BOM DI POLRESTABES SURABAYA TEWASKAN 4 PELAKU-Terpental, Anak Terduga Teroris Selamat

MERAPI- ANTARA/DIDIK SUHARTONO Polisi menghentikan dan memeriksa warga yang melintas di Jalan Niaga Samping setelah terjadi ledakan di Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/5).
MERAPI- ANTARA/DIDIK SUHARTONO
Polisi menghentikan dan memeriksa warga yang melintas di Jalan Niaga Samping setelah terjadi ledakan di Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/5).

SURABAYA (MERAPI)  – Ledakan bom kembali mengguncang Surabaya, Senin (14/5). Kali ini sasarannya Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya, Jawa Timur sekitar pukul 08.50 WIB.
“Telah terjadi ledakan di tempat kejadian perkara (TKP) Polrestabes Surabaya pukul 08.50,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera.
Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya, AKBP Roni Faisal sempat menyelamatkan seorang anak perempuan dari terduga pelaku peledakan yang diikutkan dalam aksi itu oleh kedua orangtuanya.
Ketika dikonfirmasi wartawan di lokasi kejadian, Senin, Roni mengatakan, tidak bisa memberi keterangan banyak terkait upayanya itu. Ia hanya mengatakan tindakan itu dilakukannya sebagai panggilan hati, mengingat saat itu anak tersebut berlumuran darah.
“Tujuan saya cuma satu mas, kemanusiaan dan rasa iba karena melihat kondisi anak yang penuh darah,” katanya.
Berdasarkan pantauan CCTV milik Markas Polrestabes Surabaya yang tersebar di awak media, dua motor masuk ke gerbang markas lalu dihadang oleh petugas dan meledak. Usai ledakan, seorang anak perempuan berjilbab yang awalnya dibonceng terlihat sempat bangun, dan melihat kedua orang tuanya tergeletak.

Roni, yang melihat anak itu bangun langsung berlari dan mengambil untuk menggendong serta dijauhkan dari titik ledakan karena di titik ledakan masih terdapat mobil Avanza hitam yang berada persis di dekat motor yang meledak sehingga dikhawatirkan ada ledakan susulan.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengakui anak yang terselamatkan itu bernama Ais, sesuai identitas yang didapat dari lokasi dan berumur 8 tahun.
“Anak itu kini dirujuk ke Rumah Sakit PHC Surabaya karena berlumur darah. Dan akan masih kami update info selanjutnya,” katanya.
Titik lokasi ledakan masih dijaga ketat, dan dilarang masuk dalam radius 200 meter dengan penjagaan ketat aparat bersenjata serta dibatasi menggunakan garis polisi.
Sejumlah perawat, lima mobil ambulans, dan satu mobil pemadam kebakaran serta awak media juga dilarang memasuki titik lokasi ledakan, karena masih belum dinyatakan aman.

Barung mengungkapkan ada 10 orang yang menjadi korban penyerangan bom kendaraan di Mapolrestabes Surabaya. Sepuluh orang itu terdiri atas empat anggota polisi dan enam warga masyarakat dan dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim. “Empat anggota kita yaitu Bripda M Maufan, Bripka Rendra, Aipda Umar dan Briptu Dimas Indra,” ujarnya.
Sedangkan korban dari masyarakat ada enam orang. Antara lain Atik Budi Setia Rahayu, Raden Aidi Ramadhan, Ari Hartono, Ainur Rofiq, Ratih Atri Rahma dan Eli Hamidah. Barung menjelaskan, rangkaian aksi teror bom, baik di Surabaya dan Sidoarjo merupakan simultan dari mereka.
“Data akan terus di-‘update’. Kami ingin sampaikan polisi akan tegar dan tidak goyah,” tuturnya.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian kemarin menjelaskan serentetan teror ledakan bom yang terjadi di wilayah Jawa Timur. Dia menyebut para pelaku mempelajari cara membuat bom lewat internet.

“Online training, jadi cara membuat bom, bahan peledak lain-lain ini online,” kata Tito di Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, Senin. Tito berbicara didampingi Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet), Ketua DPD Oesman Sapta Odang (OSO), dan sejumlah anggota DPR.
Menurut Tito, para pelaku juga bisa mempelajari cara pembuatan bom lewat media sosial. Terkait hal tersebut, perlu ada penanganan untuk pencegahan.
“Tadi saya sudah sampaikan kepada yang mulia, Pak Ketua DPR, dan rombongan mengenai bagaimana penanganan media sosial. Karena banyak sekali ini sekarang online-online, website radikal, yang lain-lainnya yang masuk yang membuat pemahaman mereka berubah,” jelasnya.
“Medsos ini nanti salah satunya mungkin melalui mekanisme MoU dengan provider, bahkan bila perlu digunakan juga memungkinkan aturan-aturan khusus mengenai masalah medsos ini,” sambungnya.

Tito juga menyebut para pelaku pengeboman di sejumlah tempat di Surabaya dan Sidoarjo belajar membuat peledak dari internet. Mereka memakai bahan triaseton triperoxide (TATP), yang termasuk high explosive dan kerap digunakan kelompok teroris, seperti ISIS.
“Ini saya sampaikan tadi, mereka banyak belajar dari online. Cara membuat TATP online juga ada. Sementara yang kita deteksi mereka membuatnya online. Tapi investigasi masih berjalan,” ujarnya.
Ditambahkan Tito, para pelaku pengeboman di Surabaya dan Sidoarjo terdiri atas satu keluarga. Baik pengeboman di gereja di Surabaya, rusunawa di Sidoarjo, maupun di Mapolrestabes Surabaya.
“Ketiganya terkoneksi dalam JAD (Jamaah Ansharut Daulah) sel Surabaya,” jelasnya.
<B>Empat Tewas<P>
Kapolri menjelaskan, pelaku penyerangan bom di Mapolrestabes Surabaya, Senin pagi merupakan satu keluarga. Kapolri saat menyampaikan keterangan pers di Mapolda Jatim di Surabaya mengatakan dalam aksi bom bunuh diri itu pelaku membawa dua sepeda motor dan bom peledak. “Ada lima orang. Mereka ini masih satu keluarga, lagi masih diidentifikasi oleh kita,” ujar Tito.
Dalam aksinya, lima orang itu meledakkan diri dan empat di antaranya meninggal dunia.
“Mereka mau masuk dan penjagaan cukup ketat, saat distop ada mobil anggota masuk kemudian ada ledakan. Empat orang meninggal, anak tersebut terlempar masih selamat,” ungkapnya.

Tito mengungkapkan, saat ini anggota kepolisian mengalami luka, namun tidak meninggal dunia atas ledakan itu.
Tito mengemukakan, kelompok yang melakukan aksi di Polrestabes Surabaya merupakan bagian dari kelompok yang sama yang melakukan aksi di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5), yakni kelompok sel Jamaah Ansharud Daulah (JAD) di Surabaya.
Sementara korban yang meninggal akibat serangan bom bunuh diri di tiga Gereja di Surabaya menjadi 18 orang. “Di tempat kejadian perkara (TKP) yang pertama, yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela Ngagel, jumlah korban meninggal dunia sebanyak tujuh orang, dua di antaranya pelaku,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera di Mapolda Jatim di Surabaya.
Pada korban TKP itu, Kapolri memberi perhatian pada anggota yang mengalami luka-luka yaitu Aiptu Junaedi dan Aiptu Nurhadi. Sedangkan di TKP Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro, jumlah korban yang meninggal sebanyak tiga orang yang kesemuanya adalah pelaku. (*)

Read previous post:
MERAPI-SAMENTO SIHONO Petugas memeriksa pengunjung yang hendak masuk ke Polda DIY untuk mengantisipasi teror bom.
CEGAH TEROR-Seluruh Kantor Polisi di Yogya Dijaga Ketat

DEPOK (MERAPI)-  Pasca ledakan bom bunuh diri di tiga gereja serta pintu masuk Mapolrestabes Surabaya, Polda DIY memperketat pengamanan di

Close