Tuntut Pak Dukuh Mundur, Warga Satu Dusun Ancam Boikot Pemilu

MERAPI-SAMENT0 SIHONO Spanduk penolakan kepala dukuh terpasang di sudut Dusun
MERAPI-SAMENT0 SIHONO
Spanduk penolakan kepala dukuh terpasang di sudut Dusun

GAMPING (MERAPI)- Ratusan warga di Dusun Depok, Ambarketawang, Gamping, Sleman diklaim menolak ikut pendataan berupa pencocokan dan penelitian (Coklit) pemilih Pemilu 2019. Penolakan itu sebagai protes kepada kepala dukuh setempat karena tak juga mundur dari jabatannya karena tak disukai warga. Mereka bahkan mengancam tak ikut pemilu 2019 jika kepala dukuh tak mundur sebelum coblosan.
Protes diawali dengan penempelan tulisan penolakan kehadiran Panitia Daftar Pemilih (Patarlih) di depan rumah warga sejak beberapa hari terakhir.
Ketua Forum Peduli Depok Adi Triyamto (55) mengatakan, aksi ini dilakukan atas ketidakpuasan dengan kepemimpinan dukuh. Menurutnya, warga meminta Dukuh setempat, Haris Zulkarnaen untuk turun dari jabatannya.

“90 persen warga Dusun Depok menolak (pendataan). Jumlahnya hampir 400-500 KK. Jumlah pemilih di sini sekitar 750 orang. Kami tidak menolak ikut Pilpres, tapi dukuh diganti dulu baru ikut Pemilu,” ujar Adi kepada wartawan, Jumat (27/4).
Akibat aksi warga ini, petugas Patarlih pun tidak dapat melakukan pendataan hak pemilih lantaran ada beberapa prosedur yang belum dilakukan sebelum Coklit, seperti sosialisasi dan pertemuan RT. Pasalnya sebelum dukuh dilantik, RT/RW sudah vakum, dan tidak terbentuk lagi.
“Sampai saat ini sembilan bulan setelah dukuh memimpin, pak dukuh tidak bisa bekerja sesuai harapan warga. Tidak ada sosialisasi pertemuan dan pembentukan RT/RW,” katanya.
Menanggapi aksi warga ini, Haris Zulkarnaen menjelaskan bahwa tulisan penolakan kehadiran Pantarlih tersebut dilakukan oleh oknum masyarakat, bukan pemilik rumah. Ia pun menegaskan tetap akan menjalankan amanah sebagai dukuh dan menolak mundur.

“Sebenarnya itu yang menempel bukan pemilik rumah, hanya oknum warga. Pantarlih itu bukan ketugasan dukuh,” jelasnya.
Menurutnya, jika warga tidak puas dengan kepemimpinannya, diharapkan bisa menempuh jalur yang sesuai prosedur, semisal lapor ke Inspektorat, bukan dengan berdemo. “Kalau tidak suka silakan lewat jalur yang ada,” katanya.
Sementara itu salah seorang warga RT 01 RW 30 Dusun Depok, Muryanto (41) menjelaskan, protes warga disebabkan kepala dukuh tidak mampu mengemban amanah secara adil, salah satunya perihal bantuan. Menurutnya, adanya penolakan Pantarlih itu merupakan kesepakatan warga bersama.
“Bantuan-bantuan pilih kasih. Kami meminta dukuh dijabat oleh orang yang memang dipilih masyarakat, karena sebelumnya seleksi dukuh melalui sistem tes,” harapnya.
Tulisan yang sudah dipasang di rumah-rumah warga sejak Senin (23/4) tersebut juga merupakan lanjutan dari aksi demo warga yang telah dilakukan sekitar lima kali dari tingkat dusun hingga kecamatan. Meski demo sudah sering dilakukan, namun Haris Zulkarnaen bergeming dan tetap menolak mundur.(Shn)

 

Read previous post:
Tunggal Putri UNS Dominasi Semifinal

  SOLO (MERAPI) - LIMA Badminton: Kaskus Central Java and Special Region of Yogyakarta Conference (CJYC) – Surakarta Subconference 2018

Close