JALUR DEANDELS MEMBELAH KAWASAN PURWOREJO (3) – Jalan Lurus Kental Nuansa Gaib

MERAPI-SUJONO Jalan Deandels, lurus mulus kerap makan korban.
MERAPI-SUJONO
Jalan Deandels, lurus mulus kerap makan korban.

Dari jalan sepanjang 130-an kilometer tersebut, pada jalur dari jembatan Congot (Kulonprogo) di sebelah timur, hingga ke barat sampai jembatan sungai Wawar, yang merupakan perbatasan Purworejo-Mirit (Kebumen), dengan panjang mencapai 40 kilometer, dikenal sebagai jalur maut.

MENURUT Wagiman (43), warga yang tinggal di sisi utara jalan Deandels, sebutan jalur maut tersebut muncul, dikarenakan, pada jalur tersebut sering terjadi kecelakaan lalu lintas. Banyak korban berjatuhan di jalur Deandels, terutama di daerah Wonosari (masuk wilayah Kecamatan Ngombol).

Masih ingat dalam benak Wagiman, kecelakaan pada Jum’at (24/11) silam, masuk wilayah Wonosari. Dimana pada saat itu, sebuah truck diesel tiba-tiba saja banting stir ke kanan, hingga menabrak bis pariwisata Efisiensi, yang mengangkut rombongan siswa SD dari Cilacap.

Karena kecelakaan itu, menjadikan bis terguling hingga melintang di jalan. Kecelakaan maut itu memakan tumbal. Si kernet truk, yang bernama Sigit (23), warga Sukorini, Prambanan, Klaten, tewas.

Cerita Wagiman, pada hari yang sama, juga terjadi kecelakaan serupa di jalur tersebut. Sebuah truk menabrak sepeda motor. Lokasinya, juga masih berdekatan, yakni di Desa Wonosari. Dan pada minggu itu, kecelakaan terus terjadi.

“Ada truk yang tiba-tiba saja terguling. Ada juga yang tiba-tiba saja masuk parit. Semua terjadi di jalan Deandels,” cerita Wagiman, yang selalu menyempatkan diri untuk melihat kecelakaan tersebut.

Secara kasat mata, kata Wagiman, sering terjadinya kecelakaan di jalur Deandels mungkin saja karena faktor manusia (human eror). Itu dikarenakan, jalan Deandels memang lurus dan mulus, serta sepi, menjadikan siapa saja yang melewatinya akan ‘terlena’.
Hal ini bisa mengakibatkan si pengendara mengantuk. Jalan yang lurus dan mulus, justru membuat konsentrasi si pengendara jadi buyar. Namun Wagiman justru punya pandangan lain. Dia menilai justru ada faktor X di balik semua itu. Faktor X itu, ada kaitannya dengan dunia gaib.

Dari pengakuan beberapa pengemudi yang pernah ditemui Wagiman, ada beberapa diantaranya yang terkesan tidak masuk akal. Cerita Wagiman, seorang sopir travel jurusan Bandung-Jakarta pernah mengalami keanehan. (Sujono/Jbo)

 

Read previous post:
PENEMPATAN LEBIHI TARGET – Jumlah Pencari Kerja di Gunungkidul Meningkat

WONOSARI (MERAPI) - Jumlah pencari kerja di Kabupaten Gunungkidul cukup tinggi. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) mencatat, tahun ini

Close