Hidup Serba Kekurangan, Sutinem Rela Berbakti untuk Umat

Sutinem di hidup di rumah reyotnya. (MERAPI-Abdul Alim)
Sutinem di hidup di rumah reyotnya. (MERAPI-Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Sutinem (78) belum tiba di rumahnya sore itu, Rabu (2/5). Para tetangga mengatakan, wanita tua asal Dusun Wates Rt 01/Rw VIII, Desa Sedayu, Kecamatan Jumantono itu sedang di masjid. Biasanya, Sutinem membersihkan tempat ibadah itu sebelum pulang dari salat berjamaah. Di sisa-sisa tenaganya, Sutinem bersedia mengepel dan menyapu lantai masjid serta membersihkan toilet kamar mandi masjid. Semua itu dilakukannya tanpa meminta upah.

Tak lama kemudian Sutinem tiba di rumahnya. Meski terlihat letih, ia mempersilakan tamunya masuk. Tak ada yang ideal di dalamnya. Perabot pun lusuh, berjelaga dan berdebu. Genting bocor di sana sini ditambah tanpa sirkulasi udara, menambah kesan suram rumah berukuran 4X6 meter persegi itu. Terdapat tungku batu serta tumpukan kayu bakar di dalamnya. Sutinem duduk di atas kasur berselimut terpal yang berfungsi mencegah cucuran air hujan merembes ke satu-satunya alas tidurnya.

“Dari masjid tadi. Bersih-bersih. Enggak ada yang membayar. Kenapa harus dibayar, itu tempat saya beribadah,” ujar Sutinem

Puluhan tahun kehidupannya dijalani sangat sederhana. Tanpa suami maupun anak sebagai tempat bergantung, Sutini berusaha tegar. Ia juga menolak tawaran menempati rumah kerabatnya meski tak berpenghuni. Ia lebih menyukai bertahan di gubuk reyot yang nyaris roboh termakan usia.

Alasannya, tempat itu paling dekat ke Masjid Ibadurrahman Dusun Wates. Di rumahnya ini, dinding bambu tak menghalangi suara azan ditangkap indera pendengaran perempuan renta ini. Setiap hari ada saja yang bisa dimasak Sutini dari pemberian para tetangga. Terkadang juga cucu keponakannya datang menjenguk.

“Si Slamet (keponakan) sekarang kerja di warung. Kadang ke sini juga,” katanya.

Suti (65), keponakan Sutini yang tinggal bersebelahan mengatakan budhe-nya itu sudah lama tinggal sebatang kara. Rumah dan tanah pun, Sutini tak punya.

“Pekarangan ini punya saya. Dulu, rumahnya mau ambruk kemudian dibantu perbaikannya secara gotong royong,” katanya.

Baru pada tahun ini Sutinem memperoleh santunan Pemkab jelang Lebaran. Juga beras jatah bulanan.

Melihat kondisi memprihatinkan Sutini, Pejuang Social Community (PSC) memberikan bantuan serta berencana mencanangkan gerakan peduli lansia di Desa Ssdayu.

“Banyak lansia terlantar di desa ini. Kami ingin pendampingan pemerintah melalui gerakan ini dapat membantu mereka hidup lebih sejahtera di masa tuanya,” kata Koordinator PSC, Marfuah Dwiyanti. (Lim)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MERAPI-AMIN KUNTARI Pengurus DPC PDIP Kulonprogo menunjukkan surat keterangan laporan polisi serta bukti ujaran kebencian yang dilakukan pelaku.
Hina Elite PDIP, Netizen Kulonprogo Dipolisikan

GALUR (MERAPI)-  Gara-gara menuliskan status yang berisi penghinaan terhadap elite partai politik (parpol) PDIP beserta tokoh-tokohnya, seorang pengguna media sosial

Close