ERUPSI FREATIK MERAPI PICU HUJAN ABU DI YOGYA-Letusan 5 Menit Bikin Panik

MERAPI-SAMENTO SIHONO Rumah-rumah warga di kawasan Kaliurang, Pakem, Sleman tertutup abu dari letusan freatik Gunung Merapi
MERAPI-SAMENTO SIHONO
Rumah-rumah warga di kawasan Kaliurang, Pakem, Sleman tertutup abu dari letusan freatik Gunung Merapi

UMBULHARJO (MERAPI)- Warga lereng Gunung Merapi dikagetkan dengan erupsi freatik berupa hembusan asap putih setinggi 5,5 km dari puncak pada Jumat (11/5) pagi. Letusan freatik selama 5 menit itu membuat warga di kaki Merapi panik dan mengungsi. Materialnya menimbulkan hujan abu di Sleman, Kota Yogya dan Bantul. Sebanyak 160 pendaki yang berada di puncak saat kejadian berhasil diselamatkan.
Meski letusan hanya berlangsung selama 5 menit, namun dampaknya begitu terasa, terutama bagi warga dengan radius di bawah 25 kilometer dari puncak Merapi. Mereka panik setelah mendengar gemuruh yang kencang disusul asap yang membumbung tinggi dari arah puncak Merapi.
Salah satunya Kartini, warga Purwobinangun, Pakem. Dia mengungkapkan, ketika mendengar suara gemuruh, awalnya tidak mengira jika berasal dari Gunung Merapi. Saat itu dia berada di sawah bersama tetangga untuk memetik cabe. Mereka mengira suara gemuruh berasal dari konvoi kendaraan motor gede (Moge).

“Suara gemuruh saya kira dari rombongan motor gede yang sering melintas. Tetapi setelah melihat kepulan asap Merapi yang membumbung tinggi, saya jadi panik dan lari pulang ke rumah. Saya masih takut dan trauma ketika erupsi 2010,” ungkapnya. Dari pantauan <I>Merapi<P> kemarin, arus lalu lintas terlihat ramai terutama anak sekolah yang dipulangkan lebih dini dari pihak sekolah usai letusan terjadi. Begitu pula warga yang bekerja di ladang maupun pedagang dari Pasar Pakem tampak membawa dagangan pulang lebih awal.
Salah satu pedagang soto di Pasar Pakem, Winarni mengisahkan, Letusan Merapi yang diikuti suara gemuruh disertai getaran tanah membuat pedagang pasar panik. Saat itu pengunjung cukup padat karena merupakan hari pasaran. Dagangan sebagian ada yang ditinggal karena mereka mengkhawatirkan anaknya yang sekolah.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Biwara Yuswantana mengatakan, saat Gunung Merapi erupsi freatik, warga di lereng Merapi Kecamatan Pakem yang berada di radus sekitar 5 km dari puncak sempat mengungsi karena panik. Kemudian radius bahaya diturunkan sekitar 2 km, sehingga sebagian sudah kembali ke rumah masing-masing.

“Dari laporan terakhir ada sekitar 190 warga Purwobinangun yang masih berada di pengungsian. Tapi setelah reda mereka mulai kembali ke Kaliadem dan Desa Umbulharjo,” terang Biwara dalam jumpa pers di Kantor Pusdalops BPBD DIY, Jumat (11/5).
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Hanik Humaida menambahkan, erupsi dengan mengeluarkan semburan asap, abu dan pasir tipis itu terjadi pukul 07.40 WIB. Erupsi atau letusan itu bersifat freatik dan terjadi selama 5 menit. Pasca erupsi itu, aktivitas Gunung Merapi sudah normal.
“Hanya hembusan freatik saja selama lima menit. Tidak diikuti erupsi susulan. Sekarang kondisi Gunung Merapi sudah normal kembali,” kata Hanik Humaida.
Dia menyebut hembusan freatik mencapai ketinggian 5.500 meter di atas puncak Gunung Merapi. Menurutnya beberapa menit sebelum erupsi freatik, ada kenaikkan suhu tapi cukup singkat dengan suhu sekitar 90 derejat celsius. Di samping itu ada suara gemuruh saat erupsi. Oleh sebab itu erupsi freatik, lanjutnya, tidak bisa diprediksi karena pendeknya waktu kejadian dan gejala-gejala yang muncul sangat singkat.
Dia menjelaskan penyebab letusan freatik karena gas panas dan air. Meskipun selama 10 hari tidak ada hujan di puncak Gunung Merapi, tapi ada rembesan uap air. Gas dan uap air terakumulasi dan mendesak sisa-sisa material erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Akibatnya keluar hembusan gas asap putih karena uap air dan abu dari sisa material. Erupsi freatik terjadi dari permukaan berbeda dengan magmatik yang berasal dari dalam. Setelah erupsi freatik tidak ada perubahan morfologi Gunung Merapi.

“Itu memang karakter Gunung Merapi sejak erupsi tahun 2010. Ini erupsi freatik yang ketujuh sejak 2010. Masyarakat tidak perlu panik. Kalau hujan abu itu karena dibawa angin. Status Merapi tetap normal karena memang erupsi ini tidak ada risiko terhadap penduduk di sana,” terangnya.
Meski demikian erupsi freatik Gunung Merapi masih berpotensi terjadi. Dia menyatakan tidak boleh ada aktivitas pada radius 2 km dari puncak Gunung Merapi. Kegiatan pendakian hanya boleh sampai di Pasar Bubar. Kondisi morfologi puncak Gunung Merapi saat ini rawan longsor sehingga berbahaya bagi keselamat pendaki.
“Yang diwaspadai tidak boleh ada aktivitas sejauh 2 km dari puncak. Kami mengambil sampel abu dari material yang keluar dari erupsi freatik untuk uji lab guna dianalisi proses analisis,” papar Hanik.

Ditegaskan pemantauan aktivitas Gunung Merapi terus dilakukan BPPTKG Yogyakarta. Jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang siginifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan ditinjau kembali.
Sementara saat erupsi terjadi, ada sekitar 160 pendaki yang berada di pundak Merapi. Menurut Samsusi salah satu anggota tim SAR Barameru Desa Lencoh Selo Boyolali, sekitar 160 pendaki yang terdaftar sedang melakukan pendakian ke puncak melalui Desa Lencoh Boyolali saat kejadian Gunung Merapi tersebut. Mereka kemudian buru-bru turun dan berhasil dievakuasi. (Tri/Awn/Shn/C1)

Read previous post:
Bawang Putih Mahal, Minyak Goreng Turun

DANUREJAN (MERAPI) - Menjelang bulan Ramadan, harga beberapa bahan pangan pokok di DIY mengalami kenaikan di atas 10 persen. Kenaikan

Close