampai saat ini, ia belum akan menjualnya. Apalagi untuk membuatnya tak seratus persen bisa jadi semua, misalnya ada yang pecah.

Tinggi bumbung rata-rata 30 sampai 40 centimeter, dibuat dari bambu yang masih basah lalu ada beberapa perlakuan seperti direbus terlebih dahulu. Ketika membuat 100 bumbung, karena ada kegagalan seperti pecah atau bocor, tak jarang menjadi tinggal 50 sampai 30 bumbung. Maka pembuatan secara bertahap perlu dilakukan, kebetulan masih cukup mudah menemukan bambu ampel di kawasan Seyegan dan ada warga yang siap mencarikan.

“Kami berusaha menjalin relasi dengan warga sekitar sini, baik untuk mencari aneka bahan masakan kuliner sampai tenaga kerja. Saat ini baru menyerap tujuh tenaga kerja dari dusun sini dan dusun tetangga,” ungkap pengelola lain dari Kopi Bumbung, Evi Noor.

Jenis masakan antara lain olahan belut, ikan nila, telur dan pecel. Ada lagi beberapa makanan ringan tradisional seperti mendoan dan pisang goreng. Khusus pada Ramadhan, warung hanya buka dari pukul 16.00 sampai 18.00, bahkan hari pertama puasa libur dahulu.  Selain itu libur rutin dilakukan setiap Senin, untuk memberikan kesempatan karyawan bisa berlibur, sehari dalam seminggu. Apalagi setiap Ahad, konsumen yang datang biasa lebih banyak dibanding hari-hari biasa. (Yan)

 

Read previous post:
MERAPI-BENI WIDYASWORO Para pemain PSIM meluapkan kegembiraan usai gol perdana ke gawang Persiba Balikpapan.
PSIM RAIH KEMENANGAN PERTAMA DI KANDANG-Modal berharga Keluar dari Dasar Klasmen

BANTUL (MERAPI) - Tren kemenangan PSIM Yogya berlanjut dalam lanjutan Liga 2 Grup Timur musim 2018. Setelah meraih tiga poin

Close