Petugas Angkasa Pura I Diteriaki Maling Oleh Warga Penolak Bandara

MERAPI-AMIN KUNTARI Petugas mendatangi rumah warga untuk menyerahkan SP3
MERAPI-AMIN KUNTARI
Petugas mendatangi rumah warga untuk menyerahkan SP3

TEMON (MERAPI) – Sesuai tenggat waktu yang sudah ditetapkan, Petugas dari PT Angkasa Pura I mengantarkan Surat Peringatan ketiga (SP3) terkait perintah pengosongan lahan pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) kepada warga penolak di Desa Palihan dan Desa Glagah, Temon, Rabu (25/4). Namun upaya tersebut justru disambut sikap yang tidak mengenakkan dari warga. Bukan hanya menutup pintu dan menolak menerima surat, mereka juga membunyikan kentongan titir bahkan berteriak maling kepada petugas.
Menurut keterangan, SP3 pertamakali diserahkan petugas kepada keluarga Tugiman di Desa Palihan. Namun begitu petugas tiba di kediaman Tugiman, anggota keluarganya langsung menutup pintu sembari mengatakan bahwa pemilik rumah tersebut tidak ada di tempat.

Sejumlah warga penolak anggota Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP) yang sedang berkumpul di rumah Sumiyo pun tak tinggal diam. Mereka berteriak-teriak menyatakan tidak menjual rumah dan lahan untuk pembangunan bandara NYIA. Warga bahkan mengusir petugas dan melarang wartawan mengambil gambar.
Situasi semakin ramai manakala seorang ibu memukul kentongan yang menggantung di teras rumah tersebut dengan nada titir. Seperti diketahui, kentongan titir merupakan cara untuk memberitahukan adanya bahaya. Sejumlah warga bahkan berteriak maling kepada petugas.
“Maling… Maling..pergi sana!,” teriak warga.
Tak berselang lama setelah kentongan dipukul, sejumlah warga berdatangan ke lokasi tersebut. Petugas kemudian memutuskan untuk pindah ke rumah lain.

Sedianya, ada 71 surat yang harus diserahkan petugas kepada warga penolak di Dusun Kragon II Desa Palihan serta Dusun Bapangan, Sidorejo dan Kepek di Desa Glagah. 21 surat di antaranya terpaksa dititipkan ke Pemerintah Desa Glagah karena penerimanya tidak bisa ditemui. Surat tersebut berisi perintah agar warga segera mengosongkan rumah yang saat ini mereka tinggali, demi kepentingan pembangunan Bandara NYIA.
“Bidang-bidang tanah ini ahli warisnya banyak, sebagian ada yang di luar kota. Sementara surat yang bisa diserahkan tetap diupayakan,” kata Dukuh Kepek, Hari Subagyo.

Sementara itu, Pimpinan proyek pembangunan Bandara NYIA dari PT Angkasa Pura I, Sudjiastono menegaskan, setelah ganti rugi lahan warga dititipkan melalui pengadilan, maka lahan tersebut sudah beralih menjadi milik negara, dalam hal ini untuk pembangunan Bandara NYIA. Artinya, sertifikat tanah yang dipegang warga sudah tidak berlaku lagi.
“Walaupun ada cap garuda, sertifikat warga tersebut tidak berlaku lagi. Kalau tidak percaya silahkan warga bertanya kepada pengadilan, BPN atau pemerintah daerah,” tegas Sudji. (Unt)

 

Read previous post:
CU Dharma Bakti Tularkan Sikap Hidup Tolong Menolong

PERAN koperasi dalam sendi kehidupan masyarakat kita memang masih banyak dibutuhkan. Terlebih keberadaan koperasi simpan pinjam dalam rangka membangun ekonomi

Close