Wahyu Cakraningrat, Filosofis Merebut Kekuasaan

Ki Dalang Suseno memainkan lakon Wahyu Cakraningrat dalam sosialisasi empat pilar oleh MPR di lapangan Desa Suruh, Tasikmadu. (MERAPI-Abdul Alim)
Ki Dalang Suseno memainkan lakon Wahyu Cakraningrat dalam sosialisasi empat pilar oleh MPR di lapangan Desa Suruh, Tasikmadu. (MERAPI-Abdul Alim)

 

KARANGANYAR (MERAPI) – Raja-raja jagad pewayangan riuh memperebutkan Wahyu Cakraningrat, yang diyakini memberi kuasa atas wilayah timur hingga barat dan utara sampai selatan. Namun, tak mudah memperoleh wahyu sang batara, yang hanya akan turun ke manusia terpilih.

Kompetisi, strategi dan penaklukan ternyata bukan satu-satunya cara memperoleh Wahyu Cakraningrat. Ki dalang Danang Suseno menceritakan Raden Samba yang mewarisi pengetahuan ramandanya Prabu Kresna, harus memperoleh Wahyu Cakraningrat itu dengan siasat apapun, namun bijaksana. Lain Raden Samba, lain pula cara Raden Lesmana Mandrakumara. Baginya, dengan cara bagaimanapun yang penting wahyu ini harus didapatkan, dengan catatan harus terkesan sportif. Bagaimana dengan Raden Abimanyu? Dia yang juga sempat merasakan bagaimana dulu ramanda dan paman-pamannya (Pandawa) dipecundangi, dikhianati dan dikucilkan oleh trah Kurawa, mencoba menyikapi hal ini dengan lebih berhati-hati. Pada akhirnya, tak satupun berhasil. Wahyu Cakraningrat hanya akan merasuk ke satria yang bersih lahir batin, cerdas dan tahan godaan, berbudi luhur, dan kepekaan sosial tinggi.

“Di tahun politik ini, sangat pas mengambil filosofi Wahyu Cakraningrat. Di situ, perebutan kekuasaan sepenuhnya dilakukan sesuai etika, manusiawi dan dengan kesadaran mengedepankan kebersamaan perilaku. Bukan perilaku zalim dan tak bermolar,” kata Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid (HNW) kepada wartawan usai membuka pentas wayang kulit lakon Wahyu Cakraningrat di lapangan Desa Suruh, Tasikmadu, Sabtu (5/6) malam.

Pesan di cerita pewayangan sangat relevan dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Hal itulah yang membawa sosialisasi empat pilar kebangsaan menyasar salah satu budaya tradisional masyarakat Jawa itu.

“Meski ini tahun politik, namun jangan melupakan pancasila, etika, persatuan Indonesia dan keadilan sosial,” katanya.
Dalam menyosialisasikan empat pilar kebangsaan, pihaknya bekerjasama dengan berbagai elemen seperti yayasan, LAM, Ormas, Orpol maupun pelajar. Pentas wayang kulit, lanjutnya, merupakan perangkat paling tepat.

Hadirnya tokoh parpol maupun calon kepala daerah di sosialisasi empat pilar tak boleh dianggap strategi berkampanye. Menurutnya, kalangan tersebut bagian dari masyarakat Indonesia yang juga berhak mendapat pengetahuan hidup berbangsa dan bernegara. (Lim)

Read previous post:
Jelang Ramadan, Kebutuhan Pokok Dijamin Aman

SUKOHARJO (MERAPI) - Kebutuhan pokok masyarakat menjelang dan selama puasa Ramadan hingga Lebaran dijamin aman Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha

Close