City Tour Tawangmangu Galang Potensi Antardesa

Pemasangan wahana permainan ketangkasan di Bukit Sekipan, Tawangmangu. (MERAPI-Abdul Alim)
Pemasangan wahana permainan ketangkasan di Bukit Sekipan, Tawangmangu. (MERAPI-Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Konsep city tour ditawarkan ke pelaku usaha pariwisata, karang taruna dan pemerintah desa/kelurahan di wilayah Tawangmangu. Pengelola objek dalam masa rintisan maupun yang mapan dapat saling bekerjasama di paket perjalanan wisata.

“Banyak desa memiliki potensi alam di Tawangmangu. Ada Kalisoro, Blumbang, Tawangmangu, Sepanjang, Karanglo, Nglebak dan Bandardawung. Potensi budaya maupun alam yang bisa dikemas kunjungannya secara paket city tour Tawangmangu. Tentu akan lebih banyak dilirik wisatawan. Dalam paket, tentu akan menguntungkan pengusaha dan hemat untuk wisatawan,” kata Anggota Komisi X DPR Rinto Subekti, Jumat (11/5).

Anggota DPR dari Dapil IV Jawa Tengah ini mengatakan sudah saatnya stakehoder pariwisata dari desa-desa tersebut bekerjasama agar potensinya laku dijual. Secara patungan, modal promosi paket wisata dinilai lebih hemat dan mengena.
Hanya saja, dibutuhkan penataan lalu lintas dan sarana perhubungan darat lebih akomodatif untuk mengakses ke desa-desa lereng Lawu. Selama ini, lalu lintas jalan Tawangmangu-Magetan selalu padat di akhir pekan atau hari libur. Ia berupaya mengajukan Dana Alokasi Khusus (DAK) pariwisata agar sebagian dipakai menyempurnakan akses jalan kampung ke destinasi wisata.

Kades Nglebak, Widodo mengatakan terdapat potensi wisata air di wilayahnya. Kesulitannya pada biaya pembukaan wahana yang minim. “Sudah dikucuri Rp 70 juta tapi belum terlihat efektif. Padahal mata airnya jernih dan bisa dibuat wahana air,” katanya.

Sementara itu dalam kunjungan kerjanya di Taman Wisata Alam (TWA) Grojogan Sewu, Tawangmangi, Rabu (9/5) lalu, Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, Yudhi Sancoyo mengatakan perlunya regulasi pemberdayaan wisata lokal untuk mendorong geliat pelaku usaha baru di bidang tersebut. Adapun kunjungannya ke salah satu obyek alam eksotis lereng Lawu ini untuk menjaring informasi dari pengelola obyek wisata.

“Kami tengah menyusun raperda pemberdayaan desa wisata di Jawa Tengah. Butuh banyak masukan dari pengelola yang sudah lebih dulu berkecimpung. Nantinya, produk hukum ini akan mendampingi secara regulasi bagi <I>starter up<P> pelaku usaha wisata, khususnya para pemuda dengan berbagai inovasinya,” katanya.

Di desa berpotensi alam, bisnis pariwisata dinilai lebih menjanjikan daripada bercocok tanam. Yudhi mengatakan keberhasilan Pemdes Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten patut dicontoh daerah lain. Sumber daya air yang dimilikinya mampu dikemas menjadi wahana populer, seperti kolam renang, selfi <I>underwater<P> hingga perikanan. Pendapatan tahunan Pemdes tersebut mencapai Rp 11 miliar.

“Pendapatan hanya di sektor wisatanya fantastis. Belum lagi pendapatan APBDes Rp 5 miliar. Ini BUMDes terkaya di republik ini,” katanya.

Di TWA Grojogan Sewu, seharusnya bisa mengunggulinya karena tak kalah berpotensi. Selain sumber daya air melimpah, juga hutan raya. “Setoran di sini ke negara hanya Rp 2,7 miliar per tahun saja. Seharusnya dengan pengelolaan lebih baik, bisa ditingkatkan,” katanya. (Lim)

Read previous post:
Minta Perbaikan Kesejahteraan, GTT PTT SDN Adukan Nasib Ke DPRD Sukoharjo

SUKOHARJO (MERAPI) - Puluhan guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sukoharjo mengadukan nasib

Close