TOTAL 13 ORANG DITANGKAP-Terlibat Baku Tembak, 1 Teroris Tewas

SURABAYA (MERAPI) – Baku tembak terjadi antara petugas kepolisian dengan terduga teroris di Jalan Sikatan, Manukan Wetan, Tandes, Surabaya, Selasa (15/5)petang.
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera di Surabaya, membenarkan adanya penegakan hukum yang dilakukan terhadap terduga teroris itu.
“Tembak-tembakan ini dikarenakan pelaku melawan petugas dan membahayakan petuga sehingga penindakan itu dilakukan,” ujarnya.
Barung mengatakan, penembakan itu kepada seorang lelaki umur sekitar 39 tahun.
“Tembak-menembak membuat seseorang meninggal dunia,” kata Barung.
Jasad terduga teroris kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya.
Tim Densus 88 dan Gegana kemarin juga menemukan puluhan bahan peledak yang diduga jenis pipa di rumah kontrakan pelaku peledakan bom Polrestabes Surabaya di Tambak Medokan Ayu Gang 6 Nomor 2 A, Rungkut, Kota Surabaya, Selasa.
“Kasih waktu dulu kami lagi menyelesaikan. Kita coba memusnahkan dulu,” kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan usai penggeledahan di rumah pelaku bom bunuh diri, Selasa.
Menurut dia, Densus 88 menemukan satu kotak dengan daya ledak tinggi, satu kotak kontainer plastik, dua pipa, dan bahan peledak lainnya.
Tim Densus 88 dan Gegana selanjutnya meledakkan puluhan bom milik terduga teroris pelaku pengeboman Polrestabes Kota Surabaya di dua lokasi berbeda di kawasan Kecamatan Rungkut, Surabaya.
“Suara ledakan begitu keras dari radius 400 meter,” kata Deni, salah seorang saksi yang melihat langsung peledakan bom oleh Densus 88 di lahan kosong milik Pemkot Surabaya di Medokan Sawah Timur, Rungkut, Surabaya.
Meski penggeledahan rumah terduga teroris telah usai, Polrestabes Surabaya masih memberikan batas garis polisi di area rumah tersebut.

13 Ditangkap
Polda Jawa Timur menyatakan sampai hari Selasa, Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri telah melakukan 13 penangkapan terhadap terduga teroris di Wilayah Jawa Timur.
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera kepada wartawan di Surabaya, Selasa mengatakan ada tambahan empat penangkapan yang dilakukan di Surabaya dan di luar Surabaya dari sembilan penindakan yang telah dilakukan, Senin (14/5).
“Jumlah itu bertambah. Data sementara adalah penangkapan di Pandaan, Kabupaten Pasuruan dan dua orang yang ditangkap di Malang serta satu orang di Surabaya yang ditangkap hidup,” papar Barung.
Dikatakannya data itu sewaktu-waktu akan terus bertambah karena ada beberapa jaringan yang akan ditindak sesuai dengan hukum.
“Jumlah itu di luar dari empat terduga teroris yang ditembak mati,” ucapnya.
Barung menambahkan, sampai saat ini belum satu pun keluarga dari para pelaku teror di Surabaya dan Sidoarjo yang datang ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk mengakui mereka sebagai keluarganya.
Untuk itu, pihak Polda Jatim mengimbau bagi saudara pelaku teror agar datang untuk membandingkan dan dicocokkan data DNA secara doktoral forensik.
“Kami berharap ke depan satu hari ada keluarga yang mengambil. Jika tidak ada jenazah pelaku akan dimakamkan oleh kepolisian,” ujarnya.
Barung kepada wartawan mengatakan kepala keluarga yang memakai sepeda motor beriringan dan meledakkan diri bernama Tri Murtiono kelahiran Surabaya 4 Juni 1968. “Istrinya bernama Tri Ernawati kelahiran Surabaya 10 Desember 1975 dan anaknya AAP ini yang kemarin rekan-rekan saksikan bahwa yang bersangkutan kita selamatkan kelahiran Surabaya 6 Juni 2010,” kata Barung.
Barung melanjutkan identitas pada pengendara sepeda motor kedua adalah Muhammad Darih Satria Murdana yang merupakan anak Tri kelahiran Sidoarjo 31 Mei 2003 dan Muhammad Dafa Amin Murdana yaitu anak sulung kelahiran Surabaya 16 Desember 1999.

“Paman dari yang bersangkutan akan hadir. Tapi saat ini yang bersangkutan masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim,” katanya.
Selain itu, Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri telah mengidentifikasi terkait jaringan itu. Dia menegaskan, situasi Kota Surabaya saat ini sudah kondusif.
“Kami mengerti psikologi publik Surabaya dengan kejadian ini terutama terkait ledakan di Mapolrestabes Surabaya. Kita harus mendukung pihak kepolisian dan bangkit. Mari kita bersama-sama tidak takut dengan ancaman karena kami sudah melakukan penangkapan,” ujarnya.
Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin menyatakan ada pelaku teror di Surabaya dan Sidoarjo tidak disekolahkan oleh orang tuanya. “Istilah ‘home schooling’ itu tidak benar. Padahal mereka tidak ada sekolah. Mereka dikurung dengan doktrin khusus sehingga anak itu yang di GKI Jalan Diponegoro mau ikut bawa bom pinggang,” kata Kapolda di Mapolda Jatim di Surabaya, Selasa.
Kapolda mengatakan orang tua mereka atau pelaku teror mengajari anaknya untuk menjawab “home schooling” ketika ditanya masyarakat. Tidak disekolahkan mereka agar dapat didoktrin dengan video-video radikal dan tidak berinteraksi dengan masyarakat lain.

“Baik yang Ais dan di Sidoarjo itu tidak sekolah. Ini sama karena satu guru yang pengajiannya sama dalam satu minggu. Ada keterkaitan. Namun, ada satu yang sekolah. Dia anak yang besar karena ikut neneknya. Kedua anak lain sering dicekoki film,” ujarnya.
Machfud mengungkapkan, kondisi anak-anak itu sudah membaik. Yang tiga sudah bisa berinteraksi tinggal satu yakni anak yang terlempar dalam peristiwa bom di Polrestabes Surabaya yang masih dalam pengaruh obat bius.
“Kami akan berikan pendampingan untuk anak anak pelaku. Pandampingan itu bisa dari Polwan dan psikolog. Setelah itu akan diserahkan kepada keluarga. Dengan catatan mereka harus bertanggung jawab karena orang tua mereka sudah meninggal,” ujarnya.
Sementara saat ditanya, apakah Ais anak pelaku yang dalam peristiwa bom di Polrestabes Surabaya itu membawa bom atau tidak, Machfud menyatakan anak itu tidak membawa bom. Sebab, jika membawa bom, bisa dipastikan anggota polisi yang menolong akan terkena bom juga.(*)

Read previous post:
SENSASI KOPI BUMBUNG – Bambu Ampel Dijadikan Termos

LOKASI kuliner penyedia kopi kian mudah ditemukan di berbagai tempat. Sebagian dari pengelola berusaha agar di tempatnya ada yang khas,

Close