Di Masa Transisi, Petani Butuh Penyesuaian Sistem Kartu Tani

KARANGANYAR (MERAPI) – Dinas Pertanian dan Pangan Karanganyar mendapati stok pupuk subsidi belum terserap ke petani secara sempurna usai pemberlakuan sistem kartu tani. Ditengarai, petani belum semuanya memahami pembeliannya melalui sistem nontunai pembelian barang subsidi.

“Hasil cek secara acak ke pengecer yang melayani pupuk subsidi bersistem kartu tani di Jumapolo, Jumantono dan lainnya, mendapati banyak keluhan. Biasanya, petani bingung memakai kartu itu. Maka, kami minta pengecer membantu menjelaskan pemakaiannya. Sebenarnya pasokan lancar. Tidak ada yang kosong,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Supramnaryo, Selasa (1/5).

Petani yang masing canggung melakukan pembelian nontunai supaya meminta bantuan anggota kelompok taninya atau mantri tani desa. Ia menegaskan petani jangan memaksakan diri membeli pupuk subsidi di luar ketentuan, misalnya mencari barang di luar jatah dari kabupaten tetangga.

“Tidak bisa dipungkiri, tingkat pemahaman petani berlainan. Ada yang sudh seopuh dan tak tahu cara beli nontunai, sebaiknya dibantu oleh yang muda-muda,” katanya.

Selain faktor tersebut, Supramnaryo menemukan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) di sejumlah lokasi kurang pas. Padahal dasar menebus pupuk bersubsidi adalah RDKK. Supramnaryo melaporkan bahwa sebanyak 60.500 petani dari total 66.000 petani di Karanganyar sudah memiliki kartu tani. Sisanya 5.500 petani dalam proses mendapatkan kartu tani. Perinciannya adalah 1.500 petani sedang proses mendapatkan kartu tani. Sebanyak 4.000 petani sedang dilakukan pendataan.

“Akhir bulan April, yang 4.000 ini selesai. Kami minta penyluh mendampingi penyaluran pupuk. Pendataan [petani] di 17 kecamatan sudah jalan sampai tahap tiga. Harapannya tidak ada petani yang belum menebus pupuk,” tutur dia.

Seiring pembagiankartu tani, pemerintah bekerjasama dengan perbankan membangun sistem transaksi penjualan pupuk subsidi. Sejauh ini terdapat 183 pengecer yang dijatah mesin electonic data capture (EDC) dari mitra perbankan. Adapun alokasi pupuknya untuk urea 20.000 ton, SP36 5.285 ton, ZA 7.700 ton, NPK 17.500 ton, dan petroganik 8.500 ton. Supramnaryo mengklaim penyaluran sekarang hampir 30 persen. Dia mengklaim sebanyak 183 pengecer di Karanganyar sudah mendapatkan mesin EDC dari BRI. (Lim)

Read previous post:
Pencairan Dana Bantuan Tertunda, Tinggal 25 Desa Belum Selesaikan APBDes

SUKOHARJO (MERAPI) - Tinggal 25 desa dari 125 desa di 11 kecamatan di Sukoharjo yang belum menyelesaikan APBDes. Akibatnya desa

Close