Sambut Bulan Suci, Warga Beji Gelar Kenduri Ruwah Rosul

Warga Beji memgikuti prosesi Ruwah Rosul. (MERAPI-Abdul Alim)
Warga Beji memgikuti prosesi Ruwah Rosul. (MERAPI-Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Warga Lingkungan Beji, Kelurahan/Kecamatan Tawangmangu menyambut bulan suci Ramadan melalui tradisi Ruwah Rosul, Sabtu (5/5). Karakter tradisional masyarakat lereng Lawu tersaji dalam kenduri yang digelar tiap pertengahan Bulan Syakban pada penanggalan Hijriyah itu.

Kenduri ini identik dengan silaturahmi seluruh warga di lingkungan tersebut. Bahkan, warga Beji yang merantau di luar kota sengaja pulang kampung agar tak melewatkan momentum bertemu keluarga dan para tetangga. Pada Sabtu pagi, mereka menuju pelataran balai perkumpulan seiring bunyi kentongan tanda dimulainya kenduri. Mereka yang berkumpul di balai tak datang dengan tangan hampa, melainkan membawa ubo rampe berupa nasi tumpeng komplit lauk daging ayam Jawa dan sayuran matang serta buah-buahan. Masing-masing menyunggi tampah bambu dan wadah sederhana untuk membawa makanan yang akan disantap bersama di pelataran balai. Di sana, mereka duduk di atas tikar yang mengitari sebuah punden. Sebagian menggelar tikar di ruas-ruas jalan kampung. Tepat pukul 13.00 WIB, prosesi Ruwah Rasul dimulai yang ditandai pembakaran kemenyan di bawah pohon dekat punden.

“Ruwah Rosul ini tiap pertengahan Syakban yang bertepatan Sabtu Kliwon atau Selasa Kliwon. Seluruh warga berkumpul di sini. Makan bersama dan menikmati berbagai hiburan tradisional. Ini menjaga tradisi yang sudah berlangsung turun temurun. Menandai pula bakal masuknya Ramadan,” kata Camat Tawangmangu, Rusdiyanto kepada wartawan.

Sehari sebelum Ruwah Rasul, seluruh warga bekerja bakti membersihkan pelataran balai kemudian memasang janur dan hiasan lainnya, serta jalan kampung di sekitarnya. Menurut Kepala Lingkungan Beji, Mujadi, tradisi ini mempererat rasa persaudaraan dan toleransi. Ruwah Rasul dimiliki warganya dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan. Terlebih penting, menjaga kelestarian budaya.

“Kita mengadakan ritual ini sebagai bentuk perlindungan budaya sehingga harus dilindungi, apalagi Tawangmangu sangat kaya dengan tradisi dan budaya,” kata Mujadi.

Selain di pelataran punden balai lingkungan Beji, prosesi Ruwah Rasul juga dilaksanakan di pelataran halaman masjid Hidayatul Akbar, Beji, Tawangmangu.

Prosesi dilanjutkan ledekan yang menampilkan musik karawitan. Lalu pada malam harinya, warga akan menyaksikan pentas seni Tayub.
Seorang warga Beji, Bambang mengaku dirinya dan keluarga tak pernah melewatkan waktu berkumpul dengan sanak saudara di Ruwah Rosul. Kemeriahannya menyerupai lebaran.

“Saya bawa nasi tumpeng, ingkung opor dan sayuran. Acara bersih desa ini dinanti pula warga yang merantau, jadi bela-belain pulang. Bisa dibilang, momen warga berkumpul semua setiap lebaran dan Ruwah Rosul,” katanya. (Lim)

Read previous post:
Masuk Musim Kemarau, Pemantauan Wilayah Rawan Kekeringan Diintensifkan

SUKOHARJO (MERAPI) - Pemantauan terhadap wilayah terdampak kekeringan diintensifkan sejumlah petugas gabungan dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Hal tersebut

Close